Uncategorized

Hobi Para Jurnalis

Mungkin gak semua jurnalis begini. Tapi, jurnalis-jurnalis teve yang suka wawancara ahli di tayangannya sendiri atau di tayangan berita. Semacem acara atau sesi dialog gitu.
Entah udah berapa lama aku perhatiin gaya mereka ngorek jawaban dari tamu-tamunya. Dengan gaya yang keliatan cerdas, pertanyaan-pertanyaan mereka sering ngejebak tamu-tamunya. Apalagi kalau topiknya politik yang lagi rame, dan tamunya gak cuma seorang. Seolah mereka senang kalo antartamu bikin gaduh dengan adu omongan.

Sebagai penyimak, aku sering kecewa sama acara dialog atau wawancara semacam itu. Kita nonton acara itu karena pengen dapet informasi. Kalo tamunya, narasumbernya, gaduh adu omongan, jadi gak jelas juga kan apa yang mereka sampaikan.
Dodolnya, si jurnalis yang punya acara bukannya menengahi, malah kadang asyik sendiri ngeliatin si narasumber saling teriak bela diri. Kalaupun nanti-nantinya ngebelain, pasti yang dibelain itu narasumber yang pendapatnya cocok sama framing mereka.
Hahaha framing. Meski si jurnalis ngotot gaban kalau gak ada framing di acaranya, tetap aja dia pasti punya kecenderungan berpihak. Hari gini, acara dialog semacam itu tanpa framing, kayaknya kok mustahil.
Ini adalah kekecewaan ke dua. Pengen gitu, jurnalisnya ada di posisi tengah, bertanya tanpa ngejebak narasumber masuk ke framenya. Tapi, kayaknya gak ada. Malah, kalau aku perhatiin, si jurnalis akan terkesan cerdas kalau berhasil bikin narasumber terjebak. Kadang, aku suka bingung, dia jurnalis atau polisi.
Belum lagi urusan main potong kalimat orang. Emang sih, masalahnya mungkin durasi. Tapi kok orang masih ngomong main potong aja? Kalau orangnya masih belum bikin kesimpulan, nanti dia yang simpulin sendiri. Si narasumber tinggal iyain. Kesimpulannya juga kadang sesuai framing dia.
Narasumber yang belum canggih di acara teve sering gugup kalau dibilang durasinya udah abis, sementara masih banyak yang pengen dia omongin. Si jurnalis lalu arahin kesimpulan. Narasumber yang masih gugup dan gak nalar akan langsung sepakatin aja.
Terus, di mana hak publik buat dapatin informasi jelas dari narasumber tanpa digangguin framingnya jurnalis? Pengen gitu, dengerin dialog yang gak gaduh tapi informatif supaya kita bisa ambil kesimpulan sendiri menurut apa yang kita denger.
Selama teve masih jadi corong kepentingan pemiliknya, kayaknya mimpi banget dapatin acara dialog-dialog tanpa framing, yang jurnalisnya kasih waktu bebas ke narasumber buat bahas, gak dijebak-jebak, gak dibully, dan gak gaduh.
Please ya, tolong diingat, sebagai penonton, kami berhak untuk dapatin informasi tentang suatu masalah secara berimbang dan jelas. Dan itu kewajibannya jurnalis. Kami udah males dipaksa-paksa ikut pendapat kalian. Kalian bukan sutradara drama ribut-ributan antara narasumber. So, bekerjalah sebagai jurnalis!

Komen, Kuy!

%d blogger menyukai ini: