Lifestyle

Gaya Bahasamu, Harimaumu

Sebenernya aku pernah bahas tentang gaya bahasa di blog yang satunya lagi. Tapi, itu tentang gaya bahasa fiksi. Sekarang, aku lagi pengen bahas gaya bahasa non-fiksi, sosmed, media blogging, atau jurnalistik. *kibas poni *gayamastah
Kepengenan nulis ini berawal pas aku lihat akun instagram berlabel 212, fanpage FB bernama Islam Bersatu bla… bla…, website Republik apa gitu. Mungkin tepatnya, aku prihatin sekaligus miris. Dan ternyata, fenomena gaya bahasa jadi harimau ini udah berlangsung beberapa bulan.

Dulu, di zaman-zaman koran masih rame, kita pernah tahu koran Lampu Merah, yang sekarang berubah nama jadi Lampu Hijau. Koran itu gampang banget ditemuin di lapak-lapak, atau dashboard angkutan umum. Gak perlu baca isinya, judul udah menggambarkan isi. Arah korannya, kalau dilihat dari judul, ya xxx.
Ada yang salah?
Secara keseluruhan, gak ada. Emang begitu gaya bahasanya mereka, dan emang itu “core” beritanya. Dia yang nge-framing dirinya begitu. Sampai sekarang, meski udah ganti warna lampunya, imej mereka gak berubah, dan gaya mereka tetap sama. Kalau mereka nulis berita vulgar, ya gak aneh lagi.
Sekarang kita lihat media-media mainstream. Sebut aja Tempo. Framing-nya mereka adalah berita politik. Di web atau cetak, imej mereka jelas. Posisi mereka di pihak mana juga jelas. So, meskipun bukan media Islam, tapi kalau mereka sampai nulis berita vulgar, pasti orang protes.
Ada lagi, media-media atau akun non-personal yang pakai nama dan imej Islam. Misalnya, Republika. Meski banyak ngulas politik, tapi imej media Islam tetap gak bisa lepas. Sekali aja Republika nyebut kata-kata yang agak vulgar, telunjuk kebencian langsung mengarah ke mereka.
Fenomena yang banyak terjadi sekarang adalah banyaknya akun-akun anonim, media-media online tanpa kejelasan pemilik, juga fanpage yang namanya mirip-mirip sama media mainstream. Media blogging, yang gak bisa disebut sebagai media jurnalistik, didudukkan jadi sumber informasi utama, mengingat media arus utama udah penuh puja-puji ke Pemerintah, dan gak independen lagi.
Cuma sayangnya, banyak yang memanfaatkan terbelahnya masyarakat Indonesia buat nyari keuntungan semata. Dari judul, kita bisa tahu ke arah mana framing mereka, meski sebaiknya kita juga jangan kepancing sama judul. Sebagian mereka bikin judul fantastis buat narik viewers, padahal isinya gak seheboh judul.
Lalu, kontradiksi itu ditemukan. Ada akun non-personal, fanpage dengan nama Islam, tapi gaya bahasanya 11-12 sama media lampu-lampuan itu. Ada web bawa-bawa nama republik dan kecintaan sama Indonesia, tapi isinya provokatif.
Miris, iya. Khususnya yang bawa-bawa Islam dan 212. Kita tau, aksi 212 adalah aksi massa besar, yang jumlah pesertanya hampir 2x lipat jamaah haji. Itu momen bersatunya umat Islam. Terus, kalau ada akun non-personal, fanpage, atau web dengan nama itu tapi judul dan isinya jauh dari sopan, vulgar, provokatif, dan mengedepankan opini, yang dicap jelek siapa? Ya sebanyak orang di Monas pas 212 dan muslim Indonesia secara umum.
Ah, lo mah suuzhon doang, Cha!
Santai! Aku udah buka kok, dan cari tau gaya bahasa mereka. Positioning mereka jelas: antipemerintah. Posisi itu sah-sah aja. Kalau semua ada di posisi pro pemerintah, pasti gak seru. Tapi, posisi itu seharusnya gak bikin mereka tabrak-hajar sama etika-etika kepenulisan, khususnya yang dibagi di sosmed.
Di belakang mereka, ada sekian orang yang “diatasnamakan” dengan nama yang mereka pakai. Pemilihan kata mereka yang cenderung vulgar, susunan kalimat mereka yang provokatif, mungkin (mungkin lho, ya) disukain sama haters Pemerintah lainnya. Namanya juga orang benci, pasti suka kalau dikasih berita tentang kejelekan sesuatu atau seseorang yang dia benci. Berasa ada temennya juga dalam membenci. Tapi, apa itu mewakili sekelompok besar orang yang namanya mereka pakai?
Posisi kita, as a muslim, dimari lagi gak enak. Dijadiin bulan-bulanan melulu. Udah kayak samsack yang ditonjok, ditendang, digantung. Pemilihan gaya bahasa kayak gitu justru akan jadi bumerang buat orang Islam. Alih-alih berharap cebong tercerahkan, yang ada cebong malah ketawain dan makin demen godain. Imej yang mereka bangun lewat kata-kata jauh dari citra Islam yang mereka gembar-gemborin ramah, sopan, cinta damai. Gak salah kalau ada yang bilang, lihat sosmed udah kayak orang mau perang.
Kita pasti bisa balikin imej Islam sebagaimana asalnya. Pun, tetap bisa kritik-kritik dan kitik-kitik Pemerintah dengan santai tanpa di-report rame-rame. Kalau kita admin fanpage, Instagram, Twitter, web, ada baiknya kita tinjau lagi gaya berbahasa kita, udah cocok atau nggak sama namanya. Kan udah pada dewasa. Jangan mau kalah sama admin page SONE, yang katanya isinya anak-anak alay, tapi berusaha jaga kedamaian di postingan-postingan mereka meski empet banget dipancing-pancing war sama ONCE. Tuh kan, baliknya ke situ lagi.
Kalau kita gak suka sama cebong, jangan ikutin gaya-gayanya. Tunjukin, kita lebih keren dan berkelas daripada mereka.
*nyinyiers place

Q: Lo mencebong sekarang, Cha?
C: Part time cebong
Q: Kok bisa mencebong?
C: Kuciwa saya. Overestimed sama akun-akun muslim
Q: Kan gak semua
C: Iya sih, tapi banyak buwangget

*pic cr: alamendah.com

Komen, Kuy!

%d blogger menyukai ini: