Uncategorized

Datang Pas Butuh

Pernah nggak, punya temen yang nggak pernah teleponan, Whatsappan, komen-komenan, tau-tau dateng buat ngundang?
Ngeselin, kan!
Tapi, ada lagi yang ngeselin.

Alkisah, di suatu perkumpulan. Ada satu orang yang dengan bangganya ngaku kalau dia udah bukan bagian perkumpulan itu karena udah gabung di perkumpulan lain. Meski ada di grup whatsapp, tapi gak pernah ikut diskusi. Lalu, tibalah saat itu: dia mau nikah. Barulah dia muncul, posting undangan, dan nyebut orang-orang di perkumpulan yang dia nggak akui itu dengan “temen-temen”.
Ada lagi. Penulis sih, katanya. Dia ngaku belajar nulis sendiri. Padahal semua juga tau kalau dia join di komunitas. Malah, dia pernah bilang kalau dia bukan bagian komunitas itu. Tau-tau launching buku, dan ngundang temen-temen komunitas itu, supaya rame. Untung mereka pada baik-baik.
Itu baru sebagian aja, yang berurusan dengan banyak orang. Pasti temen-temen juga pernah ngalamin hal kayak gitu. Misalnya aja, temen yang lama banget nggak ketemu, nggak kontakan, tiba-tiba telepon atau chat, ngaku kangen, dan ngajak ketemuan. Setelah ketemuan, ternyata dia ngajak join MLM. Tapi, masih mending MLM. Malah ada yang pernah diajak masuk aliran sesat dengan modus kayak gitu.
Jujur, yang kayak begini gak asyik banget. Nggak heran kalau lantas ada orang yang komen-komen nggak asyik. Misalnya, buat contoh kasus pertama, “Ah, dia mah cuma mau angpaunya aja”. Meski niat dia tulus buat ngundang dan jalin silaturrahmi, tetap aja omongan dia sebelumnya bikin orang berpendapat negatif.
So Galz, gimana sih biar kita nggak jadi orang yang kayak begitu? Ini nih, bocorannya!
1. Tetap jalin silaturrahim 
Zaman sekarang, menjalin silaturrahim itu mudah dan murah banget. Nggak perlu repot-repot dateng ke rumahnya dan bawain makanan. Cukup sapa via aplikasi-aplikasi obrolan. Modalnya cuma kuota. Kalau ragu mau nyapa, atau nggak merasa akrab, bisa taroh komentar di Facebook atau Instagram. Kalau segan mau komen, taroh aja jempol di postingannya. Temen pasti akan notice, dan ngerasa tetep keep in touch. Kalau kapan waktu butuh, temen udah nggak akan komentar, “Siapa elo?”
Oh ya, kalau tergabung di grup Whatsapp, kita juga bisa menjalin silaturrahim dengan member lain dengan cara ikutan diskusi. Nggak perlu kita yang mulai diskusi. Ikut aja diskusi yang ada. Cuma dengan kirim emot aja, temen-temen udah ngerasa kalau kita bagian dari mereka. Apalagi kalau ikutan aktif di diskusinya.
2. Jangan ngebanting pintu yang akan dilewatin lagi. 
Ini pepatahnya orang Betawi. Maksudnya, jangan pernah menafikan lingkungan pertemanan, apapun bentuknya. Karena suatu saat, kita pasti butuh temen-temen di lingkungan itu. Yah, minimal buat kondangan hehehe. Atau, kalau kita ikut lomba yang pemenangnya ditentuin jumlah “like”, jempol dari mereka berharga banget, kan. Coba, kita ada di berapa lingkungan pertemanan? Atau, kita ikut berapa komunitas dan grup Whatsapp? Banyak? Nah, kalau mereka semua kasih jempol, kita bisa menang!
3. Bersikap arif dan bijaksana. 
Bahasa simpelnya: tau diri. Tau kalau diri udah nggak aktif di satu lingkungan pertemanan, sadar kalau diri pernah menafikan lingkungan perteman, ngerasa kalau diri nggak pernah menjalin silaturrahim. Sekiranya pengen nyebar undangan, cukuplah dengan ucapan, “Minta doanya, ya.” Nggak perlu ngomong, “Ayo temen-temen, pada dateng, ya.” Kalau baru buka kafe, bilang akan ngegratisin temen-temen yang dateng berkunjung, itu aja udah bikin senang.
Simpel banget kan, Galz. Nggak ada salahnya kalau kita mulai dari sekarang, menjalin silaturrahim sama siapapun, khususnya yang ada di lingkungan pertemanan kita. Kita nggak tau kapan kita akan butuh mereka. Dalam lingkungan pertemanan, saling membutuhkan adalah hal wajar. Tapi, kalau kita datengnya pas lagi butuh aja, mungkin tandanya kita harus banyak belajar.
“Silaturrahim itu simpel. Masalahnya, mau apa nggak?”
-Iecha, anae yeppeonya Babang Wookie-
*laludijitakRyeosomniasedunia*
pict cr: on pict

2 Comments

Komen, Kuy!

%d blogger menyukai ini: