Lifestyle,  Movie

Film Korea-Koreaan

Kalau ditanya, mending nonton film Korea atau film Korea-Koreaan, jawaban saya pasti yang pertama: film Korea. Korea thok, tanpa diulang dan diimbuhi akhiran “an” yang bikin katanya jadi semakna sama “mobil-mobilan” atau “dokter-dokteran”.

Beberapa waktu kemaren, beredar film Korea-Koreaan tentang cewek berjilbab yang jalan-jalan ke Korea. Maincastnya orang Indonesia -iyalah, kan ceritanya dia lagi piknik-, figurannya juga orang Indonesia, tempatnya doang di Korea. No bash, tapi gak tertarik nonton. Kalo ada yang mau bayarin nonton film sejenis, mending simpan dulu aja uangnya sampai panitia konser KRY buka penjualan tiket *jitak.

 Padahal, yang bikin kan orang Indonesia. Pasti adegannya aman dari hal-hal aneh. Apalagi, tokohnya cewek berjilbab. Kok saya malah gak mau nonton? Apa saya pencari kissing scene di film Korea?
Ya gak juga, sih. Ini murni masalah feel. Masalah yang sama kayak waktu saya nonton Ayat-Ayat Cinta 1. Jadi, dari awal saya udah tune-in ke filmnya. Tapi, lha kok Zaskia jadi orang Mesir? Mahasiswinya kok Indonesia banget? Okelah, mungkin emang mahasiswi Indonesia. Masih ditambah adegan khadimat buka pintu rumah, yang mungkin aja dia TKW. TKW kerja di rumah orang Indonesia juga. Keliatan Indonesia dari bergonya yang pendek. Tapi, feelnya jadi gak dapet banget. Ya berasa liat film lokal aja, cuma ada pasir-pasirnya.
Begitu juga pas liat teaser film Korea-Koreaan itu. Lha kok Ringgo jadi supir taksi? Apa Ringgo perannya jadi TKI yang kerjanya jadi supir taksi?

Jadi inget film dulu-dulu yang cerita penjajahan. Yang jadi pejuang orang Indonesia, yang jadi Belanda dan Jepang orang Indonesia juga. Untung settingnya di Indonesia. Jadi, ilfilnya gak banget-banget.

Begitulah. Kadang, hal-hal kecil aja bisa bikin ilfil. Bagi sebagian orang, itu bukan masalah. Mereka bisa tetap menikmati film, dan hanyut dalam jalan cerita. Tapi, saya nggak. Boro-boro mau hanyut dalam cerita, lha nontonnya aja udah setengah hati. Belum lagi masalah budaya setempat yang luput di film ala-ala. Karena itu, saya lebih milih film yang jelas identitasnya. Film Indonesia sekalian, film Barat sekalian, atau film Korea sekalian.
Ini pendapat pribadi lho, ya. No bash siapapun, lah. Cuma curhat doang biar gak ganjel-ganjel amat.

Tapi, kalo film Korea-Koreaannya kayak poster di atas, mungkin saya ikutan nonton hehehe.

*pic cr editingmasternim

Komen, Kuy!

%d blogger menyukai ini: