Uncategorized

Perlukah Mood Dalam Menulis?

Banyak yang bertanya-tanya, perlukah mood dalam menulis? Kalau lagi gak mood, gimana? Apa harus melanjutkan nulis atau biarin aja sampai mood dateng lagi?
Mood datang gak dijemput, dan perginya gak diantar. Datang dan pergi sesukanya aja. Apalagi buat orang-orang Aspergers’ yang mood-nya bisa up and down secepat naik trampolin. Haruskah yang kayak begitu “dimanjain”?
Penulis-penulis senior sering bilang, nulis jangan tergantung mood. Ada benernya juga. Kalau terus ngikutin mood, tulisan bisa gak selesai-selesai, dan lama-lama keburu males buat ngelanjutin. Jadi, lagi mood atau nggak, nulis must go on!
Tapi, kalau menurut saya yang jarang-jarang nulis, teori tadi gak berlaku umum. Kalau yang ditulis itu non-fiksi, bener, harus terus nulis kayak gimanapun mood-nya. Karena, tulisan non-fiksi dasar utamanya adalah data. Kalau ada data, mood gak lagi penting.
Sedangkan, kalau tulisan fiksi, mood itu perlu. Soalnya, penulis harus naroh feel di dalam ceritanya, bukan cuma sekadar olahan konflik keren. Sekeren-kerennya konflik, kalau gak disertakan feel, jadinya kering, berasa cuma “main” di permukaan gitu. Sebagai pembaca, buat saya, berasa banget tulisan yang pakai feel dan nggak. 
Kalau lagi gak mood, gimana coba?
Segimanapun gak mood-nya, tetep jangan tinggalin tulisan. Kita bisa pancing mood yang lagi liburan itu buat balik lagi. Caranya adalah dengan baca tulisan yang lagi kita buat itu. Kalau sebelum-sebelumnya kita nulis pakai feel, mood akan terpancing buat balik lagi. Atau, bisa juga dengan baca-baca tulisan orang.
Adakalanya, kita yang menguasai mood, tapi adakalanya mood yang menguasai kita. Kalau kita udah berusaha pancing-pancing tapi tetap gak mood, mungkin kita perlu holiday.

Sesuatu yang datangnya dari hati akan sampai ke hati juga

*pict cr on pict

Komen, Kuy!

%d blogger menyukai ini: