Uncategorized

Berita Islami Masa Kini dan Kelelahan Umat

Curhat ah…. Ada tayangan di TransTV namanya Berita Islami Masa Kini. Pembawa acaranya ada Zaskia Mecca, Tengku Wisnu, Zeezee Shahab, Syahrul Gunawan, dan banyak artis berlabel soleh dan solehah lainnya. Isinya informasi-informasi tentang Islam. Ada sejarah, aqidah, fiqh, dan segala macam yang diikat sama kata “Islami”.
Teve di rumah sering setel acara itu. Beberapa kali saya ikutan nonton, tapi lama-lama jadi mikir, jadi enggan, dan jadi males. Entah kenapa, tebersit dalam hati, kapan sih ini acara kesandung?

Jujur, saya bersyukur banget ada teve yang peduli sama Islam. Di saat teve-teve lain sibuk dangdutan, alay-alayan, India-Indiaan, masih ada teve yang tayangin acara keislaman yang tayangnya gak pas jam kuntilanak bubar dinas. Sebut aja ada TVOne, Trans7, dan TransTV. Yah, lupakan jam tayang beberapa tayangan yang mentok waktu salat.
Tapi, di antara kesyukuran itu, saya agak resah sama acara Berita Islami Masa Kini. Kalau informasi-informasi Islam yang umum, saya masih woles. Lain halnya kalau udah bawa-bawa urusan fiqh.
“Setiap perbuatan yang tidak dicontohkan oleh Rasulullah adalah bid’ah. Setiap bid’ah adalah sesat, dan tempatnya kesesatan adalah neraka.”
Kalimat-kalimat sejenis itu sering banget jadi voice over tayangan yang disebut “Beriman” itu. Bid’ah dan sesat. Dua kata paling sensitif di kalangan umat Islam dan bisa bikin berantem. Kita bisa lihat sendiri kondisi umat kayak gimana. Ketimbang bacaan shalawat saja bisa jadi masalah besar. Apalagi kalau ditambah sederet kebid’ahan yang disebut di tayangan itu.
Yang baru-baru, Tengku Wisnu kena karena bilang kiriman Al-Fatihah orang yang masih hidup ke orang yang udah wafat itu bid’ah. Sebelumnya, -yang pernah saya dengar- nikah di masjid juga bid’ah. Banyak hal yang selama ini jadi kebiasaan umat muslim di Indonesia yang masuk kategori bid’ah.
Perlu kearifan dan kepala dingin buat menyikapi bid’ah-bid’ahan ini. Saya yakin, bukan saya saja yang resah. Banyak orang lain yang juga resah. Bukan masalah apa yang saya -atau kami- lakukan masuk kategori bid’ah. Tapi, karena klaim itu justru makin meruncingkan perbedaan.
Kenapa kita gak fokus di persamaan aja? Sama-sama muslim, mengakui Allah dan Rasulullah, dan gak liberal. Sekarang ini, umat Islam lagi digempur dari luar, baik dari agama lain atau kebijakan pemerintah.
Kita bisa lihat gimana masjid dan pesantren di Papua dibakar. Pelakunya petantang-petenteng nyengir di istana. Sementara, muslim yang belum jelas salahnya dikejar-kejar dan dibunuh dengan alasan pemberantasan terorisme.
Kalau yang di Jakarta, pasti tahu segala rupa perundangan yang mengkerdilkan muslim. Misalnya aja, pelarangan dagang hewan qurban, larangan takbir keliling, aturan seragam anak sekolah yang menghapus pakaian muslim dan diganti sama kebaya encim, juga susahnya perizinan acara keislaman di Monas. Coba bandingkan sama perayaan tahun baru atau pesta rakyat yang digelar setelah mantan gubernurnya ditahbiskan jadi “presiden.”
Umat Islam Indonesia lagi dikerdilkan. Wacana berdoa sebelum belajar, yang menurut menterinya jangan cuma berdoa secara Islam aja, meski gak terlalu bergaung, tapi cukup bikin keki. Belum lagi ada menteri yang seenaknya bilang, kebanyakan wanita pengidap AIDS itu berjilbab. Masih juga ditambah keinginan Pak Wapres menertibkan speaker masjid. Oh ya, tak lupa juga pemblokiran web Islami karena dituduh mengajarkan radikalisme.
Energi umat sudah terkuras banyak buat menghadapi orang-orang yang terkesan Islam, dengan nama Islami, tapi ternyata sentimen banget sama Islam. Kalau kita fokus bersatu, pasti kita kuat. Minimal, pelaku bakar masjid di Papua pasti gak akan bisa cengar-cengir di istana, menikmati jamuan Jokowi.
Terus, kondisi begini masih ditambah klaim bid’ah dari tayangan teve yang disiarkan nasional. Apa gak makin tambah runyam? Perbedaan antara sesama umat Islam akan makin tajam. Orang awam pecinta tayangan itu akan langsung melihat orang lain sebagai pelaku kesesatan kalau apa yang diperbuat termasuk bid’ah menurut tayangan itu. Apa mungkin kita bisa bersatu kalau udah ada pandangan sinis dari satu kelompok ke kelompok lain, meski sesama muslim?
Belum lagi nanti ada takfiri -muslim disebut kafir sama sesama muslim- cuma karena beda pemahaman dan beda mazhab fiqhnya. Padahal, syahadatnya masih sama, ibadahnya juga masih sama.
Apa umat gak makin lelah dengan itu? Kalau umat Islam lelah sama perbedaan-perbedaan kecil, menganggap perbedaan itu adalah hal yang harus dibasmi sampai ke akar-akarnya, mana lagi energi buat melawan musuh yang lebih besar dan sistematis? Kita fokus ke hal kecil, tapi lupa hal besar. Kita fokus ke perbedaan bacaan shalawat, tapi kita lupa kalau ada yang bahkan buat bershalawat terbuka saja dilarang. Kita fokus memberantas bid’ahnya pengajian ibu-ibu di masjid. Kita lupa, di luar sana ada masjid yang dibongkar tanpa penggantian.
Kenapa kita gak fokus sama yang jelas-jelas musuh? Kenapa kita lebih sibuk berantem sama saudara sendiri yang belum tentu juga salah?
Yah, sedikit taushiyah dari seorang ustadz di perkampungan, yang gak masuk teve, cukup membuka pandangan saya dalam melabelkan bid’ah.
“Kalau ibu-ibu ngaji Yasinnya dari ayat 83 sampai ayat 1, itu baru bid’ah,” gitu kata beliau.
Maksudnya, udahlah, gak usah permasalahin hal-hal yang gak masalah dan jelas-jelas gak menyimpang dari ajaran. Fokus aja ke yang jelas menyimpang, yang punya nabi lain, yang suka otak-atik dalil, yang bilang Alquran itu karangan, yang hajinya ke Majapahit, dan ke kebijakan-kebijakan berbau kerdilisasi Islam.
Ada baiknya, tayangan-tayangan keislaman di teve juga gak lagi fokus sama perbedaan internal umat, tapi fokus ke penguatan aqidah dan persatuan umat. Jadikan slot tayangan itu buat menggelorakan lagi semangat keislaman yang mulai luntur. Dengan begitu, kita lebih mengerti siapa yang sebenarnya harus kita hadapi. Karena, musuh sekarang nyata.
*curhatan wong ngelindur

Komen, Kuy!

%d blogger menyukai ini: