antikurang piknik di Jakarta - Superduper Spesial
Lifestyle,  Travel

Bahagia Itu Sederhana: Antikurang Piknik di Jakarta

Marah-marah melulu? Kurang piknik, ya?”

Kata-kata itu pasti sering kita dengar. Malah, tak jarang juga kata-kata itu ditujukan ke diri kita. Hm… ada yang salah? Pasti! Tapi, apa?

Sebagai warga Jakarta, seharusnya aku berbahagia. Apalagi yang kurang? Mau jadi wirausaha, ada OK OCE dan segala pelatihan dan akses modalnya. Mau sekolah, ada KJP Plus. Mau beli rumah, pemerintah sedang menyiapkan rumah dengan DP Rp. 0. Telur mahal? Gubernur Anies Baswedan sudah menandatangai kerjasama pengadaan telur dengan Pemkab Blitar.

Sebagaimana pepatah, di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat, seperti itu juga slogan Gubernur Anies yang aku rasakan: di dalam kota yang maju, terdapat warga yang bahagia. Semuanya lengkap, kecuali satu yang belum menjadi program Gubernur: penyelamatan jomblo dari nyinyir tetangga.

Namun, tetap saja ke-hectic-an itu datang bersamaan dengan setumpuk tugas yang harus diselesaikan dan nyinyiran tetangga paskalebaran. Sebagai warga, tak mungkin aku meminta fasilitas itu dari Bapak Gubernur. Pekerjaan beliau saja sudah banyak. Aku berjanji pada diri sendiri, jika tugas itu sudah selesai, aku akan piknik solo.

Baca juga: Ini Dia 5 Kriteria Tempat Shopping Asyik

Jadi, beberapa hari lalu, aku memutuskan untuk piknik solo. Kalau mau dituruti keinginan, pasti inginnya piknik ke berbagai kota di Indonesia atau dunia. Tapi, sebagai rakjel, rakyat jelita, eh rakyat jelata, aku cukup piknik di dalam kota saja.

Tujuan aku kali ini adalah Jakarta Utara. Cukup jauh dengan rumahku yang ada di selatan. Tapi, ini demi menjamin piknikku tak terusik oleh ocehan-ocehan.

Rumahku berada di kawasan Menteng Atas, Jakarta Selatan. Di sini ada RPTRA di Jalan Batu, pun dekat juga dengan aneka taman, seperti Taman Menteng, Taman Surapati, Taman Kodok, dan Taman Lembang. Pusat perbelanjaan dan makan-makan juga dekat.

Tapi, aku memilih utara Jakarta, sebab dari mulai Kota Kasablanka sampai Taman Lembang, adalah wilayah tempat tetangga-tetanggaku beredar.

“Cha, piknik sendiri aja?”

“Boleh ikutan nggak, Cha?”

“Makanya, cari pacar biar piknik ada yang nemenin.”

Nah, kan? Bisa-bisa suasana hati makin berantakan gara-gara komentar tetangga. Dengan alasan keamanan dan kenyamanan, aku memilih tempat yang lebih jauh, sekaligus untuk menghirup udara yang berbeda.

 

Danau Sunter Timur

Sering aku memimpikan, kapan Jakarta punya danau keren seperti di luar-luar negeri, yang kita bisa duduk dengan santai di pinggirnya, tanpa khawatir ini-itu dan tanpa harus memakai masker untuk menghalangi aroma menyengat dari air danau yang pekat dan banyak sampah. Ya, awalnya itu masih sebatas mimpi sebelum aku menginjakkan kaki di Danau Sunter Timur.

Aku memilih moda Trans Jakarta sebagai sarana aku sampai ke tempat ini Alasannya, selain karena hemat, Trans Jakarta juga relatif aman. Aku bisa mengeluarkan ponselku di dalam bus, tanpa takut ada tangan jahil yang membawanya pergi.

Jujur, aku punya trauma dengan angkutan umum. Sewaktu masih kuliah, aku pernah melihat kejadian penjambretan ponsel tepat di depanku. Ceritanya, di Metromini ada perempuan main ponsel. Posisi duduknya di dekat pintu, lalu ada pengamen naik. Yang aku lihat, pengamen tadi memperhatikan perempuan yang duduk di kursi depan itu memasukkan ponselnya ke tas.

Lagu yang ia bawakan tak tuntas. Ia pergi ke belakang. Setelah perempuan itu mengeluarkan ponselnya lagi, karena mungkin dipikir pengamennya sudah turun, pengamen itu langsung ke depan dan merampas ponsel tersebut dan melompat turun. Cuma beberapa detik.

Rute yang aku ambil kali ini adalah: dari rumah aku naik feeder tujuan Stasiun Manggarai, lalu transit di Terminal Manggarai. Kemudian, aku naik Koridor 4 tujuan Dukuh Atas – Pulo Gadung, transit di Pramuka BPKP.

Dari situ, aku naik koridor 10 tujuan PGC – Tanjung Priok, Transit di Sunter Kelapa Gading, naik koridor 12, transit di Sunter Karya, lalu naik koridor 12 lagi yang arah sebaliknya.

Setelah turun di Sunter Boulevard Barat, jalan kaki kurang lebih lima belas menit.

Sejak adanya lomba renang antara Wagub Jakarta, Sandiaga Uno melawan Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti, Februari lalu, Danau Sunter berbenah. Danau, yang dulu aku tahu dipenuhi eceng gondok dan sampah, kini tertata indah dengan turap di pinggirnya yang menciptakan kesan rapi.

Aneka tenda-tenda pedagang berjejer di tepinya, di bawah rimbun pepohonan. Aku duduk di atas turap pinggir danau, sambil menghirup udara, menyesap Es Kepal Milo, dan bercengkerama dengan para kucing. Kalau saja aku tidak melihat apartemen yang menjulang tinggi, pasti aku akan terbawa suasana dan menganggap aku bukan sedang berada di Jakarta Utara.

Kalau dulu, aku tidak berani piknik sendirian dan selalu merasa tidak aman kala duduk sendirian di manapun, kini aku merasa aman dan nyaman di situ. Rasa itulah yang lambat laun membawa perasaan bahagia dan tenang, dan suasana hatiku berubah. Ah, tidak salah memang, kemajuan kota akan berimbas pada kebahagiaan warganya. Dan jangan lupakan sepeda bebek. Danau tanpa sepeda bebek bagai taman tak berbunga.

 

Danau Sunter Barat

Setelah puas bersantai dan melepas penat di Danau Sunter Timur, aku melangkahkan kaki ke Danau kembarannya, yang berada di sisi yang berbeda: Danau Sunter Barat. Bukan cuma Sumatera Barat yang punya danau kembar, Jakarta juga punya. Yang membedakan antara Danau Sunter Timur dan Danau Sunter Barat adalah perahu bebek. Di Danau Sunter Barat, tidak ada perahu bebek.

Tapi, tunggu dulu! Danau ini sudah cantik! Tahun 2017 lalu, saat temanku berkunjung, turap di sisinya masih polos warna abu-abu. Kini, penuh warna-warni yang sedap dipandang mata.

Beberapa orang duduk di tepiannya, bercengkerama sambil memancing. Sambil terus melangkah, aku mendengar mereka tertawa bahagia. Benarlah yang Cita Citata bilang, bahagia itu sederhana.

Bangku-bangku taman menghadap danau berjejer rapi. Bukan hanya untuk duduk, ada seorang pedagang yang terlelap melepas penat di bangku tersebut. Sepeda berisi dagangannya ia parkir tak jauh dari bangku tempatnya tidur, tanpa takut ada orang yang membawa lari beserta barang dagangannya. Ya, sesederhana itu bahagia.

Perjalananku terhenti di Masjid Ramlie Mustafa, sebuah masjid milik warga keturunan Tionghoa yang megah dengan arsitektur serupa Taj Mahal. Ada yang harus aku tunaikan di sini, di siang ini.

 

Kali Besar

Satu tempat lagi yang menjadi tujuanku. Jujur, kalau lagi bad mood, rasa hati ingin ke Sungai Han. Ya, sebagai penyuka Korea, tepi Sungai Han memang jadi impian melabuhkan diri saat suasana hati berwarna abu-abu ke arah hitam. Tapi, apalah daya, untuk ke Korea butuh tiket dan akomodasi yang biayanya tidak sedikit. Karena tidak ada saku yang bisa aku kuras, jadilah aku piknik ke Kali Besar di kawasan Kota Tua.

 Secara bahasa, Han juga berarti besar (meskipun nanti akan ada bentukan-bentukan lainnya). Jadi, Kali Besar memiliki makna yang sama dengan Sungai Han. Bila Sungai Han adalah sungai utama untuk masyarakat Korea Selatan, Kali Besar juga sungai utama pada zaman VOC, untuk mengangkut hasil rempah dan membawanya dengan kapal ke negara-negara Eropa.

Berdiri di atas Kali Besar yang sudah indah ini membuatku jadi membayangkan masa kolonial Belanda. Mevrouw-Mevrouw bergaun menyusuri Kali Besar dengan perahu untuk menyambangi rumah sanak kerabatnya, sedangkan para muda-mudi Belanda asyik berbagi gombalan, di atas perahu juga.

Baper? Sedikit!

Kali Besar yang dulu bukanlah yang sekarang. Setelah lepas masa kejayaannya, dan Indonesia merdeka, Kali Besar tak lagi menjadi jalur perdagangan. Fungsinya hanya sebatas saluran air. Lama-kelamaan, Kali Besar terlupakan. Dengan berdiri di jembatannya saja, aroma menyengat bisa tercium dengan jelas dari air yang hitam pekat.  Sungguh, bukan tujuan baik untuk piknik dan melepas penat di sini.

Namun sekarang, Kali Besar sudah bersolek. Tak ada lagi kali dengan aroma semriwing yang menyapa penciuman, juga tak ada lagi air yang serupa tumpahan oli. Kali Besar kini nyaman. Kalinya bersih, dengan bangku-bangku semen berbentuk setengah lingkaran di sekelilingnya.

Di tengahnya, sebuah jembatan besar yang terbuat dari susunan kayu melintang, seakan seakan memanggil orang untuk berdiri di atasnya dan melihat indahnya Kali Besar. Di atas kali kini terdapat taman apung. Taman ini memungkinkan kita untuk berada lebih dekat dengan kali, atau juga duduk-duduk di tempat yang lebih lebar. Namun, sewaktu aku di situ, jalur untuk turun masih ditutup.

Konon, penataan sungai seperti ini terinspirasi dari Sungai Cheonggyecheon di Korea Selatan. Bapak Wakil Gubernur Jakarta, Sandiaga Uno, yang meresmikan Kali Besar versi baru ini, 8 Juli 2018. Revitalisasinya sendiri sudah dimulai sejak tahun 2016.

Tempat ini cuma berjarak sepelemparan batu dari Kawasan Kota Tua Jakarta. Kalau kamu main ke Kota Tua, sempatkan berkunjung ke sini. Meski berada di jalur yang cukup ramai, kamu akan merasa nyaman, dan dapat melupakan kebisingan, meski sejenak.

Jangan lupa, taruh fotonya di Instagram supaya orang sedunia tahu, betapa majunya kota kita, dan betapa bahagianya kita sebagai warganya.

*****

Inilah salah satu perwujudan dari kemajuan kota dan kebahagiaan warga. Perjalanan Jakarta masih panjang, juga perjalanan pemimpinnya untuk menghadirkan kota yang maju dibarengi kebahagiaan warganya.

Sebagai warga, aku berharap nanti akan ada kemajuan-kemajuan lain yang membahagiakan. Untuk itu, mari terus dukung, siapapun pemimpinnya, agar kelak Jakarta menjelma seperti kota yang kita impikan.

 

 

 

Komen, Kuy!

%d blogger menyukai ini: