Blogger dan "Tuhan" di Sekitarnya - superduperspesial.com
Blogging,  Hobby

Blogger dan “Tuhan” di Sekitarnya

“Cha, jangan posting itu, dong! Ntar gak dapet job.”

Entah berapa kali kata-kata itu terbaca sama aku. Datangnya dari para blogger atau influencer yang konon sudah malang melintang. Apalagi di tahun Pemilu begini, dan aku ada di pihak yang berbeda dari kebanyakan mereka. Postingan-postingan aku yang sebenarnya masih agak soft, mungkin dianggap ancaman.

Lain lagi postingan seorang petinggi komunitas blogger. Dia tulis, “Hati-hati kalian posting itu. Nanti gak dapet job dari aku.”

Ini wow banget, ketika yang namanya job bukan berdasarkan kapasitas dan kapabilitas, tapi berdasarkan referensi politik dukung siapa. Kelihatannya sah-sah saja dia posting begitu, berdasarkan statusnya yang petinggi komunitas. Tapi, aku sih ketawa miris saja.

Menjelang akhir tahun kemarin, aku sempat tergabung di komunitas buzzer untuk salah satu provider komunikasi. Baru beberapa menit setelah gabung, muncul aturan sebagai buzzer. Salah satu klausulnya, dilarang posting tentang agama, sejak sebulan sebelum nge-buzzer, dan selama nge-buzzer.

Aku langsung buka Instagram aku. Ada bendera tauhid di situ, yang aku pasang waktu lafazh itu dihinakan. Apa tega aku ikut menghinakannya demi dapat job sebulan? Tapi, aku juga lagi butuh job. Tapi, pertanyaan ‘aku kudu piye’ justru nggak muncul di saat-saat begitu. Aku nggak punya pilihan, nggak mau memilih. Jelas, mana yang akhirnya aku pertahankan.

*****

Tuhan-Tuhan kecil itu ada di sekitar kita, Galz! Mereka ada tanpa kita sadari, mereka kita patuhi pun tanpa kita sadari. Cukup berbekal “ancaman” nggak dapat job, seketika kita manut dengan segala ucapan mereka.

Tuhan kecil itu nyata saat kita merasa mereka sumber rezeki kita, saat kita merasa rezeki kita sebagai blogger tergantung pada job dari mereka. Kebenaran nggak lagi terucap di status-status sosial media. Kita sudi menyembunyikan demi kata bernama ‘job‘.  Kita nggak lagi bisa berbeda karena khawatir tidak mendapat job.

Baca juga: Kenapa Saya Menulis

Tuhan kecil itu kita saat kita merasa bisa menahan rezeki orang lain (sebut saja blogger) yang nggak sepaham, bahkan nggak satu pilihan politik. Saat kita merasa mereka menggantungkan rezekinya pada kita, saat mereka mau menurut pada kita demi sebuah kata bernama ‘job‘, kita menepuk dada, merasa punya kuasa. Kita sejatinya manusia, namun seketika berubah wujud menjadi tuhan, yang maha pemberi rezeki.

*****

Mereka hanya jalan rezeki, bukan pemberi rezeki. Apa kita lupa kalau satu pintu rezeki tertutup, maka akan muncul pintu-pintu rezeki lainnya? Lupakah kita pada pemberi rizki yang sejati? Ketahuilah, Allah sudah menjamin rezeki tiap-tiap makhluk-Nya di bumi. Bukan cuma kita, bahkan binatang melata pun Allah jamin rezekinya.

Apa yang bisa kita sombongkan dari kuasa kita menahan rezeki orang lain? Kalau Allah berkehendak, bisa dengan mudahnya Dia menghilangkan “kuasa” kita atas orang-orang merdeka lain, dan membalikkan keadaan. Cukuplah merasa diri sebagai Tuhan, yang dengan seenaknya mengatur rezeki orang, mengancam, dan berpuas diri saat orang menuruti.

Percayalah, rezeki kita nggak akan tertukar, apapun yang kita lakukan. Hanya, pertanyakanlah lagi ketauhidan kita. Sudahkah kita merasa Allah adalah Ar-Razzaq, atau agensi yang Ar-Razzaq? Cek sendiri hatimu!

 

*ditulis cuma berdasarkan miris

 

Komen, Kuy!

%d blogger menyukai ini: