Uncategorized

Nisa Rahmania, Dari Horta ke Heejou

Cantik, muda, penuh semangat, gambaran sosok pengusaha muslimah pemilik usaha tas homemade Heejou. Senyumnya ramah dan hangat saat menyambut rombongan Blogger Muslimah yang berkunjung ke workshop Heejou di bilangan Laladon, Bogor, Kamis, (5/10), dalam rangka Program Eduvisit Muslimah. Dalam suasana santai dan kekeluargaan, ia menceritakan perjalanan dan sejarah Heejou, yang berawal di tahun 2009.

“Waktu itu lagi kampanye Go Green. Saya tertarik dengan isu lingkungan, kurangi plastik, dan pakai tas kain. Saya cari-cari tas kain buat belanja, tapi susah. Di situ saya terpikir buat usaha tas kain,” kata muslimah lulusan IPB ini.

Sebelum merambah bisnis tas, ia dan teman-teman kampusnya sudah mempunyai usaha boneka Horta, boneka berisi bibit rumput dan bisa tumbuh jika terus disiram. Bisnis Horta-nya maju pesat, dengan omzet yang cukup besar. Horta pernah mendapatkan dana Rp. 4,7 juta dari proposal bisnis. Dana tersebut masih utuh, dan Horta punya dana mengendap Rp. 100 juta. Karena sudah lulus dan ingin mencari jalan masing-masing, dana tersebut diserahkan ke orang yang mau melanjutkan usaha. Dana mengendap itu yang dijadikan modal awal Heejou.

“Saya sering lihat orang-orang lewat di depan toko Horta buat cari inspirasi bisnis. Lihat dosen, tampilannya keren, tapi bawa tas dokumen yang nggak banget. Dari situ kepikir bikin tas.”

Berbekal ide itu, Nisa, begitu ia akrab disapa, meminta pegawai Horta yang bisa menjahit untuk membuat sampel tas kotak bergambar bunga, Owl, dan lainnya. 10 sampel itu dipajang di toko Horta. Ternyata, respon pengunjung sangat bagus, mereka tertarik dan ingin memesan. Tas dijual dengan sistem PO, 1 – 2 minggu.

Dari situ, ia berani merekrut karyawan. Produksi Heejou dimulai. Ia mencari sendiri bahan-bahan yang akan digunakan untuk tas ke beberapa sentra penjual bahan, seperti Cipadu, Cigondewah, dan Tanah Abang. Menrutnya, hal paling menantang dalam produksi tas adalah mencari bahan. Untuk urusan desain, ia mengakui tidak bisa menggambar, tapi punya konsep. Penjahitlah yang menerjemahkan konsepnya itu.

image
Proses produksi Heejou

Berbekal database pembeli Horta, ia mengirim broadcast promosi tas bahan kainnya ke pelanggan Horta. Sayang, hanya sedikit yang tertarik membeli. Strategi pemasaran pun beralih ke bazzar-bazzar di kampus. Nisa juga membuat blog tentang tas berbahan kain produksinya, sebagai media promosi. Meski penjualan belum menggembirakan, produksi tetap berjalan.

“Sampai barang ada satu kamar! Tapi, penjualan nggak jalan. Saya mikir, kalau dalam sebulan barang nggak ada yang keluar, udah, pengen tutup aja,” kisah Nisa.

Namun, kondisi itu segera berbalik setelah profil bisnisnya ditayangkan di program “Bosan Jadi Pegawai”, Trans TV. Program tersebut mencari pengusaha yang peduli Go Green, dan mereka melihat blog Heejou. Paska program yang ditayangkan hari Sabtu pada prime time tersebut, Heejou mulai kebanjiran order. Banyak yan’ meminta jadi distributor, padahal sebelumnya ia sudah menawarkan orang-orang untuk menjadi reseller tapi tidak ada yang mau.

image
Tokoh Owl dipilih karena merupakan simbol kecerdasan dan sering jadi lambang pendidikan

Selama “bermain” di pasar tas belanja, pemasaran pasif dan hanya terima order. Pembeli banyak yang memesan bentuk lain seperti tas gemblok atau selempang, dengan desain yang sama seperti tas belanja tersebut. Order-order tersebut ia kumpulkan dan dimasukkan dalam katalog. Sejak 2012, Heejou sudah membuat katalog secara profesional dan lux. Barang-barang yang ada di katalog semuanya tersedia dan siap dikirim ke pemesan, tanpa menunggu waktu lama.

“Sekarang saya udah nggak bikin tas belanja. Jadi merasa bersalah, karena ide awalnya dari tas belanja. Untuk mengurangi rasa bersalah itu, kemasan Heejou pakai tas belanja,” ungkapnya.

image
Tas unyu produksi Heejou

Pada 2012 – 2013, harga bahan baku melonjak tinggi. Alih-alih mengganti bahan dengan yang lebih murah, Nisa bertahan pada idealismenya dengan menggunakan kanvas sebagai bahan utama. Harga tas ikut melonjak hingga 100%, dan berkonsekuensi hilangnya pembeli yang terbiasa dengan harga murah. Heejou akhirnya harus mencari konsumen baru. Tantangan lainnya adalah katalog Heejou yang masih campur-campur antara produk untuk anak, remaja, dan dewasa. Hal tersebut membuat bahasa penjualan di katalog Heejou menjadi tidak jelas.

“PR dari mentor bisnis saya adalah harus dibikin jelas pasarnya siapa, supaya jelas bahasa marketingnya,” jelas Nisa.

Mimpi besar Nisa dari bisnis yang ia tekuni saat ini adalah membangun sekolah. Keinginan itu muncul saat kedua orang tuanya yang berprofesi sebagai guru menceritakan masalah-masalah pendidikan. Meski ia bukan guru, ia ingin memiliki andil dalam dunia pendidikan Indonesia, dengan membangun sekolah.

“Yakin bisa! Lihat orang lain, bisa! Kita harus mensyukuri apa yang kita punya, dan melihat potensi diri sendiri,” tegasnya.

image
Neni Craft erbagi ilmu crafting ke peserta PEM

Saat ini, Heejou memiliki 12 karyawan yang merupakan warga sekitar. Workshopnya berada di sebuah rumah seluas 500 meter, beberapa langkah dari terminal Laladon, Bogor. Rumah seharga Rp. 800 juta tersebut dicicil dari hasil penjualan, dan sebentar lagi resmi menjadi milik Heejou.

Program Eduvisit Muslimah ke workshop Heejou ini adalah yang ke dua, setelah sebelumnya menyambangi kantor redaksi Majalah Ummi. Silaturrahmi ini ditutup dengan membuat craft yang dibimbing oleh Neni Craft.

image
Fotonya punya Uni Via

4 Comments

Komen, Kuy!

%d blogger menyukai ini: