Let's Talk

Annabelle Yang Aku Kenal

Teman-teman pasti tahu siapa itu Annabelle. Yupz! Sosok boneka berhantu yang meneror orang-orang di film yang judulnya sama dengan namanya. Film Annabelle pertama jadi box office. Film ke duanya baru-baru ini makan korban, ada orang kesurupan waktu nonton.
Seseram-seramnya sosok Annabelle, teman-teman cuma bisa lihat dia di bioskop atau televisi kalau diputar ulang. Tapi, pernah gak teman-teman bayangin ketemu Annabelle di dunia nyata? Iya, ketemu boneka dengan sosok kayak gitu.

Aku? Aku memang belum pernah membayangkannya sedikit pun. Tapi, aku pernah melihatnya, bertahun-tahun sebelum film Annabelle pertama tayang. Aku gak tahu namanya. Tapi, melihat cuplikan film Annabelle, aku rasa ada kemiripan antara mereka.
Ceritanya, hari perpulangan untuk anak SMP. Sejak pulang sekolah, seorang adik kelas blasteran Jepang terus mengikutiku. Dia Annabelle? Bukan! Namanya Fuyuko. Hari itu, dia menunggu pamannya menjemput.
“Kakak, kalau Om aku gak jemput, gimana ya?” tanyanya, selagi kami menunggu kedatangan pamannya di bawah pohon rindang.
“Kenapa?”
“Teman-teman kamar aku pulang semua.”
“Ya udah, tidur di kamar aku aja,” putusku.
“Boleh, Kak?”
“Boleh.”
Kami menunggu sampai malam, diselingi shalat di masjid dan makan. Pukul sembilan sudah lewat. Paman Fuyuko belum datang. Aku mengajaknya menunggu di kamar saja karena di bawah pohon
banyak nyamuk. Di gedung A kamar 15, kamarnya pengurus asrama, aku menemani Fuyuko menunggu pamannya sambil ngobrol di atas tempat tidurku, yang berada di sisi atas, tempat tidur tingkat.
Fuyuko sudah tidur waktu pamannya datang. Pengurus Tamu yang memberitahu. Aku sudah berpesan pada teman-teman Pengurus Tamu supaya mencari Fuyuko di kamarku, jika pamannya datang. Aku bangungkan Fuyuko. Dia senang karena hari itu bisa pulang, sekalipun ke rumah pamannya.
“Maaf ya Kak, gak jadi nginep,” kata Fuyuko waktu aku antar ke pintu kamar.
“Gak apa-apa. Yang penting Omnya dateng.”
Malam itu, Fuyuko pulang ke rumah pamannya, diantar Pengurus Tamu dari kamarku sampai bertemu pamannya. Aku bersiap-siap tidur. Asrama sepi karena sebagian besar penghuninya pulang ke rumah masing-masing. Hanya kamarku yang penghuninya lengkap, karena kami murid SMA dan pengurus asrama juga. Setelah membaca beberapa halaman buku, aku tertidur.
“Kakak, bangun. Itu ada suara apa? Aku takut.”
Suara itu singgah berkali-kali di telingaku, dalam kondisi antara sadar dan tidak. Itu suara Fuyuko! Meski mataku masih terpejam, aku bisa merasakan tubuhnya ada di sebelahku, juga ketakutannya akan denting nyaring dan suara keras mirip mesin mobil dipanaskan yang aku juga mendengarnya. Aku memutuskan untuk membuka mata dan ingin memeluknya. Mungkin, ketakutannya bisa reda.
Tapi, inilah kenyataannya! Aku sendiri. Tak ada Fuyuko di sebelahku. Kosong! Sementara, denting dan suara keras mesin mobil yang Fuyuko takuti masih terdengar. Bulu kudukku meremang. Sebelum aku membuka mata, sosok Fuyuko dan suaranya benar-benar nyata. Aku sadar, pasti Fuyuko sudah nyenyak di rumah pamannya. Sedangkan aku? Gemetar di sudut tempat tidur.
Fuyuko tak pernah tahu cerita itu. Aku tak pernah menceritakan hal itu padanya, sedikit pun. Tapi, tiap bertemu, aku selalu berusaha memastikan dia benar-benar Fuyuko, dan aku benar-benar dalam kondisi sadar. Cukup sekali aku “Fuyuko” menemaniku. Jangan sampai ada kejadian berikutnya. Sekolahku memang banyak makhluk-makhluk begitu. Terserah, mereka mau menunjukkan diri jadi apa, yang penting jangan menyerupai temanku, begitu yang aku pikirkan. Sampai suatu hari, Fuyuko mengajakku menginap di kamarnya.
“Kakak nginep di kamar aku, ya,” pintanya, waktu hari perpulangan.
“Kamu gak pulang?”
“Gak, Kak. Om lagi tugas di luar kota.”
“Oh… oke.”
Jadilah, aku bersama Fuyuko sejak selesai shalat Isya berjamaah. Kamarnya di lantai bawah asrama G memang kosong. Teman-temannya pulang semua. Kami ngobrol ini-itu, meski tidak sampai larut malam. Asramanya bukan area aman dari makhluk-makhluk seperti itu. Lebih baik tidur cepat dan berdoa supaya nyenyak. Aku juga masih menyembunyikan rapat-rapat tentang “Fuyuko”.
“Kakak tidur di sini aja, sama aku,” kata Fuyuko, waktu aku lagi pilih-pilih kasur untuk aku tempati malam ini.
Fuyuko memintaku tidur bersamanya, di bagian atas tempat tidur tingkat, dan bersisian dengan jendela. Persis seperti di kamarku. Aku perhatikan lagi Fuyuko. Aku tidak mau kalau ternyata nantinya aku tidur sama “Fuyuko” lagi. Kalau ternyata itu “Fuyuko”, artinya aku sebenarnya sendirian di kamar itu, cuma ditemani demit. Big no! Aku pastikan, aku benar-benar sadar, dan orang yang bersamaku benar-benar Fuyuko.
Kami berbagi tempat tidur asrama yang sempit. Aku tidur di sisi yang dekat dengan jendela, sementara Fuyuko memilih sisi yang menghadap tempat tidur temannya. Suasana benar-benar sepi, karena hampir seluruh penghuni asrama pulang ke rumah. Hanya sisa beberapa anak daerah. Tapi, tidak di kamar itu.
Dan malam itu, aku bertemu Annabelle!
Tengah malam. Tidurku terganggu karena ada suara di sebelah tembok kamar Fuyuko. Aku menganggapnya wajar, karena kamarnya berada di lantai bawah. Waktu itu, aku lupa kalau ada perpulangan, dan saat itu tengah malam.
Suara itu berisik. Seperti orang menjemur cucian di kayu-kayu penyangga genteng luar asrama. Jadi, di asrama kami, sisi kiri-kanan tiap lantai ada gentengnya. Penghuni asramanya Fuyuko lebih suka menjemur di situ daripada ke tempat jemuran resmi. Aku buka mata, dan melihat ke arah luar sambil tiduran. Tidak ada yang aneh. Hanya ada langit gelap dan lewa panjang untuk meletakkan gantungan di kayu.
Otakku mulai sadar sedikit-sedikit. Aku penasaran, siapa yang jemur cucian malam-malam, dan cuma ada lewa, tanpa ada cucian yang tergantung. Tapi, bunyinya berisik, seperti orang menaruh gantungan cucian di kayu. Tanpa pikir panjang, aku duduk, dan melongok ke luar, tepatnya ke ujung lewa panjang itu.
Annabelle!
Iya, itu Annabelle! Dia menatap ke arahku sambil tersenyum menyeringai. Tidak perlu aku jelaskan seperti apa wujudnya. Persis seperti Annabelle di film, hanya ukurannya saja yang sebesar manusia dewasa. Seringainya, tatapannya, aku freeze beberapa detik. Tidak ada ayat-ayat atau kalimat thayyibah keluar dari mulutku demi mengusir dia. Aku kelu. Kami sempat saling menatap, seakan dia memintaku mengingat wajahnya.
Hingga kebekuan itu berakhir. Kesadaranku kembali penuh. Cepat-cepat aku mendaratkan diri di kasur lagi, dan mentup wajahku dengan bantal. Setiap kali aku memejamkan mata, gambaran wajahnya muncul di pelupuk mataku. Wajahnya benar-benar masuk dalam pikiranku.
Malam itu, aku tak bisa tidur nyenyak. Di sebelahku, Fuyuko betulan lelap tanpa terganggu sedikit pun. Aku juga tidak mau membangunkannya. Dia bisa ketakutan tiap malam sampai perpindahan kamar lagi.
Bertahun-tahun. Ingatanku tentangnya mulai menguap, meski dia pernah datang lagi, kali ini ke kamarku, untuk mencekik. Setelah aku lulus, dia benar-benar berada di kotak masa lalu yang tidak ingin aku buka.
Sampai suatu hari. Teaser film Annabell dirilis. Ceritanya tentang boneka berhantu. Aku memang penyuka film horor, tapi tidak suka penampakan. Jadi, aku perhatikan baik-baik setiap cuplikannya.
Dan muncullah sosok Annabelle. Ingatanku segera kembali. Wajah sosok di samping asrama G terlihat nyata.
Tidak salah lagi! Itu dia!
*pic cr Wallscover

One Comment

Komen, Kuy!

%d blogger menyukai ini: