Let's Talk

Karena Orang Sibuk Akan Selalu Ada (Sekadar Oretan Untuk FLP Jakarta)

Nonton Doraemon dan makan ketan urap, begitulah caraku melawan gravitasi kasur di Ahad pagi. Jam delapan sudah lewat, dan aku duduk manis di rumah. Mau ke mana? Paling-paling cuma tertarik pusaran gravitasi kasur yang kuat itu lagi. And then, Mami muncul dari dapur.

“Nggak ke FLP?”

“Nggak,” jawabku.

“Udah bubar?”

“Nggak juga sih, masih ada, kok.”

“Perasaan nggak pernah ada kegiatan.”

Eh? Wait! Aku jadi berhitung-hitung. Kalau dipikir-pikir, iya juga. Kegiatan paling anyar di FLP Jakarta itu bukber. Kegiatan rutin, entahlah. Setahu aku pernah ada kegiatan bedah buku Mbak Era dan Bang Boim, di hari Ahad yang berbeda. Aku cuma datang di jadwalnya Bang Boim. Workshop blogger pun dulu ada tapi sudah nggak ada lagi.

“Pernah sih, tapi agak jarang,” jawabku.

Aku paham kenapa Mami tanya begitu. Ya, masalahnya karena hari Ahad aku ada di rumah. Sebelum-sebelumnya, hari Ahad aku ke FLP, berangkat pagi sebelum Doraemon bangun. Tapi, sekitar setahun belakangan ini, Ahad pagiku berputar di Doraemon. Haruskah aku keluar rumah Ahad pagi, entah ke mana, tapi bilangnya ke FLP supaya nggak dituduh bubar?

Fyi, Mami orang yang concern banget sama FLP. Aku masuk FLP pun karena disuruh Mami. Dulunya, Mami suka baca Annida, dan jadi hardcore fansnya Uni Via. Aku mana pernah kepikir mau masuk FLP. Aku memang suka mengarang, tapi aku cuma mengarang sewaktu UAS dan sebagainya, mengarang jawaban, karena sistem ujiannya cuma ada essay tanpa pilihan ganda.

Mami juga tahu rutinitas FLP. Dari mulai pertemuan sebulan sekali di Pusat Dakwah Muhammadiyah, dua pekan sekali, setiap pekan, kembali lagi dua pekan, lalu entah jadwalnya sekarang.

“Emang belum Muscab?”

Oh iya, Mami juga tahu jadwal Muscab. Waktu masih tinggal di Jakarta malah pernah ketemu beberapa dari mantan Ketua FLP Jakarta, pas mereka main ke rumah. Jadi, Mami tanya jadwal Muscab, harusnya bukan hal yang aneh.

“Belum.”

“Kan udah bulan Juni.”

Iya juga. Muscab biasanya awal tahun, antara Februari atau Maret. Awal-awal aku masuk FLP, Muscabnya September. Entah sejak periode siapa, dan karena kesepakatan juga, Muscab digeser ke awal tahun.

“Harusnya 7 Juli Muscab, tapi nggak tahu deh, jadi apa nggak. Belum ada pengumumannya.”

Aku KPU. Eh, bukan KPU Pusat. Aku nggak sekuat itu menahan bully masyarakat, hehe. Aku cukup jadi KPU FLP Jakarta. Berdasarkan kesepakatan rapat di acara Bukber, diputuskan Muscab 7 Juli setelah tarik-ulur jadwal. Sebelum hari-H, ada seseruan dulu di sosmed, kira-kira dua minggu, yang dilakukan pengurus: posting kandidat jagoannya, tag teman-teman dan minta mereka ikut posting, dan tentu pakai tagar. Tapi, aku belum lihat itu. Belum ada poster Muscab yang disebar juga.

“Anak baru nggak ada?”

Aku menggeleng. Angkatan baru mentok di angkatan 21, penerimaan tahun 2017. Kalau sesuai jadwal, harusnya sudah angkatan 23. Dan, yah, no wonder Mami tanya begitu. Sejak 2018, aku nggak bilang mau SG atau Inagurasi. Eh, btw, kangen juga sama serunya Inagurasi.

“Gimana sih? Kalau kayak gitu lama-lama bisa bubar. Udah dibangun dari dulu, masa’ bubar begitu aja?”

Aku tahu, Mami tahu bukan aku yang bangun FLP Jakarta. Aku gabung sekitar angkatan 4, meski dulu belum ada sistem angkatan dan pelatihannya belum terkonsep seperti sekarang, aku dan teman-teman menyebutnya angkatan tanpa angka. Tapi, mungkin Mami merasa miris juga.

“Senior nggak ada yang ingetin?”

“Aku nggak tahu, kan aku bukan pengurus. Tapi, mungkin udah.”

Di teve, Doraemon berganti Kiko. Ketan urap sisa bubuk kelapanya. Pembahasan soal FLP bisa jadi panjang. Sebenarnya bukan cuma Mami yang miris, aku juga. Dulu, Ahad pagi, melawan gravitasi kasur tak sesulit sekarang.

Sibuk, mungkin itu alasan yang sering muncul di benak teman-teman. Tapi, bahkan sejak FLP berdiri, orang sudah punya kesibukan masing-masing. Yeah, u know, organisasi memang akan menuntut waktu, tenaga, dan sumber daya apapun yang kita punya.

Ketika Mami miris dan khawatir FLP Jakarta bubar, aku juga miris dengan kegiatan yang nyaris nihil. Teman-teman lain pun mungkin merasakan hal serupa. Beberapa dari mereka kirim chat personal ke aku, dan yah, aku nggak bisa jawab karena memang nggak tahu.

Baiklah, karena orang sibuk akan terus ada sampai akhir zaman, kita buat mudah saja.

Dua hal yang terpikir sama aku:

  1. Bubar
    Kebalikan Mami yang khawatir FLP Jakarta bubar, aku malah memilih opsi ini kalau ada “referendum”. Kala menjalankan komitmen terasa berat, kesibukan-kesibukan lain padat, untuk apa kita memaksakan? Toh, selama bumi masih berputar, orang sibuk dan kesibukan akan terus ada. Nggak akan ada yang dirugikan selain FLP itu sendiri. Gimana?
  2. Online
    FLP Jakarta jadi kelas menulis online? Yah, sekadar kelas menulis, lainnya nggak. Dengan sistem online, tentu kita nggak perlu repot cari tempat pertemuan, cari pembicara yang sempat hadir, pun hadir ke pertemuannya. Teman-teman di luar Jakarta pun bisa ikut. Sekarang semua sudah punya smartphone. Waktunya pun lebih fleksibel, nggak harus weekend. Tinggal atur jadwal, atur pembicara, kelas bisa mulai. Pembicara pun tetap bisa berbagi materi sambil tidur-tiduran dan ngemil chiki.

Gimana? Aku sih, cenderung ke pilihan pertama kalau kondisinya seperti sekarang.

Oh ya, buat Muscab, kalau susah menentukan dan berkomitmen dengan tanggal, baiknya kita buat simpel juga, Muscab Online! LPJ tinggal dikirimkan ke grup Keluarga Besar. Sedangkan, pemilihan bisa lewat Google yang linknya dikirim ke grup, atau lewat vote FB, bisa juga lewat vote Twitter.

Urusan AD/ART, cincaylah. Di undang-undang nggak disebutkan kalau rapat harus diadakan di “darat”. Jadi, suka-suka kita saja. Masalah jumlah yang hadir, grup Keluarga Besar punya lebih seratus anggota. Lagipula, jumlah 2/3 anggota itu juga cincay. Kalau benar-benar diterapkan, kita nggak akan pernah Muscab sejak FLP Jakarta berdiri.

Sekadar curhat.

^ditulis sambil ngemil krupuk kulit n denger MP3 KRY. Kalo ada typo2 n kurang bisa dipahami, harap maklum^

Komen, Kuy!

%d blogger menyukai ini: