Uncategorized

Just a story

“Apa yang kau rasakan?”

“Nan gwenchana, aku tak apa-apa.”

Ia terdiam, seolah baik-baik saja. Namun, aku masih menangkap gores luka di manik matanya. Mungkin ia lupa kalau dirinya bukanlah drama queen, dan aku adalah pembaca ekspresi yang baik. Tanganku bergerak, meraih jemarinya yang tergeletak bebas di atas meja. Ia mengalihkan pandangannya, ke arahku.

Malam yang lirih. Hanya aku, dirinya, dan dua gelas susu yang telah dingin di atas meja kayu. Aku merindukan suara-suara khas malam untuk meningkahi hening yang tercipta tak sengaja antara ia dan aku. Sekadar untuk melegakan napasku yang terasa berat karenanya. Tapi, lagi-lagi, hanya ada desah yang berisi penuh kesakitan. Seseorang, lepaskan aku. Aku mohon….

Ia hanya gadis baik yang telah bersamaku lebih dari separo usia. Bukan ia yang salah, tapi aku. Akulah yang memaksanya datang malam ini, setelah aku tak mampu melenyapkan tatapan tak berbintang miliknya dari pelupukku. Katakan saja aku lemah. Tak mungkin aku sanggup mengabaikan pemandangan paling menyakitkan selama bersamanya. Ia terluka. Aku tahu pasti, aku juga terluka.

“Mau berbagi denganku?”

Angin mungkin melenyapkan suaraku sebelum mencapai telinganya. Tak sedikit pun ia bergeming, memberi tanda kalau ia mendengarnya. Kami kembali terjebak dalam ruang hampa suara. Hingga ia membawa jemariku ke depan bibirnya, memberi beberapa hembusan pengusir dingin. Aku nyaris tak sabar menunggunya bercerita.

“Bukankah aku bodoh?” tanyanya.

Mataku terpicing. Tiba-tiba saja hatiku terasa sangat perih. “Apa ada yang mengatakan itu padamu?”

Ia melepaskan jemariku, kemudian merapatkan jaket tebalnya. Musim dingin telah tiba. Bukan ide bagus untuk berada di luar rumah, meski hanya di halaman. Senyumnya terlihat sebaris, tapi tak mampu menyembunyikan luka. Sekali lagi aku menatap dalam manik matanya, agar maksudku terbaca.

“Aku… bodoh,” ulangnya.

Aku menggeleng cepat. Tidak! Ia tidak bodoh! Ia adalah gadis paling cerdas yang pernah aku kenal. Seseorang pasti telah menyakitinya begitu dalam, hingga aku tak dapat melihat ribuan pendar bintang di matanya. Hanya kosong, gelap. Tolong aku. Aku ingin segera terbangun dari mimpi buruk ini dan mendapatinya dalam senyum jenaka.

“Katakan.” Aku meraih jemarinya lagi, meniupnya beberapa kali agar kembali memerah.

“Bolehkah aku melupakan sejenak… hanya sejenak saja. Tak lebih.”

“Apa yang ingin kau lupakan?”

“Aku ingin melupakan kalau aku punya hati.”

Getir yang terbawa angin menusuk hatiku. Luka, tapi tak berdarah. Begitu perih hingga napasku terasa berat. Aku mengangsurkan gelas susu ke mulutnya. Agar ia tahu aku selalu bersamanya. Seratus purnama ia telah bersamaku. Kini, seribu purnama pun tak akan aku lepaskan.

Melihatnya menyesap susu dalam gelas. Dua teguk terasa cukup baginya, tapi tidak bagiku. Dua teguk? Tak cukup meredakan gelisahku yang tak mau berpindah karenanya. Ah, kenapa senyum itu harus di situ? Kau masih mau mencoba meyakinkanku?

“Jangan pernah melupakan kau punya hati,” ucapku lirih. Mataku terpejam, tak sanggup bersirobok dengan senyumnya.

“Hm… bagaimana jika hatimu tak boleh terluka namun mereka gemar mencabiknya?”

Kata-kataku terbawa angin sebelum sempat aku mengucapkannya. Yang tersisa hanya kabut di kelopak mata yang menunggu jatuh. Mereka. Lagi-lagi mereka, yang tatapannya diselubungi racun. Hingga tak ada satu penawar pun terekam dalam otak mereka.

Susu dalam gelas seolah hampa. Ia, gadis di hadapanku, setiap dahaganya telah terpuaskan dengan racun. Beku. Sakit. Namun tak pernah mampu mengusik pendar bintang dan senyumnya untukku. Ia adalah penawarku.

Apa yang ia katakan tadi? Hatinya… tercabik? Mereka telah mengeluarkan cambuk api untuknya? Bolehkah aku mencaci atas gemintang yang telah padam karena cambuk itu? Satu-satunya hartaku kini hanya senyumnya. Senyum yang tak punah untukku.

“Sudah malam, Yoong. Masuklah. Udara semakin dingin. Tak baik untuk kesehatanmu.”

“Tak akan!” Aku menggenggam jemarinya erat. “Aku ingin di sini bersamamu.”

“Kalau begitu, sebaiknya aku pulang saja agar kau bisa menepi dari udara dingin ini.”

Senyumnya. Salahkah bila aku tak ingin senyum itu ikut lenyap? Aku akan menjaganya dengan apapun yang aku miliki. Sebaris senyum itu telah membuatku kembali menjumpai indah pelangi setelah lama aku hanya mengenal kelabu. Aku tak akan melepaskannya!

“Aku tak akan masuk jika tak bersamamu, Yuri-ya.”

“Mwo? Sudah malam. Mereka pasti mencariku.”

Derit kursi kayu menjadi satu-satunya suara, selain suaraku dan suaranya. Langkahku terarah padanya, merengkuhnya seerat yang aku mampu. Aku akan menjaganya dari siapapun yang menebar racun untuknya. Tak akan ada lagi cambuk api atas kesalahan yang tak pernah ia perbuat.

“Aku mohon, bisakah kau tetap di sini? Malam ini. Besok. Seterusnya? Kau tak perlu melupakan kau punya hati. Aku akan menjaganya.”

“Yoong….”

Pelukanku berbalas, begitu pun dengan inginku. Tak terkatakan, namun aku dapat merasakannya. Mereka, menarilah di atas genderang yang mereka tabuh sendiri. Sebab ia tak akan lagi menyesap racun untuk dahaganya. Ia kini memilikiku.

#fanfict #yoonyul #yoona #yuri #friendship #goals #satire

Komen, Kuy!

%d blogger menyukai ini: