Uncategorized

Agency Seringnya Begini

Ini bukan tentang agency artis, apalagi artis-artis Korea yang agency-nya doyan banget bikin polemik *cek my header. Tapi, ini tentang agency penulis, editor, layouter, dan orang-orang yang kerja di seputaran itu.  Kita sebut aja mereka sebagai pekerja naskah.
Seiring banyaknya orang yang pengen jadi penulis dan menjamurnya penerbit, muncul agency-agency naskah yang jadi perantara antara dua kutub itu. Ada agency yang fungsinya nawarin naskah dari penulis ke penerbit-penerbit, ada juga agency yang cari penulis buat ngerjain buku pesanan penerbit.
Keberadaan mereka membantu banget buat penulis dan penerbit. Penulis yang gabung di agency, khususnya agency model yang ke dua, udah dapet kepastian kalau naskah yang dia tulis akan terbit. Sedangkan, penerbit juga diuntungkan karena gak perlu repot-repot lagi nunggu naskah yang sesuai. Malah ada agency yang melengkapi pasukannya dengan tim editor dan layouter. Jadi, penerbit tinggal tahu cetak.
Sebenernya, sistem ini enak. Tapi, kadang jadi gak enak buat orang-orang yang kerjasama sama agency itu. Karena ini pesanan, mereka akan kerja dengan waktu yang terbatas, bahkan kadang ada yang batas waktunya gak logis. Menjelang hari ngumpulin kerjaan, bermunculanlah pengingat-pengingat dari empunya agency yang bikin orang udah gak konsen lagi kerja karena berasa diudak-udak. Setelah kirim, baru deh berasa legaaa banget. Tinggal terima fee.
Rasulullah bersabda, “Bayarlah upah pekerjamu sebelum keringat mereka kering.”
Nah, prinsip ini gak dipake sama agency. Kalau pas ngerjainnya mereka ngudak-ngudak, soal bayar fee, mereka susah banget diudak. Jangankan buat ngejalanin hadits Rasulullah tadi, kadang keringat pekerja naskah sampai kering, terus keringatan lagi, kering lagi, keringatan lagi karena dikejar berbagai kebutuhan, tetap aja fee belum turun. Butuh waktu sekian bulan buat fee itu sampai di rekening.
Ini bener-bener ngusik aku. Toh, yang dikerjain bukan proyek yang setelah selesai baru ditawarin ke penerbit, yang bisa diterima bisa juga nggak. Tapi, ini proyek permintaan penerbit, yang udah jelas kalau mereka akan bayar. Agency pasti udah punya perhitungan standar tentang fee pekerjan naskah dan udah disepakati. Deal harga beli naskah jadi sama penerbit juga udah. Terus, nyangkutnya di mana?
Seringnya, agency beralasan, uangnya dari penerbit belum turun, belum dibayar, dan baru akan dibayar sekian bulan kemudian. IMHO, misalkan udah punya kesepakatan yang jelas antara penerbit-agency-pekerja naskah, agency yang bener akan modalin dulu buat fee pekerjanya. Kelak, kalau dari penerbit turun, fee itu buat dia semua, buat gantiin uangnya yang udah keluar.
Tapi, jaraaaang banget agency yang kayak begitu. Aku mungkin baru tahu satu agency aja. Rata-rata, agency milih nunggu buat dibayar sama penerbit baru dia menunaikan hak-haknya ke pekerja naskah. Entahlah apa mereka takut penerbit kabur dan gak bayar setelah naskah selesai, bukan kapasitas aku buat ngeduga-duga. Yang jelas, prinsip yang mereka jalanin kayak begini gak sejalan sama hadits Rasulullah dan cenderung mengabaikan hak-hak orang lain.
Pekerja naskah ngerasa dizholimi? Iya banget. Bukan satu atau dua orang yang cerita. Yang ebih bikin mereka kesel adalah kalau sampai agency-nya bilang, “Mending juga dibayar ntar, yang penting ada kepastian terbit. Daripada kirim sendiri ke penerbit.” Ya udah, akhirnya pekerja naskah milih bersabar dan nyari-nyari kerjaan lain lagi.
Ini udah kayak lingkaran setan. Pekerja naskah ngerasa dizholimi, tapi karena mereka butuh, mereka mau lagi kerja sama agency. Agency, ngerasa pekerja naskah butuh mereka, ya berlaku seenaknya. Penerbit, yang jadi ujungnya masalah kayak gak mau peduli yang penting naskah dateng ke mereka udah dalam kondisi siap cetak. Kalau gak ada yang mau ngedobrak sistem, gak ada agency dan penerbit yang punya niatan baik buat jalanin sabda Rasulullah, seterusnya pekerja naskah jadi orang yang terzholimi.
Semoga orang-orang yang berkepentingan senantiasa inget sabda Rasulullah itu supaya ada kerjasama yang baik, saling menguntungkan, dan gak saling menzholimi.

Komen, Kuy!

%d blogger menyukai ini: