Uncategorized

Kriteria Pemimpin dan Memilih Pemimpin menurut Perspektif Hukum Islam*

*disampaikan oleh Ustadz Bachtiar Nasir dalam seminar nasional berjudul sama di FHUI, 19 November 2015

Kepemimpinan politik adalah kepemimpinan formal, yang menurut surah An-Nisaa adalah siapa yang berkuasa, juga secara ideologis. Ketika ideologis partai Islam tidak berjalan, maka pertolongan Allah tidak akan turun, sebesar apapun bendera partainya.

Teori Alatas mengungkapkan kenapa umat Islam bingung dengan ideologinya dan cenderung menjadi sekuler. Hal itu disebabkan karena umat Islam hanya belajar Islam sampai usia 10 tahun, kemudian belajar ilmu umum sebanyak-banyaknya dan tidak kembali belajar ilmu Islam. Dengan perkembangan zaman yang cepat, mereka menjadi bingung dengan sekularisme.
Tak ada pemimpin muslim yang sempurna, karena tak ada orang yang ma’shum. Tapi, jika dia bisa berpegang pada islam, maka pasti Allah akan tolong.
Soal kepemimpinan ini sudah jelas ada di surah An-Nisaa ayat 59:
Allah menyuruh kita taat pada Allah, rasul, dan pemimpin. Memilih pemimpin adalah satu kesatuan dengan ketaatan pada Allah dan Rasulullah. Jika terjadi perbedaan pendapat tentang pemimpin, kembalikan pada Allah dan rasul-Nya. Tinggalkan opini-opini. Itu jika beriman pada Allah dan hari akhir.
Prinsip kepemimpinan Islam yaitu:
1. Menjaga agama
2. Menjaga akal
3. Menjaga nyawa
4. Menjaga harta
5. Menjaga keturunan
Di kalangan partai Islam, prinsip memilih pemimpin dalam tataran kriteria sudah sama. Tapi, saat memilih orang, terjadi perdebatan. Semua teori tentang kriteria pemimpin tadi runtuh karena ada prinsip: apa yang tidak bisa diambil semuanya, jangan ditinggal semuanya. Ini adalah wilayah abu-abu yang cenderung pada munafik.
Memilih pemimpin adalah domain Islam. Ada tiga hal penting dalam memilih pemimpin, siapapun orangnya:
1. Masalah keadilan
Adil artinya antara kejujuran dan kasih sayang. Orang yang pantas jadi pemimpin adalah orang yang adil pada diri sendiri (tidak fasik, bukan pelaku dosa besar, dan tidak terus menerus melakukan dosa kecil yang sama), dan adil pada orang lain (tidak berlaku zalim)
2. Masalah ketaatan
Hal ini sudah jelas dalam surah An-Nisaa ayat 59. Semua manusia pasti punya kekurangan. Hal-hal yang bisa dimaafkan harus kita terima. Yang terpenting dia memegang ketaatan
3. Prinsip musyawarah
Jika kita tidak bisa memenangkan pertempuran, yang penting kita harus bisa memenangkan peperangan.

Komen, Kuy!

%d blogger menyukai ini: