Film 3 Dara 2
Entertainment,  Film

Film 3 Dara 2: Mengemas Realitas dalam Kelucuan

Film 3 Dara 2 ini menurut aku termasuk film yang hebat: bisa bikin aku tetap memandang layar bioskop dan menikmati alur ceritanya. Yupz, dengan tingkat fokus minimalis, susah buat aku duduk nonton selama atleast 90 menit, tanpa keinginan browsing internet atau malah bobo cantik. So, kalau kamu mau nonton film yang sarat makna tapi menghibur dan refreshing banget, aku rekomendasiin film ini.

Aku mau ceritain tentang film 3 Dara 2 ini, tapi nanti jadi spoiler. Nggak seru lagi, kan? Mending cek sinopsisnya di sini.

Okelah, aku mau bahas hal-hal menariknya aja, yang bikin tatapan aku terkunci ke layar bioskop. Apakah hal menarik itu dalam bentuk Adipati Dolken yang kece ciamik itu? Ya jelas bukan. Wookie masih lebih gemesin di mata aku heuheu. Pastinya, yang namanya film, yang menarik adalah jalan cerita dan kemampuan mengemas realita yang pahit dan berat jadi sesuatu seringan permen kapas.

Masalah bermula waktu Affandi (Tora Sudiro), mau cari uang tambahan selain penghasilannya jadi direktur di perusahaan mama mertuanya (Cut Mini) yang ningrat dan superkaya itu. Si Mama Mertua emosi karena Affandi selalu perlakuin istrinya kayak pembantu. Dianya duduk manis, sementara istrinya siapin sarapan, pasangin sepatu, terus lanjut kerjaan rumah tangga yang lainnya. Jadilah, dia digerus dan diinjak balik sama mama mertuanya dengan gaya elegan, tapi nyelekit.

Well, di kehidupan nyata, berapa banyak suami yang kayak begitu? Kalau di lingkungan aku sih, cukup bergeser beberapa rumah, langsung ketemu yang kayak gitu. Pastinya bukan dia doang suami yang kayak begitu di dunia ini. Banyak. Cuma masalahnya, apakah istrinya punya ibu kayak nenek ningrat itu yang supersavage?

Terus, Affandi kumpulin teman-temannya: Jay (Adipati Dolken) dan Richard (Tanta Ginting) yang juga menantunya. Mereka sepakat untuk tanam modal di agrobisnis. Setelah ketemu sama Bowo (Dwi Sasono) dan dengar penjelasannya soal agrobisnis, mereka sepakat investasi 45 M, dengan janji keuntungan 10% perbulan. Sebulan kemudian, mereka mendapati semua itu hanya 378 alias penipuan, dan Bowo raib.

Yang bikin lucu tapi miris di sini adalah realitasnya. Bukan cuma mereka, yang tajir melintir, yang kena tipu investasi bodong. Di masyarakat, entah sudah berapa kali masalah investasi ini dibahas di teve. Korbannya pun nggak sedikit. Iming-iming keuntungan besar ini berhasil menggaet orang-orang buat titip dana. Siapa sih, yang nggak mau dapat uang tambahan yang lumayan? Affandi and the gank yang sudah survey sendiri ke lokasi agrobisnis masih kena tipu, gimana yang malas cek dan ricek?

Pun, Affandi dan kawan-kawan nggak lapor polisi. Kenapa? Karena kalau mereka lapor polisi, ceritanya beda lagi heuheu. Jadi, nikmatin aja. Mereka juga sepakat buat nggak kasih tahu ke istri mereka soal penipuan itu. Sampai satu persatu aset mereka disita bank, ketahuanlah sama para istri. Mereka terpaksa jujur.

Rumah disita, apartemen disita, mobil disita. Mereka terpaksa mengungsi ke rumah nenek ningrat yang lagi tour ke Eropa. Rumah besar itu dijaga Jenthu, tangan kanan si nenek. Di rumah inilah, Affandi “dihantui” bayangan nenek yang lukisannya tersebar di seluruh ruangan di rumah itu.

Baca juga: Two Light, Film Korea Penuh Kebaperan

Nah, di sini, para istri memutuskan buat kerja, demi membantu para suami mengumpulkan uang, supaya mereka bisa bayar utang dan aset kembali. Dengan demikian, para suami harus menggantikan tugas mereka mengurus rumah. Pekerjaan rumah dibagi ke mereka bertiga.

Nyoh, kekinian banget, ya? Bahwasannya, banyak kepala rumah tangga yang beralih jadi bapak rumah tangga. Alasannya pun diungkap sama istrinya Affandi, Aniek, “Perempuan lebih mudah dapat kerja.”

Sambil para suami itu mengurus rumah, mereka juga cari-cari info tentang Bowo, dan cara untuk mendapat uang lagi. Ide-ide yang muncul, semuanya dieksekusi. Tapi, hasilnya nihil. Yang ada, mereka jadi kayak berpindah dari satu kebodohan ke kebodohan lain.

Sementara, para istri mulai menunjukkan eksistensinya. Mereka protes sama masakan yang kurang ini-itu atau pakaian yang kurang licin. Protes-protes itu bikin para suami merasa harga diri dan kredibilitasnya terinjak-injak, dan pekerjaan mereka nggak dihargai. Adalah Windi (Rianti Cartwright), psikolog yang menangani mereka, yang menyuruh mereka supaya tetap jalanin dan nanti ada hikmahnya.

Cerita selanjutnya rahasia. Kalau spoiler, jadi nggak seru, kan. Kuy, datang ke bioskop, beli tiket film 3 Dara 2, dan bersiap untuk terpingkal-pingkal sambil menuai makna yang ada di dalamnya.

Singkatnya, para suami itu jadi tahu gimana perasaan istrinya, dan lelahnya mengerjakan tugas rumah sepanjang hari. Windi berpesan bahwa suami-istri adalah satu tim dalam membangun rumah tangga. So, suami nggak berhak merasa diri lebih tinggi atau berbuat semena-mena.

Mblo, buruan ajak gebetan nonton film 3 Dara 2 ini, supaya dia tahu gimana seharusnya memperlakukan pasangannya nanti. Eh, mblo mah nggak punya gebetan, ya? Maaf, Mblo!

Nah, gimana soal uang yang 45 M? Apa mereka berhasil mendapatkan kembali atau lenyap begitu saja? Apakah Bowo berhasil ditemukan? Cus ah, nonton!

Komen, Kuy!

%d blogger menyukai ini: