Lifestyle

Buat Ortu Yang Ingin Anaknya Gemar Menulis

“Ayo, Dukung Anak Indonesia Gemar Menulis”
Tulisan itu aku temuin di papan tempelnya SIDU, merk buku tulis paling legendaris, di event 4th Asian Literary Festival, di Kotu. Pengunjung boleh minta kertas buat ditulis dan ditempel. Tapi, kalau mau dapet hadiah, nulisnya tentang cara meningkatkan minat menulis anak, upload foto di Instgram, terus mention SIDU. Dapet hadiah!

Aku pengen berbagi sedikit tentang cara ortu ngajarin aku supaya suka menulis. Aku gak tau cara ini berlaku umum apa nggak, tapi tingkat keberhasilannya pas diterapkan ke aku ya lumayan juga.

1. Ortu Rajin Baca dan Bacain
Segala sesuatu emang kudu dibiasain dan dikasih contoh dari ortu. Ortu aku rajin baca. Dari bayi, aku udah sering dibacain Buncil, sisipannya majalah Ayah Bunda. Aku juga sering liat ortu membaca.
Hasilnya, pas udah bisa membaca, sebelum TK, aku ikut-ikutan membaca pas ortu lagi membaca. Daripada berasa dicuekin terus baper, kan? Minimal, ikut-ikutan pegang majalah, lah.
 
2. Langganan Majalah dan Jajan Buku
Kayaknya ke-Aspergers’-an aku bawa keuntungan banget buat ortu. Aku kan jadi gak suka kelayapan pulang sekolah. Jadi, pulang sekolah, Aku menepi di kamar, baca majalah atau buku. Itu terjadi sebelum aku kelas 3 SD. Soalnya, kelas 3 SD dan seterusnya, aku udah ekstra sibuk. #gaya
Efek dari suka membaca itu, aku jadi bisa berimajinasi. Saking berimajinasinya, pas ada tugas bikin cerita tentang liburan, aku cerita tentang liburan ke rumah nenek di desa yang ada sawah dan bukitnya. Ini nekat banget. Soalnya, guru-guru satu sekolahan tau kalau rumah nenek cuma beda blok sama sekolahan. Om-om aku juga sekolah di situ, dengan guru yang sama. Guru-guru kenal baik sama nenek!
3. “Diceburin” Lomba Mengarang
Aku gak tau kan, kalau aku bisa mengarang. Diary aja, yang sering jadi bukti orang suka menulis, aku gak punya. Punya sih, tapi isinya biodata teman-teman sekelas. Tapi, aku didaftarin lomba mengarang. Mau nulis apa? Terus, aku dilatih sama Mamih yang emang suka menulis. Tiap hari dilatih dengan materi sama. Walhasil, pas lomba, aku tulis aja materi latihan itu. Aku menang. Padahal lawan aku kelasnya tinggi-tinggi.
Proses itu bawa efek. Kayak orang berenang aja, diceburin, terus lama-lama bisa. Selama latihan, aku jadi belajar nulis panjang-panjang selain catatan sekolah, perhatiin rangkaian-rangkaian kata, perhatiin kalimat, juga sesuain tema lomba sama karangan. Meski… ujung-ujungnya aku cuma menghafal materi latihan mengarang diam-diam.
4. Dimasukin Asrama
Niat ortu masukin aku ke boarding school emang bukan buat mengasah teknik menulis. Tapi, di boarding school, aku sempet suka nulis, sebelum kejadian aku di-bully teman-teman karena nulis. Namanya juga boarding school, apapun terbatas. Bahan bacaan juga dibatasin. Gak ada buku cerita atau majalah. Ya udah, bikin buku cerita sendiri aja. Daripada bacanya buku pelajaran melulu, kan?
Dampaknya, aku di-bully hehehe. Itu urusan lain. Yang aku rasakan adalah, di tempat yang terbatas, imajinasi jadi melebihi batas. The Power of Kepepet pokoknya. Aku menikmati menulis dan saya baca sendiri hasilnya. Bagus atau jelek, gak peduli. Yang penting aku punya bahan bacaan lain selain buku pelajaran.
5. Disuruh Masuk Organisasi
Karena baca majalah remaja Islami, yang sekarang cuma ada versi webnya, Mamih jadi tau kalau ada organisasi pengkaderan penulis. Aku disuruh gabung. Ya udah, aku daftar. Sampai sekarang pun aku masih di organisasi yang sama.
Ada keasyikan sendiri ketemu orang-orang yang sehobi. Semangat nulis jadi meningkat, teknik nulis berkembang, dan jadi coba aneka jenis tulisan. Aku, yang awalnya suka nulis fiksi, lalu beralih ke non-fiksi. Di sini, gak ada teman yang nge-bully hobi nulis, karena semuanya suka nulis. Aku juga bikin buku bareng teman-teman. Dapet patjar juga di sini #eh
Sampai sekarang, aku masih terus belajar buat nulis yang bener, dan meningkatkan daya fokus supaya bisa bikin buku sendiri, gak keroyokan lagi. Butuh proses panjang banget supaya aku suka menulis. Tapi, hasilnya not bad! Buktinya, nekat ikut ODOP hahaha.
So, para ortu yang pengen anaknya gemar menulis juga, aku gak yakin cara ortu berlaku umum hehehe. Tapi, yang jelas, intinya adalah pembiasaan. Ortu yang harus memulai kebiasaan itu, sejak anak masih kecil banget.
Buah jatuh tak jauh dari pohonnya, kecuali kalau dibawa lari musang
all pict credit to Mba Dala
다시만날10년
소녀시대10주년

4 Comments

  • Cha Hakim

    Begitulah mba. Poor me, sampe cerita liburan ke rumah nenek aja butuh rekaan. Nenek saya tinggal di pemukiman padat di jakarta, yang gak seberapa jauh dari rumah. Saya bisa “pulang kampung” kapan aja saya iseng, jalan kaki atau naik sepeda. Saya gak tau ada tempat yg begitu menyenangkan, yang ada sawah dan bukit. Saya cuma baca di majalah, liat2 gambar, dan berkhayal, kalo aja rumah nenek di situ. Sayangnya, rumah nenek tetap di pemukiman padat, gak jauh dari sekolahan saya, bahkan sampe sekarang

Komen, Kuy!

%d blogger menyukai ini: