Uncategorized

Menemukan, Menimbang-Nimbang, dan Aku Memilihmu

Perhatian: jangan baper sama judul. Ini bukan tentang perjalanan Mblo menemukan seseorang, lalu memutuskan memilihnya buat jadi teman selamanya. Mblo belum sampai tahap itu hehehe. Tapi, ini tentang puisi.

Bingung kan, apa hubungannya antara puisi dengan menemukan, menimbang-nimbang, dan memilih? Apakah tiga kata itu keyword puisi galau? Atau kata sakti dalam puisi? Atau malah puisi yang sudah jadi? Atau….

Bukan. Bukan. Bukan. Tiga kata itu adalah perjalanan puisi.

Curhat Sedikit

Saya bukan penyair. Boro-boro penyair, merangkai kata untuk puisi saja saya bingung. Bahasa lainnya: saya tidak bisa bikin puisi. Dan itulah ketakutan terbesar saya, dari pagi, menjelang masuk kelas Workshop Menulis Puisi, yang diisi Kang Irfan Hidayatullah, mantan Ketua Umum FLP periode 2005-2009 yang juga dosen sastra di Unpad. Semalam, saat Workshop cerita lucu, peserta harus membuat cerita lucu. Kalau sekarang saya disuruh menulis puisi juga, apa kabar?

Lalu saya masuk kelas dengan kegalauan. Jam belum menunjukkan pukul 08.00, masih ada waktu sebelum workshop dimulai. Kang Irfan sudah ada di kelas. Saya dan Mbak Dala memilih tempat di deret ke dua, karena deret pertama sudah penuh. Dalam hati, saya sibuk berdoa supaya tidak disuruh membuat puisi.

Hampir 08.30 waktu workshop dimulai. Kelas sudah penuh, bukan hanya oleh peserta non-delegasi Munas IV FLP, tapi juga peserta umum, karena workshopnya diadakan hari Sabtu. Kang Irfan memulai kelasnya dengan musikalisasi dua puisi. Puisi keren yang berbalut musik easy listening dari petikan gitar berhasil membuat saya lupa akan doa yang saya panjatkan tadi. Saya baru sadar saat musikalisasi puisi itu selesai, dan doa saya terlewat. Saya keplok jidat dalam hati, kena deh, disuruh bikin puisi.

Menemukan

Kang Irfan bilang, kalau kita mau menulis puisi, harus ada pencarian, kita harus menemukan banyak hal dari apa yang ada di keseharian kita. Apa yang kita temukan itulah yang nantinya akan menjadi puisi. Nah, kalau kita mau menemukan sesuatu, kuncinya adalah bertanya.

Eh, mirip jurnalis ya? Kalau bertanya sama orang, okelah, saya jabanin. Secara, semalam jadi host Membuat Cerita Komedi bersama Boim Lebon yang ditayangkan di Rufid Channel. Tapi, hubungannya sama puisi apa, ya? Apa jawaban narasumber yang akan dijadikan puisi? Berarti, saya akan buat puisi dari materinya Bang Boim Lebon?

Dan ternyata… pertanyaan-pertanyaan itu bukan diajukan ke narasumber, tapi ke diri sendiri. Penyair harus banyak bertanya-tanya. Setiap saat bertanya-tanya. Di manapun bertanya-tanya. Di kamar mandi, melihat air, bertanya-tanya. Banyak bertanya, banyak menemukan sesuatu.

Lalu, Kang Irfan meminta peserta menulis pertanyaan terbesar dalam dirinya, karena pertanyaan itu yang nantinya akan jadi puisi. Mau tahu pertanyaan terbesar saya? Yup: kenapa saya tidak bisa bikin puisi!

image

Menimbang, Memilih

Saat bertanya-tanya, kita pasti menggunakan kata-kata. Tapi, bentuknya pasti masih random, masih seadanya apa yang terlintas di benak saja. Kalau kita ingin pertanyaan-pertanyaan itu bermetamorfosis jadi puisi, kita harus menimbang kata-kata yang akan kita gunakan.

Dalam bahasa Indonesia, satu kata bisa mempunyai banyak padanan. Nah, tugas kita adalah memilih kata-kata itu, dan menyesuaikannya dengan karakteristik puisi kita. Seringnya, kita menulis puisi dengan bahasa-bahasa “nyastra”, yang tidak semua orang paham maknanya, lalu menyatukannya dalam kalimat-kalimat tinggi. Padahal, yang sebenarnya dibutuhkan adalah ketepatan kata.

Kalau puisi kata-katanya tidak dipilih, kata Kang Irfan, berarti cuma menuliskan kata-kata, bukan membuat puisi. Hal ini terjadi di banyak orang. Masalah utamanya adalah karena mereka tidak punya wawasan tentang puisi. Meski dia menyebut karyanya puisi dan mentahbis dirinya penyair, tetap saja yang dia tulis bukan puisi. Orang yang menulis prosa tapi dijejer ke bawah supaya kelihatan seperti puisi, tetap saja pada dasarnya bukan puisi.

Gundah, Galau, Merana

Mau tahu bekal apa yang harus dimiliki penyair? Yupz! Gundah. Harusnya Mblo bisa jadi penyair nih, gundah melulu hehehe. Apalagi, puisi tidak selalu tentang romantisme, merayu, dan lebay. Bisa, lah. Kalau harus romantis dan merayu, objeknya juga siapa? Kan Mblo.

Seorang penyair harus memelihara kegundahannya. Sebab, dari kegundahan muncul pertanyaan. Puisi yang keren itu harus melewati kegundahan personal supaya bisa dinikmati orang lain. Bentuknya seperti gelombang tsunami dari pusat gempanya, menyebar ke berbagai penjuru, merasuk ke dalam hati pembaca. Jadi, bukan sekadar dirasa-rasa sendiri, dan dijadikan bahan menggalau lagi. Kalau ada estetika yang didapat pembaca, berarti puisinya sudah sanggup berkomunikasi.

Nah, segalau-galaunya penyair, tetap saja butuh logika untuk memilih kata-katanya. Bukan sekadar enak dan tidak enak, tapi harus berbasis kamus, dan harus nyambung antara satu kata dengan kata lain secara makna.

Nah, ada satu puisi dari peserta yang ditulis di depan dan dibahas sama Kang Irfan. Puisi itu menyandingkan antara kata “keranda” dan “bermain”. Dua kata itu punya feel yang jauh beda. “Keranda” itu identik dengan sesuatu yang seram, tapi “bermain” itu identik dengan ceria dan kesenangan. Pemaknaan katanya jadi bertolak belakang.

Kadang, puisi itu tidak perlu berpanjang-panjang kata. Puisi pendek saja sudah bisa menggambarkan maksud penyair. Malah, puisi pendek, apalagi yang cuma satu kata, bikinnya lebih susah dan lebih menantang daripada puisi panjang. Soalnya, penyair harus benar-benar memilih kata yang tepat untuk menggambarkan semua gundahnya.

Contoh puisi pendek itu karyanya Sutardji Calzoum Bachrie yang judulnya Luka. Puisi itu isinya cuma ‘Ha ha’. Kita-kita yang tidak terlalu paham puisi cuma mikir, itu apa artinya? Apalagi saya yang bukan penyair. Mikirnya, oh dua kata doang mah bisa kali. Tapi…

Biarpun cuma dua kata, tapi ternyata maknanya dalam. Maksud puisi itu adalah kita suka menertawakan luka, baik luka sendiri, apalagi luka orang lain. Feel-nya jadi beda kan, dibanding kalau dijabarkan dengan kalimat panjang?

Itulah puisi. Saat menulis, rasa yang bermain, kegundahan jadi panglima. Setelah itu, logika.

Oh, Ya?

Nah, ini tentang efek. Puisi yang keren itu harus membuat efek “Oh, ya?” ke pembacanya. Semacam, pembaca menemukan sesuatu yang baru dari puisi yang dia baca, ada pikiran-pikiran yang terbuka setelah membaca puisi itu.

Kebalikannya adalah efek “Ya iyalah”. Maksudnya, yang ditulis adalah hal-hal umum yang semua orang juga tahu. Disebut juga dengan aksioma. Jadi, sewaktu orang baca, dia tidak mendapatkan sesuatu yang baru dari puisi itu.

Mentari bersinar di ufuk timur (ya iyalah)
Sinarnya melingkupi bumi (ya iyalah)
Aku terbangun sambil mengucek mata (ya iyalah)
Aku terus mandi dan menggosok gigi (oh, ya? Sumpeh? Bukannya tidur lagi?)

Kira-kira begitu hehehe.

Oh ya, ada satu hal lagi yang harus jadi catatan. Tentang personifikasi, melambangkan apa dengan apa. Ada peserta yang buat puisi judulnya Komodo. Isinya mirip komodo: lidah beracun, gigi berkarat. Tapi, di ujung puisinya, dia bilang komodo menghabisi dia dan keturunannya.

Mana ada komodo yang dendam sampai sebegitunya. Misalnya, saya punya masalah sama satu komodo. Masalah itu cuma antara saya dan si komodo. Tidak ada ceritanya komodo lalu keluar pulau mencari saudara-saudara saya, anak-anak, atau siapapun yang punya hubungan darah dengan saya.

Nah, dia sebenarnya ingin cerita tentang kapitalis, tapi dilekatkan sama karakter komodo. Sampai baris menjelang akhir, memang mirip komodo. Dia cuma bermasalah di ujung. Jadi, se-puisi-puisinya, personifikasi tetap tidak boleh melenceng dari aslinya.

Panjang, ya? Pokoknya workshop puisi kemarin mirip kuliah 3 SKS. Puas. Urusan bisa bikin atau tidak, belakangan. Oh ya, tentang tugas membuat puisi tadi. Alhamdulillah, saya selamat! Sebagian orang menulis puisi di depan, dibahas, dan waktu belajar selesai. Aman….

One Comment

Komen, Kuy!

%d blogger menyukai ini: