Uncategorized

Kecepetan Nulis

Nulis cepet. Keren, kan. Apalagi kalau bikin buku. Pastinya bakalan cepet selesai sebelum deadline. Di sini senang, di sana senang. Konon, speed nulis sejalan sama speed berpikir dan merangkai kata. Kalau pencet keyboardnya doang yang cepet, apa yang mau ditulis juga?
Tadi, Bu Elly udah minta maaf. Katanya, tergesa-gesa jadi gak sempet riset lagi tentang girlband. Entah apakah ini gegara petisi Roro Jonggrang ala SONE atau hal lain. Yang jelas, dia udah mengakui kalau tergesa-gesa. Mengakui kesalahan adalah sikap ksatria, Sodara-Sodara. Mari kita apresiasi.

kepceran Bang Rey Soshifated

Tergesa-gesa. Bu Elly tenang aja, gak sendirian kok, kepeleset kata ini.

Lebaran Haji, dua tahun lalu. Seorang penulis tenar bikin tulisan di media cetak tentang peristiwa desak-desakan di jalan menuju lokasi lempar jumrah, dan makan banyak korban jiwa. Dia nulis berdasarkan lansiran media dan pengalaman pribadi.
Tapi, tulisan itu berbuntut panjang. Dari judulnya, orang ngebaca penyebab desak-desakan itu keluarga kerajaan, meskipun si Penulis mungkin gak bermaksud begitu. Lansiran yang dia dapat, kalau saya gak salah baca, asalnya dari media Iran. Sukseslah dia dicap Syiah sama pembaca. 
Apalagi, ketauan penyebab desak-desakan itu jama’ah Syiah yang tiba-tiba balik arah. Netizen jadi ngebacanya, dia ngelempar kesalahan ke keluarga kerajaan demi nutupin kelakuan rombongan Syiah. Sekali lagi, mungkin si Penulis gak maksud bikin imej kayak gitu.
Kejadian desak-desakan itu 24 September 2015. Dia bilang dalam klarifikasinya, tulisannya dikirim 25 September 2015. At least, 24 jam lebih-lebih dikit dari waktu kejadian. Dan, tanggal 26-27 September 2015, muncul berita hasil investigasinya Arab, kalau kejadian itu gegara orang Syiah seujug-ujug balik arah di jalan yang superpadat. Padahal, harusnya mereka lewat jalan lain karena di situ one way, kayak di depan mall baru di Depok.
Telat! Dia udah terlanjur bikin tulisan, diposting di media Islam. Pembaca emosi, sampai dia harus bikin klarifikasi di Twitternya. Kalau aja dia gak tergesa-gesa dan nunggu hasil investigasi Arab, karena lokasi kejadiannya di Arab, mungkin gak akan muncul tuduhan itu. Media Iran, meskipun beritainnya cepet, bisa jadi bukan sumber valid dalam urusan ini. Lha orang Arabnya aja masih sibuk evakuasi korban, mereka udah nurunin aja berita tentang penyebabnya.
Satu orang lagi. Ini urusan yang kemaren. Nasibnya beruntung. Meski dia yang bikin petisi, tapi dia cuap-cuapnya di FB, jadi gak ketahuan SONE. Berapa banyak SONE yang temenan sama dia? Entah! Paling cuma segelintir, karena rata-rata SONE gak main politik, sedangkan status-statusnya si ibu itu tentang politik.
Ini sih kesimpulan saya aja ya, atas pengakuan dia. Jadi, begitu rame info katanya SNSD mau dateng 17-an, besoknya muncul petisi. Dia bilang, setelah googling dan liat di Youtube, dia bikin penilaian blablabla. So? Berapa lama dia liat Youtube dan nge-Google? Seberapa valid info yang dia dapet dari situ? Apa dia yakin yang dia buka bukan info haters? Konon, gegara persaingan, komen haters jadi sadis-sadis, apalagi para penganut ‘Oppa is Mine’.
Gak ngerti siapa duluan yang posting, dan siapa dipengaruhi siapa antara dia dan Bu Elly, karena fitnahannya mirip-mirip. Yang pasti, dia gak cari info, atau minimal klarifikasi info yang dia dapet ke SONE. Buat saya, itu kesimpulan yang super-prematur dan tergesa-gesa. Sekali lagi, untung dia posting di FB. Coba kalo di Twitter, udah pasti bernasib sama kayak Bu Elly. Malahan mungkin lebih seru, mengingat saya sedikit tau karakternya gegara urusan organisasi.
Yang saya sesali, dua dari tiga orang yang saya sebut tadi adalah pendiri organisasi pengkaderan penulis, yang mana, salah seorang pendiri lainnya sering berucap “Menulis saudara kembar membaca”, yang saya maknai, kalau mau nulis ya harus banyak baca. Kecuali nulis curhat.
Tergesa-gesa menulis tanpa menunggu atau bersabar mencari informasi valid bisa jadi bumerang buat yang nulis. Kesalahan informasi bisa menuai banyak protes dari orang-orang yang tau tentang informasi itu. Masih beruntung kalau tulisannya itu muncul di media cetak, yang orang rada susah buat komen langsung. Tapi, kalau di media online? Siapa yang bisa nahan orang buat komen sesukanya?
Menulis emang saudara kembar membaca. Butuh kesabaran dan proses dalam mengelola emosi, antara pengen cepet tulisan diliat orang atau bersabar dalam proses pencarian supaya dapat info valid, minimal berimbang. 
Jadi penulis adalah jalan menuju kecerdasan karena kerjaannya ngumpulin bahan tulisan sebanyak-banyaknya. Post atau kirim tulisan bukan menandakan si penulis udah pinter, tapi karena tulisannya udah selesai. Lanjut nulis lagi, lanjut baca lagi.
Karena ada pembaca yang berhak dicerdaskan dan dapat informasi shohih, bukan cuma disenangkan, apalagi diracun hoax. Jangan abaikan hak mereka demi seseruan kita. Nulis cepet emang oke, tapi kalau kecepetan nulis?

Semoga jadi pelajaran buat kita semua.

“Sifat perlahan-lahan (sabar) dari Allah, sedangkan sifat ingin tergesa-gesa itu berasal dari setan.”
(Diriwayatkan oleh Abu Ya’la dalam musnadnya, dan Baihaqi dalam Sunanul Qubra. Hadits ini hasan menurut Syeikh Al-Albani dalam Al-Jami’ Ash-Shagir)

*Nyinyier Place*

A: Woy Cha, kayak yang udah bener aja, nulis kayak gini.
C: Seenggaknya, ini bisa jadi jitakan supaya bener. *merong*
A: Cha, ibu itu pendukungnya banyak, lho.
C: Pakdhe emang pendukungnya kurang banyak?
A: Belain banget sih, Cha. Lo dapet apa dari mereka?
C: Emang harus banget ya, take and give gitu?
A: Sekarang jadi cebong, Cha?
C: Ya kaga juga. Cuma gak demen aja ada yang seenaknya main fitnah

Ada yang mau nambahin?

Happy 9th SONE Day, All

Komen, Kuy!

%d blogger menyukai ini: