Uncategorized

Alamat Palsu: Sebuah Drama Dari Muscab FLP Jakarta

Sebagai anggota FLP Jakarta, hal yang paling saya inginkan dari kegiatan Musyawarah Cabang adalah bebas drama. Bebas dalam artian kegiatan benar-benar terbebas dari drama apapun yang mengganggu kelancaran, bukan bermakna siapapun bebas main drama di Muscab. Berkali-kali saya mengikuti Muscab FLP Jakarta, kegiatan itu nyaris selalu berjalan dengan drama; mulai dari drama munculnya orang-orang omdo, penolakan kandidat, pemaksaan KPU, dan lain-lainnya yang tentu sangat menguras emosi.

Muscab 2017 ini, KPU berusaha meminimalisir aneka drama tersebut, terutama drama penolakan namanya dimasukkan menjadi calon ketua FLP Jakarta. Karena itu, KPU meniadakan pemilihan awal melalui e-mail, dan semua mekanisme pemilihan berlangsung di lokasi Muscab. Kandidat yang bisa dipilih adalah yang memenuhi syarat dan hadir pada saat Muscab dilaksanakan.
Dan benar, Muscab berjalan lancar, tanpa ada drama apapun, setidaknya sampai ketok palu LPJ Ketua FLP Jakarta periode 2015-2017 diterima.
Lalu drama itupun dimulai. Sesaat menjelang penyerahan LPJ dari Ketua FLP Jakarta periode 2015-2017 ke ketua KPU, orang-orang di sisi kiri meja KPU berisik, kasak-kusuk, minta penyerahan ditunda. Kesal? Sudah pasti. Karena pasti ada drama. Tanpa adanya drama, buat apa penyerahan ditunda? Ketua FLP Jakarta 2015-2017 dan Ketua KPU sama-sama sudah ada di tempat. Tapi, siapa yang bikin drama itu?
Dialah orang yang tak pernah diduga akan membuat drama.
Alkisah, menjelang Muscab, Sekretaris Panitia sibuk kirim undangan melalui surel. FLP Wilayah Jakarta Raya dan cabang-cabang yang bernaung di bawahnya termasuk prioritas utama pengiriman undangan. FLP Wilayah diutamakan karena kehadiran perwakilan mereka adalah syarat sahnya Muscab menurut AD/ART FLP.
Sebelum memulai proses kirim undangan, Sekretaris Panitia menanyakan alamat e-mail undangan-undangan itu di grup panitia. Barangkali, ada panitia lain yang tahu, jadi tidak minta ke yang bersangkutan lagi. Kan lucu juga, mau kirim undangan tapi masih tanya alamat. Sayang, yang menjawab pertanyaan itu cuma sedikit.
Hingga tiba saatnya Muscab. Ada Mbak Ani di situ. Mbak Ani adalah pengurus wilayah FLP Jakarta Raya, pernah jadi anggota FLP Jakarta, dan tergabung dengan panitia Muscab sebagai sie konsumsi. Yah, sudah ada perwakilan dari FLP Wilayah. Muscab sudah bisa dimulai.
Tepat sebelum penyerahan LPJ dari Ketua FLP Jakarta 2015-2017 ke Ketua KPU, sidang terpaksa diskors. Ada yang marah-marah, merasa FLP Jakarta menggelar Muscab tanpa sepengetahuannya, karena dia merasa tidak dikirimi e-mail. Dia bilang, Muscab tidak sah, dan harus diagendakan ulang. Mbak Ani sepakat dengan hal itu. Katanya, Muscab FLP Depok digelar ulang, meski yang hadir jauh lebih sedikit.
Ucapan itu keluar setelah panitia dan KPU protes dengan wacana penjadwalan ulang. Tentu saja hal itu beralasan. Mengumpulkan lebih dari 30 orang anggota FLP Jakarta bukan perkara mudah. Masing-masing mereka pun mengorbankan banyak hal untuk bisa datang ke Muscab. Sayang rasanya kalau pengorbanan mereka sia-sia hanya demi satu orang. Lagipula, di tempat Muscab sudah ada Mbak Ani, yang pengurus FLP Wilayah, sudah memenuhi syarat yang diundang-undangkan.
Mbak Ani lalu berdalih, kalau dia tidak diutus oleh Ketua Wilayah untuk menjadi perwakilan di Muscab.
Saya? Melongo! Kenapa baru bilang? Tadi, waktu ada peserta tanya tentang kehadiran pengurus FLP Wilayah, dan kami sebut namanya, dia tidak protes. Dia ada di situ, di tempat Muscab.
Pertanyaan langsung tertuju ke Sekretaris Panitia yang mengirimkan surat. Dia bilang, surat sudah dikirim ke e-mail FLP Wilayah. Dia juga bisa menunjukkan surat yang sudah dia kirim. Dan Mbak Ani bilang, alamat e-mail FLP Wilayah sudah ganti sejak setahun lalu. Kali ini dia menyalahkan Pak Arya, Ketua FLP Jakarta 2015-2017, karena katanya alamat e-mail yang baru sudah dipublikasikan di grup ketua-ketua FLP Cabang, yang anggotanya cuma lima orang.
Ingin ketok rasanya. Pak Arya mana ngeuh dengan postingan di grup ketua-ketua FLP Cabang? Apalagi setahun lalu. Pekerjaan kantornya superhectic. Saya tahu karena pernah ada di kantor yang sama. Lalu, saat kemarin Sekretaris Panitia menanyakan alamat e-mail untuk undangan, kenapa tidak dijawab?
Dan sang Ketua masih dengan dramanya, keukeuh tidak sah dan harus diulang, meskipun di tempat itu sudah ada pengurus FLP Wilayah.
Lalu KPU, beberapa orang panitia, senior FLP Jakarta, dan seorang pengurus FLP Pusat menggelar rapat dadakan. Tujuan awalnya meminta saran dari pengurus FLP Pusat. Terungkap saat itu kalau Ketua FLP Wilayah sebenarnya sudah tahu kalau FLP Jakarta akan Muscab, karena ada pembicaraan secara lisan. Pak Arya masih berusaha melobi si Ketua Wilayah. Tapi, dia tetap dengan pendiriannya.
Kami di ruangan itu lalu berdiskusi. Kata seorang pengurus FLP Pusat itu, kalau urusan melanggar peraturan, banyak peraturan yang sudah dilanggar. Jangan terlalu saklek karena FLP bukan organisasi yang sangat ketat dengan peraturan. Seorang senior FLP Jakarta juga menambahi, kalau FLP masih bertahan hingga saat ini karena peraturannya yang longgar. Semua pengurus adalah relawan, tidak berbayar.
Diputuskan oleh kesepakatan di ruangan itu, kalau Muscab akan dilanjutkan dan diselesaikan pada hari itu. Jika Ketua Wilayah tidak mau mengakui hasil Muscab itu, maka penyelesaiannya akan dibawa ke pengurus pusat. Hampir semua yang ada di situ mau bertanggungjawab dengan keputusan yang dibuat. 
Setelah Sekretaris Panitia mengirimkan ulang undangan ke e-mail yang benar -dan itupun butuh waktu cukup lama- Ketua Wilayah sedikit melunak. Dia akan datang setelah Ashar, tapi proses Muscab harus diulang dari awal. Permintaan untuk mendelegasikan kepada Mbak Ani, pengurus wilayah yang sudah ada di situ, tidak mendapat respon. Dia ingin datang sendiri! Lalu, kami memutuskan kalau Muscab tetap berjalan dan tidak diulang.
Dalam diskusi dengan beberapa orang, kami menyayangkan sikap saklek seorang ketua. Jika dia memilih datang berbekal undangan lisan dari seorang senior, lalu baru menanyakan undangan yang tidak dia terima itu, pasti urusan tak akan ribet.
Lalu, saya berpikir lagi, apa dia tidak percaya pada pengurus lain sampai harus datang sendiri dan memastikan semua proses diulang? ART FLP Pasal 20 poin 1 hanya mensyaratkan kehadiran utusan FLP Wilayah. Utusan, bukan harus ketuanya. Entah dari mana dia dapat fatwa kalau Muscab tidak sah tanpa kehadirannya.
Lagi, ada satu poin dari pasal 20 ART itu yang tidak jelas, yaitu syarat anggota aktif. Dengan pembatasan yang kami buat, kami beranggapan, 30 orang lebih yang hadir sudah memenuhi kuorum minimal, yaitu separuh jumlah total anggota aktif ditambah satu orang. Jika hanya karena dla seorang lalu Muscab harus diulang dan pesertanya kurang, bukankah jadi melanggar poin yang merupakan “syarat sah”? Sementara, kehadiran Ketua Wilayah bukan “syarat sah”, utusannya pun cukup. Jadi, kalau kita berbicara AD/ART, mana yang jelas-jelas melanggar “syarat sah”?
Muscab kembali berlangsung dengan agenda semula. Pemilihan Ketua FLP Jakarta 2017-2019 berlangsung. Menjelang Ashar, datanglah Sang Ketua Wilayah, dan langsung disambut oleh senior FLP Jakarta. Entah apa yang mereka bicarakan di luar. Yang jelas, setelah itu peserta Muscab istirahat dan salat Ashar.
Setelah salat Ashar, persidangan belum dilanjutkan. Menunggu senior FLP Jakarta, yang melobi sang Ketua Wilayah, hadir dan membawa keputusan tentang apa yang harus kami lakukan; apakah akan mengulang dari awal atau melanjutkan. Senior itu lalu kembali ke ruang sidang, dan membawa keputusan kalau persidangan dilanjutkan tanpa mengulang dari awal. 
Muscab pun kembali dilanjutkan dengan agenda pelantikan Ketua FLP Jakarta periode 2017-2019. Entah bagaimana caranya Mas Senior ini melobi. Tapi, yang jelas, Ketua Wilayah sudah tidak lagi se-keukeuh tadi. Meskipun dalam pidatonya dia masih merasa tidak dikirimi undangan, yang penting tidak ada penjadwalan ulang dan tidak harus mengulang Muscab dari awal.
Menutup postingan ini, saya teringat oleh sebuah doa yang dibacakan oleh Mas Sokat menjelang presentasi program kerjanya pada Muscab 2011. Semoga kita semua dapat mengambil ibroh dari doa tersebut.
“Ya Allah, jadikanlah aku orang banyak bersyukur, dan jadikanlah aku banyak bersabar, dan jadikanlah aku kecil di mataku dan besar di mata manusia.” (HR. Al-Bazaar)
*no pict ah
*gaya nulis gw ngapa jadi kayak si Pisang? 😒

2 Comments

Komen, Kuy!

%d blogger menyukai ini: