Uncategorized

Metromini: Dibuang Sayang

OHari ini (22/12) Metromini mogok. Setelah nunggu lama di depan STIE Muhammadiyah, Jl. Minangkabau, gak ada satu pun bis oren itu yang melintas. Kata tukang ojek, gak ada mobil. Ya sudah, saya jalan kaki ke stasiun Manggarai. Dan benar, begitu melintas terminal Manggarai, yang kelihatan cuma dua Kopaja, tanpa Metromini. Padahal, biasanya mereka rame.

Konon, kata supir bajaj, ada penertiban surat-surat kendaraan. Metromini yang bulukan pun “dikandangin”. Demi kenyamanan penumpang, dalihnya. Pun, Metromini nanti harus integrasi sama Transjakarta. Entahlah apa Metromini mau dihapus dan dialihkan jadi Transjakarta, atau dibuat kayak P20, yang dipakein AC terus tarifnya dinaikin 50%,

Meski sering ugal-ugalan dan bikin penumpangnya banyak berzikir, Metromini termasuk angkutan umum yang asyik. Beda sama Transjakarta yang berhentinya cuma di tempat-tempat tertentu, Metromini bisa berhenti di mana pun kita mau. Jadi, gak perlu jalan jauh lagi ke tujuan. Kalau mau naik pun gak pake ribet lewat jembatan yang panjangnya kadang gak logis (tapi ada). Cukup berdiri di pinggir jalan dan lambaikan telunjuk, Metromini akan mendekat dan berhenti. Simpel, praktis, bayarnya pun pake uang tunai, gak harus beli kartu sekian puluh ribu itu.

Sebuluk-buluknya Metromini, gak ada speedometer, kabel-kabel seliweran di depan supir, dan kadang mesinnya berasap, Alhamdulillah, belum ada sejarahnya Metromini kebakar dengan sendirinya. Kalau gak dibakar orang, Metromini gak terbakar. Beda sama moda angkutan yang diagung-agungin pemprov DKI Jakarta yang bisa seujug-ujug terbakar padahal lagi enak-enak jalan. Kalau begini, yang mana yang lebih perlu ditertibkan?

Saya pribadi dukung Metromini tetap ada di Jakarta. Banyak warga yang perlu. Coba aja lihat, penumpang Metromini tetap banyak. Meski, perlu juga dirapikan dan supirnya ditatar lagi. Yang penting jangan sampai ada yang dirugikan. Jangan lupa, rapikan Transjakarta juga supaya gak ada lagi kejadian petasan berjalan.

Semoga pemprov Jakarta bisa berpikir jernih demi kepentingan warga. Warga yang mana? Ya yang naik Metromini dong!

Komen, Kuy!

%d blogger menyukai ini: