Uncategorized

Gue Mah Gitu Orangnya

Kata-kata itu lagi musim banget beredar di mana-mana. Entah siapa yang duluan pake istilah itu, usaha berhasil dan kalimat ini booming se-booming-booming-nya. Bukan cuma buat anak-anak alay, tapi kalimat ini juga dipake pejabat. Seru.
Ada hal yang bikin aku ngerasa dikitik-kitik sama kalimat itu. Aku punya penafsiran yang beda, dibanding fungsi standar kalimat ini di postingan, yang buat sombong-sombongan itu. Begitu denger kalimat ini, aku ngerasa ada “paragraf” yang belum selesai.
“Gue mah gitu orangnya. Jadi, jangan sama-samain gue sama lo.”
Kayak gitu.
Ini masalah yang kita sering gak sadar. Kita sering ngeliat orang dari sudut pandang kita sendiri, dengan standar kita. Kalo kita bisa suatu hal, berarti orang lain juga harus bisa hal yang sama. Kalo kita bisa berbuat sesuatu, orang lain juga harus bisa. Gak ada alesan orang lain gak bisa, karena kita bisa.
Misalkan nih, ada orang lain yang dengan santainya punya banyak SNS. Kalo ada orang yang gak punya SNS, dia bakalan sinis. Atau, ada orang yang terbiasa nenangga. Dia sinis sama orang yang diam aja di rumahnya. Atau lagi, ada orang yang suka posting di blognya sesuatu yang bermanfaat, resensi buku, ceramah ustadz. Ngeliat blog yang isinya begini doang, dia bakal sinis. Hehe gue mah gitu orangnya.
Emang udah sunnatullahnya kita diciptain dengan perbedaan. Masing-masing orang punya keunikan yang gak dipunya orang lain. Keunikan itu bukan cuma dari yang tampak, tapi juga yang gak tampak.
Misalnya aja karakter. Setiap orang diciptakan dengan karakternya masing-masing yang unik. Ada kajian-kajian yang coba men-generalisir karakter tiap orang, misalnya, dari tanggal lahir mereka.
Tapi, penduduk bumi gak cuma 31 orang. Kalo cuma ada 31 karakter untuk sekian milyar orang di dunia, pasti gak seru banget. Ketemu orang, cukup tanya tanggal lahirnya dan dengan segera kita tahu karakternya. Nanti, wawancara kerja cukup tanya tanggal lahir aja. Eh, itu mah udah ada di CV ya.
Keunikan masing-masing orang inilah yang sering luput dari pandangan kita. Kita maunya semua orang sama kayak kita, punya karakter yang sama, punya kesukaan yang sama, punya standar yang sama. Sebagian memilih cuek dan tetap jadi dirinya, sebagian lagi pontang-panting menipu diri dengan berusaha menyesuaikan dengan apa yang kita mau. Coba kalo urusannya dibalik. Nggak enak, kan.
Orang yang cuek dan tetap jadi dirinya sering dipandang egois sama yang menuntut dia jadi “orang lain”. Dibilang nggak mau berubah buat jadi lebih baik, nggak menghargai orang lain, atau malah nggak mau berjuang buat seseorang yang menuntut itu.
Sebentar, di sini sebenarnya siapa yang gak mau menghargai orang lain? Orang yang nggak mau berubah, atau kita yang menuntut? Kenapa kita maunya orang lain berubah demi standar kita, tanpa kita mau menghargai mereka apa adanya?
Emang susah banget buat kita untuk colek-colek diri sendiri. Lebih enak nyolek orang lain daripada harus ngelihat ke dalam diri. Apa yang nulis udah bisa? Belum. Makanya lagi pengen belajar juga.
Belajar menghargai orang lain dengan keunikannya, dan belajar bersyukur dengan keunikan diri sendiri. Terbaca simpel tapi butuh usaha buat melakukan itu. Tapi, nggak ada yang nggak mungkin. Kalo kita mau menghargai orang lain, orang lain juga akan menghargai kita dengan segala keunikan karakter kita. Kalau ada saling, kan enak.
Hehe ini tulisan diposting ala kadarnya. Jempol lagi pengen senam. Gak penting? Biar aja. Gue mah gitu orangnya :p

Komen, Kuy!

%d blogger menyukai ini: