Uncategorized

Kerdilisasi Islam Melalui Fiksi Islami


writingstories.wikia.com
Serius, ini bahasan basi banget. Hari gini masih bahas fiksi Islami? Kayak gak ada tema lain aja yang mendingan buat dibahas. Hahaha, sabar. Ini semua bermula dari baca modul pelatihan FLP Jakarta tahun 2004. Pada masa itu, wajar banget perdebatan muter-muter di urusan fiksi Islami dan gak Islami.
Aku gak pengen jelasin tentang materi yang aku baca. Yang terang, materi itu berhasil bikin aku balik ke masa pas aku masih superculun dan fiksi Islami masih gandrung. Konon, saking gandrungnya, koran Singapura nulis kalo buku-buku dengan tema islami penjualannya bagus.

Definisi Sastra Islami
Sampai masa penurunannya, definisi fiksi Islami yang disepakati semua orang itu belum ada. Si A bilang apa, si B lain lagi. Mereka cuma sepakat, ada unsur Islaminya.
Tapi, rumus yang hampir disepakati semua adalah: fiksi Islami punya nuansa keislaman yang kental. Nuansa keislaman ini bentuknya bisa tokoh akhwat berjilbab lebar atau ikhwan berjenggot dan celana cingkrang, ucapan-ucapan khas Islam, atau juga paparan dalil dan ceramah ustadz.
Urusan tema, rata-rata fiksi berlabel islami itu gak jauh dari cewek atau cowok badung yang tobat, cewek yang dilarang pake jilbab, ikhwan-akhwat ta’arufan, kegiatan ibadah, atau dakwah ke orang-orang lain agama lalu orang-orang itu masuk Islam secara mudah. Di luar itu, konon, gak masuk kategori fiksi Islami.
Baca definisi itu bikin aku ingat sama fanfict yang saya baca tentang Super Junior. Ada satu adegan yang gambarin Siwon baru selesai salat tahajud. Di fanfict lain, gantian Donghae yang tahajud. Fanfict yang ke dua, okelah, masih fanfict biasa. Tapi, fanfict pertama itu temanya yaoi. Doh! Random banget, kan.
Kalo mengacu sama kesepakatan tentang fiksi Islami yang tadi disebutin, berarti fanfict ini udah bisa dikategorikan sebagai fiksi Islami. Iya dong, kan ada adegan salat tahajud, udah ada salah satu unsur, yaitu kegiatan ibadah. Lantas, kemudian ada yang ngeles, Siwon sama Donghae kan bukan Islam, kok salat tahajud? Namanya juga fiksi, boleh-boleh aja mereka dibikin jadi muslim, meski aslinya bukan. Ya, kan? Ayolah, jangan pake standar ganda buat menilai ini. Kita kan bukan Vespa.
Ada satu fiksi lagi. Tokohnya anak band, gak ada adegan dia salat apapun, gak jenggotan, bukan anak Rohis atau LDK, tapi suka marah pas ada yang buang sampah sembarangan. Nah, ini masuk kategori fiksi Islami atau nggak? Kan, jauh banget sama kesepakatan di atas.
Kerdilisasi Islam?
Berat amat, ya? Iya, emang. Tapi, itulah yang terjadi. Kita pake sarana fiksi buat berdakwah, tapi tanpa kita sadar, kita juga yang bikin Islam itu kerdil. Iya dong, kita jadi membatasi karya fiksi yang kita tulis dengan simbol. Kita takut karya kita gak dicap “Islami”, gak “FLP” kalo gak ada simbol-simbol Islam. Gak salah juga kalo pembaca nilai fiksi Islami itu sebatas ada simbol Islam.
Emang, sejak awal kemunculannya, fiksi Islami udah identik sama simbol. Karya-karyanya pun berkutat di situ-situ aja. Kayak yang udah disebutin tadi: orang tobat, akhwat yang dijutekin temen-temennya karena pake jilbab, dakwahin orang non muslim, atau lagi galau terus dateng ke pengajian dan dapat pencerahan. 
Terus, kita latah sampe hari gini. Masih aja terjebak dalam simbol-simbol buat menggambarkan kalau fiksi yang kita tulis itu Islami. Efeknya, orang-orang juga jadi melekatkan Islam sama simbol-simbol itu. Jenggot itu sunnah Rasul. Orang berjenggot berarti orang Islam. Lalu, ada kasus bom yang pelakunya berjenggot, berarti pelakunya orang Islam. Sesimpel itu.
Mungkin emang gak semua orang baca fiksi Islami. Tapi, dengan perkembangan fiksi Islami yang sempet booming banget, dan ada yang sampe jadi film juga, sedikit banyak ikut mempengaruhi labelisasi di masyarakat. Semua baik-baik aja sih, selama gak ada orang yang identik dengan simbol Islam tapi kelakuannya nyeleneh.
Rasulullah nyuruh kita nyampein walau satu ayat. Satu ayat thok. Nah, coba sekarang kita buka alquran. Berapa banyak ayat yang menggambarkan simbol, dibanding ayat-ayat tentang nilai? Aku juga gak tahu juga sih, perbandingannya berapa. Tapi, ayat-ayat tentang nilai itu pasti banyak buwanget. Kita bisa sampein itu di karya fiksi tanpa terjebak sama simbol.
Apa yang gak ada di alquran? Dari mulai tentang fisika alam semesta, pengobatan, hukum, milih pemimpin, adab sama tetangga, adab di majelis, adab anak ke orang tua, sampe yang urusan sama ghaib pun ada. Semua itu bisa kita sampein tanpa terjebak sama simbol.
Cerita tentang Pompeii, tanpa perlu kita bawa ayat tentang zina, itu udah jadi cerita Islami. Cerita Pompeii itu bawa nilai tentang kehidupan dan pergaulan yang serbabebas. Terus, guning Vesuvius meletus, dan habislah mereka semua.
Banyak cerita-cerita yang yang bisa dibuat dari nilai-nilai Islami. Sepanjang fiksi itu mengajak kepada kebaikan dan gak ngajarin keburukan, itulah fiksi Islami, meski tanpa simbol apapun. Sekalipun pake simbol-simbol tapi isi dari fiksi itu ngajarin keburukan, apa masih bisa disebut fiksi Islam?
Misalnya nih, ada cerita tentang orang-orang berjenggot yang ngumpul untuk nyerang orang lain cuma karena kebencian pribadi. Atau, seorang cewek berjilbab yang diceritain ngedukung abis-abisan pemimpin non muslim. Atau juga, kyai yang buka praktik pengobatan tapi pasiennya disuruh bertapa di dalam air tujuh hari tujuh malam. Eh, gak usah jauh-jauh deh, misalnya aja ada cerita, muslimah dengan simbol jilbab tapi suka buang sampah sembarangan. 
Nah, apa yang kayak gitu masuk kategori Islami? Kalo kita sih, mungkin udah gak menganggap itu cerita Islami yang bisa dijadiin tuntunan. Tapi, gimana sama pembaca yang udah terlanjur menempelkan Islam dengan simbol? 
Fokus aja buat nyampein nilai-nilai kebaikan, meski tanpa simbol apapun. Tanpa simbol, karya yang kita tulis lebih mudah diterima sama pembaca yang udah males banget baca fiksi “berlabel” atau gak fanatis sama label. Jangan batesin Islam dengan simbol, karena pada ujung-ujungnya akan mengerdilkan Islam itu sendiri. Mungkin terlihat besar dengan banyaknya peminat fiksi Islami, tapi sebenernya kecil karena Islam cuma dipahami sebatas simbol.
*curhatan orang ngantuk hehehehe 

Komen, Kuy!

%d blogger menyukai ini: