Lifestyle

Peran Fanfict dalam Meningkatkan Minat Baca dan Menulis

Judulnye booo! Ala-ala skripsi banget! Padahal isinya mah apalah-apalah. Ini sebenernya hasil pengamatan aku sejak lama ke Pisang dan kawanannya, juga pas jadi fasilitator Banana Writing School yang isinya juga temen-temen si Pisang. Mereka K-Pop hardcore. Aku gak ada apa-apanya dibanding mereka.

Pisang itu punya blog yang isinya fanfict, di saat aku masih trial bikin fanfict. Jumlah readers-nya, jangan tanya! Tiap dia posting fanfict baru, kayaknya gampang banget jumlah reaaders-nya sampai di angka tiga digit. Lah, blog ini? Cuma gegara bahas SNSD aja kemaren viewers-nya naik. Palingan temen-temennya Pisang juga yang berkunjung.

Dari cerita Pisang soal readers-nya, terlepas dari segimana gedegnya dia sama siders (silent readers), saya ambil kesimpulan, bahwasannya minat baca anak Indonesia itu gak jelek-jelek amat kayak yang sering digembar-gemborin. Mereka emang gak baca di buku, tapi bacanya di blog. Masalahnya, orang kan ngeliat mereka lagi main HP, bukan baca. Si Pisang aja, keliatannya main HP, padahal nulis.

Emang sih, yang mereka baca itu fanfict, bukan buku pelajaran. Tapi, coba deh, kita yang udah dewasa-dewasa ini disuruh baca buku pelajaran terus-terusan. Blenger juga, kan? Mereka udah belajar sekian jam di sekolah. Jadi, menurut aku, gak apa-apa kalau cari-cari hiburan. Daripada main di mall terus godain om-om, kan?

Suatu waktu, Pisang cerita, temennya ada yang minta diajarin bikin fanfict. Dia minta aku yang ajarin temennya, karena dia bisa nulisnya aja, tapi gak ngerti cara ngajarin orang. Buat aku, yang pada masa itu sering wara-wiri ke sekolahan buat kampanye Menulis Itu Mudah, ini tuh amazing banget! Ada bocah yang tanpa dikampanyein, tanpa digugah-gugah, tau-tau pengen nulis dan mau belajar tentang nulis. Aku iyain. Toh, selama ini, aku juga penikmat fanfict.

Lalu Pisang bikin writing school ala-ala dia. Aku, yang masih bahagia, setuju-setuju aja. Yang penting, temen-temennya si Pisang nyaman belajarnya, dan semangat mereka buat nulis senantiasa terjaga. Mereka baru mau mulai nulis. Penting banget buat jaga mood mereka, biar gak mutung di tengah-tengah. Aku pesen ke Pisang, temen-temennya jangan ditarikin bayaran. Kalau mau ada timbal balik, mending minta gambar buat dia belajar editing. Dia setuju.

Temen-temennya tersebar di berbagai macam daerah, bukan cuma warga Tangsel, warga Depok, atau penduduk pulau Jawa. Karena itu dia bikin writing school-nya online. Aku menyediakan diri kapanpun mereka mau mulai belajar, mau tanya-tanya, mau curhat, atau kirim naskah buat di-review. Mereka dateng dengan beragam masalahnya: ada yang baru niat, ada yang mentok, ada yang udah punya draft, ada yang baru punya ide tapi belum tau gimana kembanginnya. Aku jabanin. Mereka kadang lucu-lucu juga, sih.

Rata-rata, mereka nulisnya pakai HP. Bikin tulisannya menjelang mau tidur. Tapi, ada juga yang bikin di saat-saat suntuk di kelas. Hahaha ini mengingatkan aku pada masa lalu, pas saya masih seumuran mereka juga. Kalau bosen di belajar, ya nulis. Cuma nulisnya di buku, biar disangka lagi catet pelajaran dan dicap anak rajin.

Jujur, kalau soal fanfict, urusan plagiasi itu rentan banget. Gak sekali-dua kali ada kejadian author fanfict plagiat novel di Wattpad, atau plagiat karya temennya. Malah, ada juga yang niat banget ketik ulang novel, cuma nama tokohnya doang yang diganti. Belum lagi, ada yang idenya sama, terus saling klaim sebagai pemilik orisinal karya itu. Padahal ternyata, ide tulisan mereka dapetnya dari sumber yang sama, kayak drama atau komik.

Nah, demi menjamin orisinalitas karya mereka, di awal-awal aku udah tanya tentang proses kreatif mereka dapet idenya. Dan, mereka bilang, idenya dateng begitu aja. Eh?! Whats?! Ide dateng begitu aja?! Hiks! Diberkahilah kalian, Dik! Aku masih tertatih-tatih mengumpulkan ide. Blog ini aja kalau gak diikutin ODOP, ya sepi tulisan, karena masalah ide itu. Ini pun suka bingung cari idenya setiap hari.

Dari pengamatan kecil-kecilan ini, aku bikin kesimpulan kalau ternyata fanfict bermanfaat buat meningkatkan minat baca dan nulis. Mereka membaca dan menulis dengan gembira, karena yang mereka baca dan tulis adalah tentang tokoh yang mereka suka. Fine! Dalam konsep Menulis itu Mudah, salah satu cara asyik nulis adalah dengan nulis apa yang disuka.

Mereka udah lakuin itu tanpa perlu saya gugah-gugah. Mereka menikmati membaca, juga menikmati menulis dengan segala pernak-pernik yang kadang bikin ribet. Iya, ribet. Karena, yang mereka tulis itu karya fiksi, yang aturan EYD-nya aja udah lebih ribet dibanding non-fiksi. Mereka menikmati proses belajar. Dan aku ketularan semangat mereka, meski aku kebanyakan malesnya buat update blog.

Oh ya, sebelum Pisang bikin Banana Writing School, dia juga udah punya kelompok authors gitu. Aku baca tulisan-tulisan mereka, dan emang keren. Konon, mereka rata-rata belajarnya otodidak. Aku jadi mikir, harusnya mereka yang dateng ke sekolah-sekolah buat kampanye Menulis itu Mudah. Pengalaman yang mereka punya udah jadi bekal cukup banget buat menggugah temen-temen seumurannya. Lha aku? Kampanyenya doang menulis itu mudah, padahal pas di depan laptop juga bengong. Duh, mudah-mudahan gak kena ayat kaburo maqtan.

Sekarang lagi musim Wattpad. Pisang sih, gak ikutan main di Wattpad. Udah aku suruh, tapi gak mau, dengan alasan plagiasi di situ lebih tingkat dewa, meski jumlah readers-nya lebih menggila daripada di blog. Banyak yang karya-karya author di Wattpad yang diterbitin. Ini positif banget. Dengan dibukuin, media membaca readers juga beralih dari HP ke buku, meski karya itu udah pernah mereka baca. Sedikit-sedikit, para bocah mulai baca buku, yang akan dilanjutkan dengan para emak ngomel karena para bocah bacanya novel, bukan buku pelajaran.

Sampai sekarang, masih ada yang aku pegang buat belajar nulis. Si Pisang juga udah bisa ngajarin temennya, yang pengennya belajar eksklusif sama dia. Timbal baliknya masih tetap gambar-gambar, karena dia juga suka editing gambar. Dia tetap “ngajar”, meski dianya lagi hiatus dan bikin aku kangen tulisan-tulisannya.

Fanfict-nya, K-Popnya, emang punya masa happening. Tapi, kebiasaan nulis dan baca, yang udah mereka sukain lewat K-Pop dan fanfict, gak ada expire-nya. Kemampuan mereka akan terus berkembang selama mereka terus asah.

Dan aku percaya, mereka mulai menikmati membaca dan menulis hal-hal lain di luar fanfict, karena author fanfict banyak yang lagi pada hiatus. Efek baik yang akan terus berkembang, dan semoga semakin berkembang.

Buibu, kalau liat anaknya baca atau nulis fanfict, atau baca novel, jangan dimarahin, ya. Mereka lagi menanam kebiasaan baik buat bekal masa depan.

 

Ide datang dari mana saja, cuma masalahnya mereka mampir atau nggak

*cr gambar: gak tau punya siapa

2 Comments

Komen, Kuy!

%d blogger menyukai ini: