Uncategorized

Menyoal Rencana Kedatangan SNSD ke Jakarta, 18 Agustus 2017

Sebelumnya, supaya tau arah tulisannya, saya kasih tau dulu kalo saya SONE. Yang gak berkenan, silakan melipir dari sekarang. Tapi, kalo pengen baca juga, diharapkan tidak meninggalkan bad comment, apalagi ngajakin penwar.
Tulisan ini buat kalian yang gak suka dengan kedatangan SNSD ke Jakarta, 18 Agustus 2017. Saya juga gak suka. Saya paling gak suka SNSD dibawa-bawa ke urusan politik dalam negeri. Mereka gak tinggal di Indonesia, jadi gak tahu segimana ngeselinnya pemerintah. Lain hal sama artis-artis lokal, yang paham dengan apa yang terjadi di sini dan memilih jadi pengikut Pakdhe.
SONE pertama kali tau SNSD mau ke Jakarta itu dari bapaknya Sherina, yang jadi ketua Bekraf. Dia posting foto lagi sama Hyoyeon aka Mba Bule. Trus si Mba Bule juga bilang, kalo bulan depan (Agustus) dia mau ke Jakarta.
Hawanya gak enak banget. Udah berasa kalo isu ini bakalan masuk penggorengan. Bulan Agustus itu kan Hari Kemerdekaan. Ngapain si Mba Bule kemari? Toh, tanggal 15 Agustus mereka juga ngerayain kemerdekaan Korsel. Ya rayain aja sih, kemerdekaan masing-masing. Tapi, ternyata bukan.
Info yang saya terima kemaren, si Mba Bule dan beberapa member lain atas nama pribadi –bukan sebagai grup- kemari buat event Countdown Asian Games, 18 Agustus 2017. Gak masalah kalo gitu. Mereka juga warga Asia, dan berhak untuk ikut meriahin event-event skala Asia.
jelas ya
Sayangnya, gak berapa lama, ada yang kait-kaitin urusan ini ke politik. Beneran dikata Pemerintah ngundang SNSD buat ngerayain Hari Kemerdekaan. Dikata uang rakyat dari penarikan subsidi dipake buat ngundang SNSD.
Urusan sama Pemerintah sekarang emang lagi gak asyik banget. Udah numpukin utang luar negeri, pangkas subsidi, nurunin batas penghasilan kena pajak, eh, pake pengen pake dana haji juga buat bangun infrastruktur.  Udah gitu, pake ngundang SNSD buat 17-an segala saat sebagian besar rakyatnya lagi menjerit kelaparan gegara harga-harga mahal.

Terus, muncul komen-komen negatif tentang SNSD. Orang-orang soleh-solehah yang tadinya cuma bahas politik, beralih jadi bahas SNSD. Mending kalo bahasannya positif. Negatif banget banget banget. Personally, saya gak yakin mereka paham SNSD itu kayak gimana. Cuma lihat di youtube dan googling sedikit, terus komen kasih penilaian.
Yang gak peka sama urusan rakyat kan Pemerintah, kenapa SNSD yang jadi sasaran kebencian? Mereka mana tau kalo di sini banyak orang koplak? Mana tau kalo negara punya utang segambreng? Mana tau kalo harga garam lagi naik? Mereka cuma tau kalo mereka diundang secara profesional buat ngisi acara.
Lagian juga, acara yang mereka datengin itu event Asia. Mereka warga Asia. Salah kalo mereka dateng?
Terus muncul petisi penolakan. Bukan penolakannya yang bikin SONE emosi. Tapi, kontennya. Kata-katanya.
Saya gak pengen menilai sejauh mana dia yang solehah ini tau SNSD. Cukuplah dia dengan pengetahuannya tentang SNSD. Biarlah kami para SONE yang tahu kalo ada member yang dibilang Queen of Donation. Kehidupan mereka terkesan glamour. Tapi, mereka punya anak asuh di Afrika. Cukup kita aja, SONE.
Mereka sering perform pakai rok atau celana pendek. Yah, standarnya negara mereka. Buat orang sini mungkin itu bentuk eksploitasi wanita. Tapi, kita lupa sama artis lokal yang pakaiannya juga gak kalah minim.
Oh iya, kalo dance mereka dibilang pornoaksi, “dance sedemikian panas”. No word can say, lah. Cekidot aja, kebeneran nemu lagu dengan judul sama dan sama-sama live perform dan bukan di stasiun teve.
Ini lagu Baby Baby Duo Srigala
cr: Channel Yutupnya Video Media Center
Adem. Gak termasuk pornoaksi
\

Ini lagu Baby Baby SNSD dari 1st Asia Tour
Dance ini sedemikian panas, mengandung pornoaksi sampe penonton teriak semua. Jangan dibuka!
Ini juga gak termasuk pornoaksi. Konon. Produksi dalam negeri. Cekidot
Waktu nulis tentang Drakor di sini, saya pernah bahas tentang luputnya kita dari tayangan-tayangan berbahaya yang masuk ke ruang keluarga. Kita sibuk bahas keburukan Drakor yang (mungkin pas mereka lihat) nampilin adegan kissing atau minum, yang sebenernya biasa buat mereka. Kita luput dari adegan anak-anak SMP pacaran, gaul bebas, atau ABG main kebut-kebutan yang tayang di televisi kita dan bisa dengan mudah dilihat siapapun penghuni rumah.
Begitu juga sama SNSD. Kita luput sama tayangan dangdut di teve yang durasinya panjang banget dan tampilin dance-dance yang bahkan jauh lebih sensual daripada yang SNSD lakuin, dan siapapun bisa nonton. Kita luput dari aksi-aksi panggung dangdut di hajatan yang biduannya sering mancing-mancing penonton.
Kita luput. Padahal, semua hal itu ada di depan mata kita, di kehidupan sehari-hari, yang kita cuma menggerutu karena keganggu, tanpa bikin petisi-petisian. Mereka yang datangnya kadang-kadang, dirasa akan langsung bisa mengubah seisi bangsa jadi ikut-ikutan kayak mereka, dibanding mereka yang bisa dengan mudah kita lihat atau tonton.
Lalu mereka protes. Apakah ngundang SNSD yang sedemikian negatifnya itu baguan dari revolusi mental yang digembar-gemborin Pakdhe? Mau jadi apa mental orang Indonesia kalau yang diundang artis semacam itu? Mungkin kita musti flashback sedikit. Sedikiiit aja, sebelum beralih ke negara orang.
(3gp aja kualitasnya, biar gak jelas-jelas amat. Bukan di Istana Negara, tapi ini event HUT RI juga) 
Mereka memang gak berbudaya. Karena inilah budaya kita. Lupa. Lupa ngaca.
Dear SONE, mari kita nikmati tuduhan retardasi mental!
FAQ:
Ini protesan orang biasa-biasanya:
Q: Cha, kenapa sih, suka sama SNSD? Kan sebagai muslimah kita harus idolain istri-istri nabi atau pejuang-pejuang muslimah.
A: (ngeles) Doain aja biar saya jadi solehah kayak kalian
Q: Lo malah nulis tentang SNSD. Pas Al-Aqsha diblokade gak bikin tulisan apa-apa.
A: Pas Al-Aqsha diblokade hampir tiap hari saya bikin tulisan tentang itu, tapi di web
Q: Cha, kok belain SNSD mulu
A: Gak ngebelain, cuma ngelurusin. Si Pakdhe juga kalo bener bakalan saya lurusin
Q:  Blogger Muslimah kok sukanya Kpop? Girlband, lagi.
A: (edisi ngeles) kalo sukanya boyband ntar kan gak bisa ghadul bashor #eh
     (edisi ngeles juga) so far, masih sesuai sama taglinenya BM: Gerakan Menuju Solihah. Kan saya  belum solihah, masih menuju ke arah solihah 😀
Q: Cha, SONE dibilang pengen nge-hack akun si Mba itu

A. Sorry, SONE gak main kayak gitu segala. Gak usah ngedrama. Emang dia banyak musuhnya aja kali
Q: Jadi, selama ini lo suka girlband porno
A; Hadeeeh…. Bedanya SONE dengan kalian adalah: kami ngikutin mereka bukan cuma hari ini via google dan youtube. Tapi udah lebih dari lima taun.
Q: Gak ada kerjaan banget sih Cha, ngikutin artis gitu
A: (ngeles) Segala sesuatu ada positif dan negatifnya. Kalian juga ngikutin si Pakdhe kok. Buktinya, selalu tau aja berita tentang dia akakakak. Mungkin sebenernya kita adalah fans Pakdhe yang tertunda, dan sekarang masih jadi haters *ngutip kata Syahrini

One Comment

  • Eva Arlini

    salam kenal mbak faraa.. kalau saya, pertama kali tau berita pak presiden mau ngundang artis korea dari Psikolog, Ibu Eli Risman. Sebagai seorang ibu plus psikolog beliau mewakili perasaan ibu ibu lainnya yang amat khawatir dengan gaya hidup bebas remaja kita saat ini.. keprihatinan beliau bukan cuma sama artis korea itu kok, ya semua hiburan berbau porno yang disukai remaja, yang harus kita akui ikut mendorong remaja bergaul bebas.. saya kira kita bisa memahami hati para ibu yang was was dengan pergaulan putra putri mereka.. moga anak-anak kita jadi sholeh dan sholeha, terhindar dari gaya hidup bebas.. amin ya Allah..

Komen, Kuy!

%d blogger menyukai ini: