Uncategorized

Kenapa Saya Menulis

Kenapa?
Tema menulis kolaborasi dari Blogger Muslimah Sisterhood putaran pertama, yang diberikan oleh Mbak Arina Mabruroh, membuat saya merenungi kembali akan jalan yang saya pilih. Kenapa menulis? Kenapa bukan bermusik? Kenapa melenceng dari cita-cita masa kecil sebagai Arkeolog?

Ah, kenapa begitu susah menjawab sebaris pertanyaan itu? Hanya sebaris. Tapi, hening malam pun tak sanggup membantu saya menemukan jawabannya. Benarkah ini jalan yang saya pilih?
Jawaban pertama yang saya dapati adalah karena saya diajarkan menulis. Ya, saya menulis karena orang tua saya mengajarkan menulis, sejak sebelum saya masuk TK. Sejak saat itu, menulis jadi aktivitas sehari-hari setiap selesai salat Maghrib. Kegiatan itu beralih setelah saya masuk SD.
Saya tahu, jawaban itu tidak sesuai dengan tema yang diberikan. Tapi, kebiasaan menulis sejak kecil, meski hanya menulis abjad dan nama sendiri di tembok, adalah sebuah landasan fundamental. Keasyikan-keasyikan menulis abjad di tembok adalah magnet yang memunculkan minat menulis, menikmati dunia tulis-menulis, yang mungkin tidak saya sadari saat kecil dulu. Dan saya merasa beruntung, sebab tak semua anak kecil mampu menikmati proses belajar menulisnya.
Di kelas tiga SD, saya pernah menjadi juara mengarang. Apakah saat itu saya sudah menyadari asyiknya menuangkan pikiran melalui tulisan? Tentu bukan! Saya tidak mengarang, melainkan menghapal. Ibu saya membuat tulisan sebagai contoh untuk lomba mengarang. Contoh itu yang saya hapalkan dan saya salin saat lomba. Licik? Ah, saya bahkan tidak tahu harus menulis seperti apa di lomba.
Satu-satunya tulisan yang memang saya karang sendiri pada masa itu adalah tugas mengarang dalam ujian semester SD. Saya membuat karangan tentang liburan ke rumah nenek. Saya gambarkan kalau rumah nenek saya berada di pegunungan, dengan kebun, sawah, dan kali di sekitar lingkungannya. Saya benar-benar mengarang bebas dan nekat. Karena, seluruh guru sekolah saya tahu siapa nenek saya dan di mana rumahnya. Maklum, beberapa om saya sekolah di SD yang sama.
Saya bahkan pernah trauma dengan menulis. Semasa SMP di sekolah berasrama, saya mulai menikmati menulis. Alasannya, karena di asrama tidak boleh membawa majalah dan buku cerita. Saya, yang waktu SD terbiasa membaca majalah Bobo, kekurangan bahan bacaan. Blenger rasanya kalau terus menerus membaca buku pelajaran. Jadilah, saya memulai menulis cerpen dengan sudut pandang orang pertama: aku.
Entah bagaimana caranya, buku itu bisa ada di tangan teman-teman sekamar saya. Padahal, saya menyimpannya dengan baik, dan tak pernah memberikannya pada siapapun. Yang terjadi setelah itu adalah teman-teman meledek saya, menganggap saya punya khayalan tingkat tinggi yang tak mungkin terjangkau. Hari-hari yang saya jalani saat itu menjadi penuh cemooh. Saya putuskan tidak akan menulis lagi, selain tugas mengarang.
Baiklah, beberapa paragraf sudah berlalu dan saya masih belum menemukan alasan saya menulis. Tinggalkan saja postingan ini jika Anda jenuh. Toh, saya juga masih berpikir, kenapa saya menulis.
Mungkin, apa yang terjadi saat saya SMA, di sekolah yang juga berasrama, menjadi pembuka pintu saya menggeluti dunia tulis-menulis. Apa saya menang lomba? Mendapat nilai bagus pelajaran mengarang? Tulisan saya masuk ke media sekolah? Sama sekali bukan. Saya stres, itu saja.
Saat itu saya tak menemukan seseorang untuk diajak berdialog, sekadar membagi keluh kesah dan menyerap semangat. Satu-satunya yang bisa saya ajak bicara adalah diri saya sendiri. Yang saya lakukan saat itu adalah menulis surat untuk diri saya sendiri, menceritakan apapun yang sedang saya hadapi. Kemudian, saya bertindak sebagai orang lain. Saya membaca curhatan yang saya tulis, dan membalas surat itu dengan solusi dan kata-kata penyemangat.
Saya mendapati, menulis adalah salah satu cara berdialog dengan diri sendiri. Saat itu, saya benar-benar mengerti apa yang saya rasakan melalui curhatan, pun saya bisa berpikir untuk mencari solusinya. Apakah cara ini efektif, saya juga tidak tahu. Setidaknya saya tetap waras. Meskipun, beberapa tahun kemudian, saya menyadari efek buruk dari hal ini.
Perjalanan menulis saya berlanjut. Kebiasaan saya menulis surat untuk diri sendiri ternyata membawa keasyikan. Saya menikmati menulis, dan tak lagi hanya menulis surat untuk saya. Berbekal majalah, saya mulai menulis fiksi. Saya merasakan, merangkai kisah adalah cara yang tepat untuk menghibur diri sendiri.
Orang menyebutnya self healing. Sebagai orang dengan Asperger, default-nya, saya lebih sensitif daripada orang lain. Saya sangat mudah kecewa, dan itu dapat berlangsung lama. Hal yang dapat meredakan kecewa saya dengan cepat adalah menulis fiksi. Apa yang tidak saya dapati di dunia nyata, akan saya raih di dunia fiksi. Meski saya tahu itu tak nyata, tapi saya bahagia.
Cerita-cerita itu tak pernah melihat dunia luar. Saya tak pernah mengirimkan tulisan saya pada media manapun. Trauma atas kejadian saat saya SMP masih sangat berat. Cerita-cerita itu hanya berdiam dalam buku-buku tulis, menghuni sebagian sisi rak buku saya, lalu lekang dimakan rayap. Saya mencoba berpikir positif, mungkin saya harus move on dari kebiasaan seperti itu, dan berpijak pada realita.
Hingga sampailah saya pada tugas membuat makalah sebagai syarat masuk suatu tingkat pendidikan. Saya mengambil perbandingan tentang efektivitas dakwah secara langsung, dan dakwah melalui tulisan. Hasilnya, saya mengunggulkan efektivitas dakwah melalui tulisan karena daya jangkaunya, keawetan medianya, juga spesifikasi sasaran pembacanya.
Menulis, apapun bentuk tulisannya, selayaknya membawa ajaran-ajaran kebaikan. Rasulullah berpesan untuk menyampaikan walaupun hanya satu ayat. Untuk menjadi ustadzah yang bisa menyampaikan ajaran kebaikan ke mana-mana, pasti membutuhkan waktu yang panjang. Kenapa saya harus menunggu selama itu jika saya bisa menulis? Agama kita memiliki ajaran kebaikan yang sangat luas. Tidak harus paham rumus qawaidh fiqhiyah, menulis tentang tersenyum saja sudah termasuk menyebarkan kebaikan, bukan? Kenapa saya tidak lantas memulainya? Tinggal jalur mana yang akan saya ambil.
Saya belajar banyak dari para senior. Saat Valentine Days, mereka menulis cerpen tentang Hari Pink Sedunia itu, dan dimuat di majalah remaja ternama. Tapi, apa yang mereka tulis bukan ikut-ikutan euphoria merayakannya. Mereka mengambil momen itu untuk menyebarkan kebaikan. Misalnya, ada yang menulis tentang tokoh utamanya yang tidak jadi ikut ke pesta perayaan Valentine karena mengikuti hatinya yang tidak nyaman dengan acara semacam itu. Atau, gagal berangkat ke pesta karena uang untuk membeli baju baru digunakan untuk membantu teman yang kesusahan. 
Saya mendapati ajaran-ajaran kebaikan dari tulisan mereka yang dimuat di media umum. Saya seperti tercerahkan. Beginilah seharusnya, menyampaikan ajaran kebaikan pada orang yang mungkin belum paham atau cenderung cuek. Mereka memang dicap sekuler. Tapi, buat saya, apa yang mereka lakukan bukanlah menggarami air laut.
Meski sampai saat ini saya masih belum seberani mereka, setidaknya saya mencoba untuk menebar kebaikan melalui tulisan. Sealay apapun yang saya tulis, saya berusaha untuk memasukkan satu pesan kebaikan, meski tidak terang-terangan. Alay, golongan itu yang menjadi sasaran tulisan saya. Mereka juga berhak untuk disentuh, tentu dengan “bahasa” mereka. Saya mencoba menjadi teman untuk mereka, berbicara dengan “bahasa” mereka, dan hasilnya adalah jiwa alay saya yang terpendam karena ini-itu bangkit lagi. 
Begitulah. Saya tak yakin apakah curhatan saya dapat menjawab pertanyaan di atas. Namun, perenungan dari tengah malam hingga menjelang pagi ini bermuara pada satu titik: saya menulis karena saya alay.
Sebentar lagi pagi menjelang. Semoga saya dapat menemukan kantuk, sebagaimana saya menemukan alasan untuk menulis.

7 Comments

Komen, Kuy!

%d blogger menyukai ini: