Deteksi Dini Hepatitis - superduperspesial
Lifestyle,  Sport & Health

Deteksi Dini Hepatitis, Jaga Hati Jaga Generasi

Gaes, konon, Hepatitis B seratus kali lebih infeksius daripada HIV/AIDS. Informasi itu aku dapatkan saat acara Temu Blogger di Kementerian Kesehatan, dalam rangka Hari Hepatitis Sedunia ke-9, Jum’at, (27/7). Karena itu, Deteksi Dini Hepatitis B (DDHB) diperlukan untuk mencegah penyakit ini berkembang dan menular.

Selama ini, yang aku tahu penyakit HIV/AIDS sangat berbahaya dan menular. Kampanye-kampanye pencegahan penularan HIV/AIDS aku lihat di mana-mana, di jalan, televisi, bahkan media sosial, termasuk ajakan untuk tidak mengucilkan penderitanya. Apalagi menjelang masuk Desember, yang diperingati sebagai Hari AIDS Sedunia.

Deteksi Dini Hepatitis (1)

Di acara Temu Blogger ini, aku terperangah dengan presentasi yang disampaikan oleh dr. Wiendra Waworuntu, M.Kes, Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung dari Direktorat Jenderan Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan RI, dan Dr. dr. Andri Sanityoso Sulaiman, SpPD-KEGH yang merupakan Sekretaris Jenderal PB Perhimpunan Peneliti Hati Indonenesia.

Apakah Itu Hepatitis? 

Secara simpel, Hepatitis adalah da real sakit hati. Kita sering dengar orang bilang lagi sakit hati sama si anu, sama si itu, tapi itu bukanlah sakit hati yang sebenarnya, kitanya saja yang baper hehehe. Tapi, kalau Hepatitis, memang benar-benar hati yang sakit.

Hepatitis terdiri dari dua kata: hepar yang berarti hati, dan –itis yang berarti radang. Peradangan inilah yang membuat hati kita tidak sehat, dan berpotensi mengarah ke penyakit serius. Hati yang terinfeksi virus Hepatitis, akan berubah ke arah fibrosis. Fungsi hati penderitanya makin memburuk. Kemudian akan menjadi sirosis dan berakhir dengan kanker hati. Jadi, kondisi ‘hati batu’ itu benar ada, bukan cuma kiasan.

Fakta Hepatitis

Meskipun tergolong berbahaya, ternyata ada beberapa fakta tentang Hepatitis yang belum kita tahu, Gaes. Malah, ada beberapa yang ternyata kita salah paham. Apa saja? Cekidot!

1. Huruf di Belakang Nama Hepatitis
Kita pasti pernah melihat huruf di belakang nama Hepatitis. Ada A, B, C, D, dan sekarang sampai E. Huruf di belakang ini bukan pilihan ganda, dan bukan riwayat perjalanan penyakitnya. Bukan dari A lalu jika diobati belum sembuh akan berubah jadi B, lalu C, dan seterusnya. Huruf di belakang itu adalah identifikasi jenis virusnya, dan yang paling berbahaya adalah Hepatitis B.

Baca juga: Steak Bakso Bakar, Maksi Zaman Now

2. 1 dari 10 Orang di Indonesia Membawa Virus Hepatitis B
Bayangkan jika kita berada dalam komuter yang padat. Berapa banyak orang yang membawa virus Hepatitis B di dalam satu gerbong? Tapi, tidak semua orang yang membawa virus menjadi terinfeksi dan sakit. Banyak juga yang tetap sehat walafiat seumur hidupnya dan hanya menjadi pembawa.

3. Ibu Hamil Berisiko 95% Menularkan Hepatitis B pada Bayinya
Ibu hamil yang membawa virus Hepatitis B dalam tubuhnya, 95% akan menularkan pada bayinya. Risiko ini jauh lebih tinggi dibanding penularan melalui faktor lain seperti minum minuman keras, penggunaan jarum suntik yang tidak aman, transfusi darah atau organ yang tidak melalui skrining, atau kontak dengan darah.

Deteksi Dini Hepatitis (7)

4. The Most Silent Killer
Hepatitis B adalah silent killer yang benar-benar senyap. Tidak ada gejala apapun yang terlihat. Saat terdeteksi, biasanya penyakitnya sudah parah, sehingga perjalanan penyakitnya menjadi lebih cepat. Proses penyembuhannya pun memakan biaya dan waktu lama. Dan, 1 dari 4 pengidap akan meninggal karena kanker hati.

5. Hepatitis B = Sakit Kuning?
Iyes! Orang-orang dulu mengenalnya dengan sakit kuning. Tapi, dari sekian banyak orang yang terinfeksi virus Hepatitis B, yang tubuhnya berubah jadi kuning cuma 10%, dan sisanya tidak menunjukkan apapun.

6. Bukan Penyakit Keturunan
Banyak yang bilang, sakit kuning adalah penyakit keturunan. Fakta sebenarnya adalah, dari keluarga tersebut ada yang terinfeksi, kemudian dia menjadi pembawa. Penderita Hepatitis B yang sudah dinyatakan sembuh, seumur hidup akan membawa virus dalam tubuhnya. dan dapat menularkan pada orang lain, terutama keturunannya.

7. Menguras Uang Negara
Eh, kok bisa? Tentu saja bisa karena pengobatan Hepatitis B dibiayai oleh negara dan sudah masuk JKN. Mau tahu berapa banyak uang yang dihabiskan untuk seorang penderita Hepatitis B?

Deteksi Dini Hepatitis (2)

Penyebab dan Cara Penyebaran Hepatitis

Macam-macam Hepatitisnya, beragam juga penyebab dan cara penyebarannya. Begitupun orang-orang yang berisiko. Dengan mengetahuinya, kita bisa lebih waspada dan lebih menjaga diri.

Deteksi Dini Hepatitis (3)

Selain ini, masih ada lagi. Khusus cowok-cowok yang rajin cukur-cukur di barber shop, disarankan bawa pisau cukur sendiri. Berbagi pakai pisau cukur dengan orang lain berisiko terkena Hepatitis. Kita tidak tahu apakah orang yang bercukur sebelum kita aman dari Hepatitis atau justru membawa virus.

Makanan yang tidak higienis pun dapat menjadi media penularan Hepatitis, khususnya Hepatitis A. Misalkan, ada orang terpapar virus, lalu dia buang air besar sembarangan, kemudian dia menyentuh makanan tanpa cuci tangan pakai sabun dan makanan itu juga disentuh orang lain, maka, orang yang menyentuh itu bisa terinfeksi. Dia bisa sembuh atau jadi pembawa virus. Lalu siklus itu akan berulang lagi.

Alkohol? Drugs? Jangan ragukan lagi mereka sebagai penyebab Hepatitis. Alkohol menyebabkan Hepatitis B, sedangkan drugs menjadi penyebab Hepatitis C.

Baca juga: Yuk Dukung Gerakan Indonesia Sehat

Dan buat kamu-kamu yang obesitas, fatty liver juga menjadi penyebab Hepatitis B. What is fatty liver? Namanya obesitas, sudah pasti lemak di mana-mana. Bukan cuma pipi yang menjadi tempat penumpukan lemak, tapi hati juga. Hati yang berlemak dapat terkena sirosis, meskipun tidak terpapar virus Hepatitis B.

Sampai saat ini, Hepatitis B tidak ada obatnya dan tidak bisa disembuhkan. Virus Hepatitis B bisa langsung masuk ke inti sel hati, bermutasi, dan menyebabkan kanker tanpa didului sirosis. Virusnya juga mengalir di sirkulasi darah.

Nah, orang yg kena Hepatitis B dan dinyatakan sembuh, itu artinya virusnya sudah tidak terdeteksi di aliran darah, tapi di inti sel masih ada. Karena itu, vaksin Hepatitis B sangat diperlukan semua orang. Jika memang dia terpapar virus, penyakitnya tidak akan berkembang karena sudah mendapat imun.

Sedangkan, Hepatitis C kebalikannya. Hepatitis C tidak ada vaksinnya tapi bisa disembuhkan. 20% orang yg terpapar virus Hepatitis C akan sembuh spontan. Obat untuk Hepatitis C juga sudah ada, diminum dalam jangka waktu 6-8 bulan.

Siapa yang Harus Deteksi Dini Hepatitis? 

Ada dua golongan yang harus wajib banget melaksanakan Deteksi Dini Hepatitis. Yang pertama dan yang paling utama adalah ibu hamil, mengingat tingkat penularannya yang tinggi. Kemenkes sudah memfasilitasi Deteksi Dini Hepatitis di berbagai fasilitas kesehatan. Bumil tinggal datang, dan semua layanannya gratis.

Pemerintah sudah punya strategi untuk mencegah infeksi vertikal Hepatitis B dari ibu ke bayi. Ibu hamil diperiksa skrining Hepatitis B. Jika dinyatakan terinfeksi, wajib bagi mereka untuk terus konsultasi di faskes.

Mereka pun harus melahirkan di fasilitas layanan kesehatan karena dikhawatirkan ada kontak darah dengan orang lain. Bayinya, selain diberi vaksin HB0, sebelum 24 jam kelahirannya, juga diberi vaksin HBIG untuk melawan virus yang tertular dari ibunya.

Deteksi Dini Hepatitis (4)

Kategori ke dua adalah orang yang anggota keluarganya terkena Hepatitis. Mereka berisiko tinggi terkena Hepatitis, mengingat, jika ada anggota keluarga terkena, pasti ada pembawa virus itu di dalam keluarga dan menularkan pada anggota keluarga lain tanpa disadari.

Tapi, Deteksi Dini Hepatitis untuk kategori ini berbayar. Jika HBSAG-nya negatif, yang artinya tidak ada virus Hepatitis di tubuhnya, maka harus dites anti-HBSAG untuk mengonfirmasi kalau tubuhnya benar-benar bersih dari virus Hepatitis. Kalau terdeteksi ada virus Hepatitis, maka harus divaksin secepatnya. Vaksin Hepatitis bekerja untuk usia berapapun.

Upaya Pemerintah Menanggulangi Hepatitis

Sejak 2014, pemerintah sudah melakukan upaya pengendalian Hepatitis B, yang dimulai dengan Deteksi Dini Hepatitis B pada ibu hamil di Jakarta. Tahun berikutnya, Deteksi Dini Hepatitis B pada ibu hamil mulai menjangkau daerah-daerah lain, dan tahun 2016 sudah dilakukan secara nasional.

Deteksi Dini Hepatitis (5)

Sejak 2016 hingga Juni 2018, Kementerian Kesehatan telah melaksanakan sosialisasi mengenai fakor risiko Hepatitis di 34 provinsi. 93,4% bayi-bayi di 34 provinsi tersebut pun sudah mendapatkan imunisasi Hepatitis B. Deteksi Dini Hepatitis B pun sudah dilakukan pada 742.767 ibu hamil, yang dengan itu berhasil memproteksi 7.268 bayi dari ancaman penularan melalui ibunya.

Dalam rangka Hari Hepatitis Sedunia ke-9 yang jatuh pada 28 Juli ini, Kemenkes mengadakan beragam kegiatan. Pada 27 Juli, Kemenkes mengadakan Temu Media dan Temu Blogger di Kemenkes. Puncak Peringatan Hari Hepatitis Sedunia dilaksanakan di Rusunawa Rawabebek, 31 Juli 2018, dengan serangkaian acara seperti senam bersama, dialog interaktif, pameran kesehatan, panggung hiburan rakyat, dan yang tidak kalah penting adalah Deteksi Dini Hepatitis B.

Deteksi Dini Hepatitis (6)

Gaes, pemerintah melalui Kemenkes sudah mengerahkan segala daya dan upaya demi terhindarnya kita dari Hepatitis. Sekarang tinggal kesadaran kita untuk melakukan Deteksi Dini Hepatitis, demi menjaga diri sendiri dan generasi mendatang.

2 Comments

Komen, Kuy!

%d blogger menyukai ini: