Uncategorized

Bekal Penulis

Bukan cuma ke sekolah, jadi penulis juga perlu bekal, lho. Tentu aja bekalnya bukan makanan kayak yang biasa dibawa ke sekolah. Itu sih, bekal menulis. Tapi, yang pasti, bekal ini bisa memuluskan niat kita untuk jadi penulis. Mau tau apa aja? Yuk, cekidot!




Skill Yang Harus Dimiliki Penulis

Untuk mengerjakan sesuatu, pastinya butuh kemampuan. Minimal, kemampuan dasar, lah. Misalnya aja, mau bikin kopi. Minimal, kita punya kemampuan buat tuang kopi ke gelas dan aduk. Gak harus kita bisa ngegiling atau panggang kopi sendiri. Gitu juga dalam menulis. Sebagai penulis wanna be, kita harus punya kemampuan-kemampuan berikut:
1.    Bakat, passion
Kalau urusan bakat, ini masih kontroversial. Ada yang bilang perlu, ada yang bilang nggak. Temen-temen yang ngerasa gak punya bakat tapi pengen jadi penulis, jangan sedih dulu. Niat temen-temen untuk jadi penulis itu udah nunjukin kalau temen-temen punya passion. Nih, cek kata-kata motivasi yang dikutip sama Mbak Dala: orang yang punya bakat tapi gak konsisten, akan kalah sama orang yang gak punya bakat tapi rajin.
2.    Persisten
Bahasa Arabnya istiqomah, bahasa Indonesianya tekun. Ini modal penting banget yang harus dipunya sama penulis, khususnya yang wannabe kayak kita. Kita harus punya kemampuan buat istiqomah dalam menulis. Misalnya nih, kita targetin ke diri sendiri buat nulis minimal satu halaman sehari. Nah, kita tekunin itu. Kalau kita tekun nulis sehari sehalaman, dalam waktu tiga bulan, kita udah punya tulisan yang banyaknya hampir sama kayak satu novel. Itu kalau kita nulisnya random. Gimana misalkan yang kita tekunin itu novel beneran? Udah hampir jadi, kan.
3.    Sabar
Gak ada proses yang gak menuntut kesabaran. Bikin mie seduh aja pun butuh kesabaran nunggu mie-nya empuk. Gitu juga nulis. Konon, penulis-penulis hebat mengawali karier mereka dengan kesabaran seluas samudra, sedalam lautan, setinggi langit. Berkali-kali mereka ditolak penerbit atau redaksi, gak pernah jadi juara lomba, gak pernah masuk seleksi apapun, yang penting sabar dan tetap berusaha. Mas Gegge Mappangewa, penulis asal Makasar yang langganan juara I lomba-lomba nasional, pernah bilang, kalau misalkan dia nyerah di proses ke duapuluh sekian, mungkin saat ini dia gak jadi apa-apa.
4.    Mampu dikritik
Serius, ini susah. Secara, orang udah bikin capek-capek terus seenaknya aja dikomentarin pedes? Huh! Kalau di dunia fanfiction, malah ada author yang gak mau approve komen-komen yang rada pedes. Tapi, percayalah, semua komen dan kritikan itu buat membangun kita juga. Apalagi kalau kritiknya itu datang dari editor, redaksi, atau temen yang pengalaman nulisnya udah banyak. Mereka pengen kita bisa kasih karya terbaik buat diterbitin atau dimuat di media. So, emang harus kuat-kuatin hati buat nerima kritik.
5.    Kemampuan berimajinasi
Kalau pengen jadi penulis fiksi, kita harus banget punya kemampuan ini. Karena, dari imajinasi, hal kecil bisa jadi besar, dari satu baris bisa jadi satu novel. Misalnya nih, kita ketemu orang berantem di pinggir jalan. Dengan daya imajinasi kita, ketemu-orang-berantem-di-pinggir-jalan yang cuma ada enam kata bisa berubah jadi novel setebal Harry Potter. Kita bisa berimajinasi tentang apa yang mereka permasalahin, gimana serunya mereka berantem, dan penyelesaian dari berantemnya itu.
6.    Kemampuan teknis
Pengen kan, karyanya dimuat di majalah atau jadi buku? Nah, selain lima kemampuan tadi, kita harus punya kemampuan teknis menulis karena itu yang jadi standar penilaian karya. Misalnya aja, ada teknik editing, teknik pengaluran, teknik penokohan, teknik bikin konflik, teknik membuka cerita, dan ada banyak lagi lainnya. Tenang, teknik-teknik ini bisa dipelajarin, kok. Makin sering kita belajar dan banyak latihan, kemampuan teknik kita jadi makin terasah. Hasilnya, karya kita jadi makin ciamik.
Dari enam jenis kemampuan yang harus dimiliki penulis, kira-kira kita udah punya berapa, ya? Kalau misalkan kemampuan kita masih kurang, ayo mulai dari sekarang buat tingkatin kemampuan. Dan, yang jelas, kita harus mulai menulis. Pengen jadi penulis tapi gak mulai menulis? Apa kata dunia?
Tips Menulis

Ada bonus spesial buat yang pengen banget jadi penulis. Tips ini aku dapetin dari Mbak Dala, yang isi materi Creative Writing ToT FLP Jakarta. Konon, Mbak Dala ngumpulin tips-tips ini dari penulis-penulis hebat. Rajin, ya. Ini dia, tips menulis!
1.    Bawa notes ke mana-mana
Kita gak pernah tahu kapan ide itu muncul dan kapan ide itu hilang. Konon, ide itu mirip jaelangkung: datang tak dijemput, pulang tak diantar. Atau mirip bajaj, yang kapan muncul dan hilang itu gak ada yang tahu? Bisa jadi. Karena itu, kita perlu notes buat mencatat ide-ide yang kita temui dan berseliweran di kepala. Di zaman digital kayak sekarang, kita juga bisa manfaatin gadget. Aneka aplikasi notes bisa kita unduh sesuai keperluan dan kenyamanan kita. Mudah banget kan, buat “mengikat” ide kita?
2.    Nulis
Ini harus banget. Kalau kita gak mulai menulis, keinginan kita jadi penulis cuma benar-benar jadi keinginan. Ide-ide kita pun bisa keburu diambil orang kalau cuma kita biarkan di dalam kepala. Jadi, ayo nulis, nulis, nulis!
3.    Baca
Konon, baca itu saudara kembarnya nulis. Orang yang suka nulis umumnya suka baca. Jadi, semacem kepala penuh ide karena bacaan, dan pengen dituangkan jadi tulisan. Membaca juga bisa menambah informasi, memperluas wawasan, memperkaya diksi, bahkan juga munculin ide baru. Silakan baca apapun, sekalipun gak berhubungan sama yang lagi kita tulis. Suatu saat, apa yang kita baca akan bermanfaat buat kita.
4.    Punya kamus
Bosan dengan kalimat yang itu-itu aja? Solusinya adalah punya kamus. Di kamus, kita bisa dapat padanan kata yang punya arti sama dengan kalimat yang kita bosenin itu. Makin banyak variasi diksi yang kita punya, tentu tulisan kita makin asyik. Sekarang ada kamus daring, ada juga kamus offline. Meski gak selengkap kamus bentuk cetak, tapi cukup membantu juga. Gak ada salahnya kalau kita pasang aplikasi kamus di smartphone kita. Kamus bahasa Indonesia, bahasa Inggris, bahasa Arab, bahasa Korea, komplit! Apalagi sekarang ada kamus-kamus daring. Makin mudah lagi, kan?
5.    Harus jadi orang kepo
Meski terkesan nyebelin, tapi dengan kepo kita bisa tahu banyak hal. Sifat kepo akan menuntun kita mencari informasi yang lengkap sebagai bahan tulisan, atau menemukan ide-ide baru. Sekadar tanya “Eh, ada apa sih?” ke orang, kita bisa dapat banyak cerita tentang satu peristiwa. Bukankah itu ide? Atau, ada teman lagi punya masalah. Kita kepoin sampai dia curhat abis-abisan. Temen mungkin melihat kita sebagai orang yang tulus dan mau mendengar cerita dia. Tapi, jangan salah, tiga bulan berikutnya, cerita tentang dia muncul di majalah dalam bentuk cerpen. Kepo adalah bekal.
6.    Jangan menghabiskan waktu buat internetan
Udah niat nulis, tapi begitu buka komputer malah tergoda buka socmed? Itu masalah kita semua. Niat awal mau cek timeline Twitter, tapi ternyata kita keasyikan nge-stalk orang. Iya sih, itu salah satu cara cari ide dan kepo, tapi kalau kelamaan, bisa-bisa niat kita buat menulis menguap gitu aja. So, kuncinya adalah fokus sama niat. Kalau kita niat buka komputer buat nulis, ya udah, laksanain niat kita itu dan berusaha untuk menahan semua godaan.
7.    Ikut organisasi
Organisasi penulis banyak bertebaran, online dan offline. Dengan ikut organisasi, kita bisa belajar teknis-teknis kepenulisan, saling memotivasi, dapat info-info tentang penerbitan atau lomba, saling kasih masukan karya, pokoknya banyak banget manfaat ikutan organisasi kepenulisan. Tapi, yang asyik sih, emang ikut organisasi yang offline, yang ada pertemuan secara kontinyu. Cara belajarnya asyik, cara memotivasinya asyik, dan iklim kompetisinya juga lebih seru.
8.    Punya blog
Blog itu sarana yang asyik buat latihan menulis. Kita bisa ungkapin apa yang ada di pikiran dalam bentuk tulisan, dan dibaca orang. Apalagi, sekarang blog udah makin sohor. Lomba-lomba blog makin menjamur. Kalau blognya punya banyak pengunjung, nanti ada perusahaan yang minta review atau pasang iklan di situ. Lumayan banget, kan? Kalau buat authorfanfiction, punya blog kudu banget buat publishkarya dan saling berkomentar sama authorlain. Fanfict yang kita tulis pun langsung dapat tanggapan dari readers. Cocok banget buat ngelatih kemampuan ke empat yang harus dimiliki penulis: mampu dikritik. Readers itu kalau komen pake karet dua. Pedes!
9.    Nulis tiap hari
Nah, ini sejalan sama kemampuan ke dua yang harus dimiliki penulis: persisten. Dengan nulis setiap hari, kemampuan kita makin terasah. Kita juga makin peka dengan apa yang kita lihat, dan kita tuangin dalam tulisan. Ini juga ngebantu buat ngedobrak kemalasan yang udah best friend banget sama kita. Gak harus juga sih, nulis satu cerpen, satu bab novel, atau satu artikel dalam sehari. Satu halaman atau beberapa paragraf pun cukup. Yang penting, nulis tiap hari.
10.     Editing
Apa yang kita lakukan kalau udah selesai bikin cerpen atau novel? Kirim ke penerbit? Nanti dulu. Endapkan dulu beberapa hari, terus kita baca ulang. Saat baca ulang itu, akan ada proses editing. Kita pasti ketemu sama kalimat-kalimat yang kayaknya gak tepat, adegan yang salah posisi, tanda baca yang berantakan, atau typo. Meski kata segenap author fanfiction typo is an art of writing, tetap aja harus dikoreksi. Konon, kalau kita kirim tulisan ke redaksi atau penerbit, mereka tahu naskah kita baru jadi atau udah dikoreksi dari typo. Konon juga, mereka suka gak toleransi sama kesalahan-kesalahan teknis yang harusnya bisa diedit sama penulis. Gak mau kan, kalau naskah kita cuma dibaca sepintas sama redaksi atau editor terus dilupakan sama mereka?
Bekalnya udah banyak, tipsnya udah komplit. Apa lagi yang kita tunggu? Ayo, mulai nulis sekarang!
*Sumber: Dari materi ToT Creative Writing yang disampein Mba Dala d ToT FLP Jakarta, Ahad, 15 November 2015. Bukan resume, apalagi transkrip.   

One Comment

Komen, Kuy!

%d blogger menyukai ini: