Uncategorized

Kepemimpinan Nasional*

*disampaikan oleh Prof. Yusril Ihza Mahendra pada Seminar Nasional “Kriteria Pemimpin dan Memilih Pemimpin menurut Perspektif Hukum Islam”, 19 November 2015  di FHUI.

Pada zaman Belanda, kita ingin merdeka dan berdaulat karena terjadi pembedaan antara Belanda (Eropa), golongan Timur Asing (Cina, India, Arab), dan pribumi (inlander). Pribumi menganut hukum adat, bukan hukum Islam, kecuali hukum Islam yang bisa beradaptasi dengan hukum adat.. Jika ada orang Belanda atau Timur Asing masuk Islam, maka derajatnya turun menjadi inlander. Namun, jika ada pribumi yang masuk Kristen, kedudukannya naik, menjadi setara dengan Belanda.

Menjelang kemerdekaan, BPUPKI terbagi menjadi dua golongan: sekuler (ingin memisahkan agama dari negara) dan alim ulama yang menghendaki Indonesia menjadi negara Islam. Jika saat itu diadakan pemilu yang jujur, maka pemilih negara Islam ada 48%, dan yang 52% menginginkan negara sekuler. Jumlah 52% itu termasuk golongan PKI sebanyak 16% yang mempunyai agendanya sendiri.
Untuk memecahkan masalah itu, harus dengan cara kompromi. Indonesia tidak menjadi negara sekuler ataupun negara Islam, tapi merdeka dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi para pemeluknya. Yang menjalankan syariat Islam itu bukan penduduk yang beragama Islam, tapi negara menjalankannya bagi pemeluk agama Islam.
Saat itu, Latuharhari khawatir akan terjadi kekejaman jika syariat Islam diterapkan. Namun, KH. Agus Salim membantah. Hukum Islam akan dijalankan menurut kemanusiaan yang adil dan beradab.
Dalam memilih presiden, Bung Hatta berkeras, bahwa presiden haruslah orang Indonesia asli karena orang Timur Asing tidak pernah berjuang untuk kemerdekaan Indonesia dan cenderung mendekat pada Belanda. Mereka bukan hanya tidak bisa jadi pemimpin, tapi  juga tidak boleh menguasai tanah.
Abdurrahman Baswedan, ketua Partai Arab Indonesia, protes atas klausul itu. Dia takut orang Arab tidak bisa jadi pemimpin. Bung Karno lalu memanggil beliau dan menjelaskan, kalau tidak dibatasi nanti Jepang bisa menjadi presiden. Saat itu, fokus Bung Karno hanya pada Jepang, sedangkan fokus Bung Karno pada Belanda.
Namun, Bung Karno protes kalau presiden harus beragama Islam. Beliau berpendapat, orang Indonesia mayoritas beragama Islam. Jadi, presidennya pasti orang Islam. Namun, golongan Islam protes. Klausul itu harus ada dalam undang-undang untuk menjamin hal itu.
Sekarang, syarat presiden harus orang Indonesia asli dan beragama Islam sudah dicoret sejak amandemen UUD 1945. Syarat presiden yang tertulis dalam amandemen UUD 1945 adalah: WNI menurut kelahiran dan tidak pernah menerima kewarganegaraan dari negara lain atas keinginannya. Hal ini memungkinkan WNI keturunan dan non muslim dapat menjadi presiden.
Politik Malaysia menganut ketuanan Melayu. Yang Dipertuan Agung adalah pemimpin agama Islam dan pemimpin masyarakat Melayu. Sehingga, tidak mungkin non muslim dan non Melayu jadi pemimpin.
Secara pribadi, Prof. Yusril tidak percaya pada demokrasi dalam konteks masyarakat. India, yang mengklaim diri sebagai negara demokrasi terbesar. Jumlah penduduk buta huruf di India mencapai 71%, dan di Pakistan 73%. Mereka bukan hanya tidak bisa membaca huruf latin, tapi juga huruf Arab dan huruf India. Omong kosong 71% orang buta huruf bisa berdemokrasi. India dikuasai oleh orang-orang dari kasta tinggi, sedangkan Pakistan dikuasai oleh pemilik tanah.
Bagaimana dengan di Indonesia?
Di Indonesia, 2,8 orang menguasai 78% tanah. Semuanya orang Cina. Padahal Bung Hatta pernah bersikukuh kalau mereka tidak boleh menguasai tanah karena tidak pernah berjuang untuk kemerdekaan.
Kini, dengan maraknya serangan fajar dan sebagainya, kemungkinan Cina menjadi pemimpin sangat besar. Mestinya, di Indonesia, presidennya beragama Islam demi menjaga persatuan dan kesatuan.
Di Malaysia, secara sosiologis dan antropologis, jika ada orang Cina yang masuk Islam, maka mereka sudah menjadi Melayu. Karena, masuk Islam berarti masuk secara kultural. Jika ada Cina yang masuk Islam, dia lebur jadi Melayu secara kultural dan politis. Malaysia mengkategorikan Melayu sebagai orang yang bertutur Melayu, menggunakan adat Melayu, dan beragama Islam. Jadi, siapapun yang masuk Islam, maka dia sudah menjadi Melayu.

13 Comments

Komen, Kuy!

%d blogger menyukai ini: