Lifestyle

Membaca dan Menulis di Zaman Now

Kalau kita ngomongin tentang budaya membaca dan menulis, pasti yang terbayang di pikiran kita adalah membaca dan menulis buku. Dua kegiatan itu lumrah dilakukan buat menambah ilmu, kecerdasan, dan kebajikan. Orang yang ke mana-mana bawa buku, identik sama orang cerdas. Buku adalah jendela ilmu dan jendela dunia. Orang-orang tua bangga kalau anak mereka suka baca, apalagi suka menulis.

Lalu, muncullah perabot kekinian: smartphone.  Semua orang punya smartphone, ke mana-mana bawa smartphone. Di angkutan umum, mal, kafe, sekolah, sampai tempat ibadah, orang-orang pegang smartphone. Hari gini gak bawa smartphone udah kayak orang baru dateng dari abad pertengahan. Tua-muda, semua punya smartphone.

Di balik kekerenannya, smartphone menimbulkan keresahan. Kemunculannya bagai virus yang menjangkiti semua orang, menggerus budaya membaca dan menulis. Kehadirannnya bikin kita jarang lihat orang yang bawa buku ke mana-mana. Yang ada di tangannya cuma smartphone.

Gimana nasib budaya membaca dan menulis kita kalau terus seperti ini? Apa kabar generasi mendatang kalau mereka gak pernah baca buku? Orang tua resah, guru-guru resah. Semua orang resah. Sampai, seorang bapak pegiat literasi bilang di salah satu acara teve swasta, “Anak sekarang kebanyakan main handphone! Harus diberantas!”

Serius?

Konon, keberadaan smartphone sejatinya adalah penyelamat bagi pecinta baca tapi minim modal. Harga buku yang selangit bikin orang banyak yang nunggu bookfair buat beli buku diskonan. Tapi, gak semua wilayah ada bookfair-nya. Sering, bookfair adanya jauh di tengah kota. Butuh modal waktu dan biaya buat ke sana. Para pecinta buku berkantong tebal mungkin gak masalah. Tapi, buat yang berkantong tipis, mending beli paketan data.

“Beli paket data mampu, beli buku gak mampu!”

Kalimat kayak gitu udah sering banget kedengeran. Emang, kesannya jadi kayak orang gak mau pinter dan maunya main internet melulu, main handphone melulu, persis kayak yang bapak-bapak tadi itu bilang. Tapi, tahukah apa yang didapat dari 65k di smartphone  edisi kere-hore?

Dengan paketan internet harga segitu (kartu 3 dapet 15 GB), si Dukun Digital aka Mbah Google siap membawa kita ke artikel apapun yang mau kita baca. Kita juga bebas baca sebanyak apapun buku yang kita mau di Wattpad, pinjem buku di IJak, akses buku di Perpusnas, baca komik, main ke blog, baca taushiyah ustadz, baca karya penulis luar negeri, plus unduh e-Book. Itu belum termasuk pemakaian standar smartphone kayak buat SNS, chatting, dan video call. Istilahnya, kita boleh baca sebanyak apapun yang kita mau sampai blenger.

Urusan menulis, internet menyediakan hal standar yang orang butuhkan: apresiasi. Gak semua orang beruntung bisa nerbitin buku, sekalipun mereka punya karya yang bagus. Penerbitan indie mungkin bisa jadi solusi bagi orang-orang bersaku tebal. Tapi, akan ada persoalan baru, yaitu publikasi dan daya jangkau buku tersebut. Apalagi yang sakunya ala kadarnya atau anak-anak sekolah, kan?

Wattpad

Ini mencengangkan. Viewers-nya udah sampai hitungan juta, likers-nya sampai ratusan ribu. Anggaplah satu orang kasih jempol di semua part. Itupun jumlahnya masih jauh lebih banyak daripada buku-buku cetakan. Cuma orang-orang yang beruntung aja yang bukunya laris sampai ratusan ribu eksemplar. Ini baru di Wattpad, belum lagi blog. Dan dua-duanya, punya cara publikasi yang gampang. Cukup klik, selesai!

Meski secara materi orang itu gak dapat apa-apa, para penulis bahagia dengan jumlah jempol di situ. Itu tandanya kan, karya mereka diterima pembaca. Belum lagi komentar-komentar positif yang diterima langsung dari readers. Semuanya menambah semangat buat terus menerus berkarya positif, karena tahu akan ada readers yang kangen.

Temen-temennya Pisang (saya pernah ceritain sebelumnya), tahu-tahu minta ajarin nulis ke dia. Ini bikin saya dongkol, karena beberapa tahun saya wara-wiri ke sekolah-sekolah buat kampanye Menulis Itu Mudah, tapi malah temen-temennya yang tergugah. Apa hal yang bikin mereka pengen nulis?

Inspirasi dan apresiasi. Mereka punya inspirasi, ide cerita yang siap dijadiin cerita beneran. Mereka pengunjung di blognya Pisang, dan merasa pengen bikin cerita kayak begitu juga. Walhasil, mereka minta ajarin sama si empunya blog, meskipun ujung-ujungnya “dilempar” ke saya. Hal ke dua adalah apresiasi. Mereka lihat komentar-komentar readers di blog itu, dan tertarik. Siapa sih kita yang gak pengen karyanya diapresiasi? Postem aja ada kewajiban BW, demi saling mengapresiasi karya temennya.

Saya yakin, temen-temennya Pisang, kalau disuruh bikin buku yang rada serius, atau novel dengan jumlah halaman standar penerbit, belum tentu mereka mau. Malah, yang ada mereka merasa terbebani karena merasa diri bukan penulis. Minat orang kan lain-lain. Tapi, dengan mereka bikin fanfict-fanfict singkat di blognya, seenggaknya, mereka udah tertarik menulis. Semua berawal dari membaca, berbekal smartphone yang konon dianggap musuh budaya membaca dan menulis.

Zaman udah berubah. Sekarang lagi musim smartphone, bisa jadi nanti di zaman cucu kita trennya balik lagi ke menulis pake batu. Mana kita tahu? Tugas kita bukan memerangi apa-apa yang dihadirkan zaman, tapi berdamai dan menggunakan hal itu dengan semaksimal mungkin buat kemaslahatan, khususnya buat meningkatkan budaya membaca dan menulis.

Apalagi, buat para generasi Y dan Z, yang hidupnya penuh digital. Gak seharusnya kita memusuhi kelakuan mereka yang suka main smartphone, sampai mau memberantas segala, tapi kita ikutin gaya hidup itu buat menanamkan nilai-nilai positif. Karena, maksa kids zaman now buat “balik ke zaman sebelum ada smartphone”  itu nyaris mustahil. Yang ada, malah bikin kesal dua belah pihak. Kitanya yang harus bergerak mengikuti, supaya gak makin jauh ketinggalan sama mereka.

“Ajarilah anak-anakmu sesuai dengan zamannya, karena mereka hidup di zaman mereka bukan pada zamanmu. Sesungguhnya mereka diciptakan untuk zamannya, sedangkan kalian diciptakan untuk zaman kalian.”

-Sabda Rasulullah SAW-

*buat yg nyinyirin gadget tp baca postingan ini pake hp: r u ok?
*pic cr Pinterest

26 Comments

  • Siwilih Nurdayati

    Kita memang tidak bisa membendung semua peradaban yang berubah, sekarang jamannya serba digital. Perlakuan kita terhadap anak jaman sekarang tidak bisa disamakan dengan jaman para bundanya.

  • Eva Arlini

    yang penting penanaman pandangan hidup yang benar ya mbak..sembari didampingi insya allah penggunaan smartphone pada anak akan lebih terarah nantinya..

  • Ipeh Alena

    Saya pun memilih baca ebook kalau buku yang saya ingin baca ternyata tidak begitu ingin saya koleksi. Jadi, ada kesan mantengin smartphone berjam-jam, padahal lagi seru baca ebook :D.

  • qonita sinta

    Sebenarnya lucu juga sih ya Mbak kalau alat langsung dikasih nilai positif atau negatif? Masalahnya kan alat itu nilainya tergantung penggunaannya. Pisau bisa buat motong daging, jadi sop deh. Eh, tapi bisa juga digunakan membunuh orang!

    Nah, sama juga tuh nasib hp dan kawan-kawannya. Bisa negatif kalo dipake main games seharian sampe lupa shalat misalnya. Tapi juga bisa positif kalo dipake untuk hal-hal kayak Mbak bilang itu : baca artikel, donlot buku, nulis, dll.

    Jadi kita sebagai pengguna alatnya nih yang harus bijak menggunakan teknologi zaman now, hehe… 😉

  • Muns Fadh

    Memang kita tidak bisa menyalahkan teknologi, teknologi digital diciptakan untuk memudahkan kita. Bagi yang hobi baca sudah ada ebook dan beragam aplikasi untuk memuaskan hobi tersebut,tinggal bagaimana kita bijak dalam penggunaannya

  • Helenamantra

    aku ketinggalan masalah Wattpad karena ga tahan lama baca lewat smartphone. Tapi pernah dengar orang yang profesinya menulis fiksi di Wattpad. Menurutku itu bagus buat latihan menulis. Selanjutnya ya semoga bisa menjadi e-book atau buku cetak yang dia mendapat manfaat materi dari sana.

    Salam,
    helenamantra dot com

  • Haeriah Syamsuddin

    Waduh, gak bisa menyalahkan kemajuan tekhnologi dong. Bukankah tekhnologi itu seperti pisau bermata dua. Kalau dimanfaatkan dengan baik maka akan sangat berguna. Sebaliknya jika dipergunakan untuk keburukan maka akan membinasakan.

  • Damar Aisyah

    Saya pribadi mengakui, gak tahan lama-lama baca di gadget. Jadi kalau postingan panjang biasanya aku save dulu, dan pelan-pelan bacanya atau bisa jadi beberapa sesi. Tapi kenyataannya gadget bisa memfasilitasi minat baca dan resource bacaan. Jadi, ya gak masalah,sih, kalau membacanya harus lewat gadget. Tergantung kebiasaan masing-masing saja menurutku.Yang penting membaca.

  • Novianti Islahiah

    Suamiku banget ini mba.. udah ada internet buku banyak katanya di internet. Ga mesti harus pegang buku dan capek2 cari. Sebenernya ada postif nya juga sih. Asal kita bijak menggunakan teknologi 🙂

  • Arina Mabruroh

    Kalau aku lebih nyaman baca e-book di komputer, nggak bikin mata sepet, kalau di smartphone selain bikin mata pedih juga bikin pantat dan leher pegel. hehe.

    btw sayangnya masih lebih banyak anak muda yang menggunakan smartphone bukan untuk membaca, tapi main medsos dan bermimpi jadi selebgram 🙁

  • Tatiek Purwanti

    Seperti di blog saya kemarin, si kakak tetap kenal dengan gadget tapi dengan pembatasan yang kami sepakati. Yups, kami tidak setuju dengan pemberantasan tapi penggunaannya secara bijak 🙂

Komen, Kuy!

%d blogger menyukai ini: