Uncategorized

“Persiapan” Ramadhan

Besok sore, pemerintah ngadain sidang itsbat penentuan awal Ramadhan. Jikalau hilal udah ada di atas ufuk dan bisa dilihat, berarti hari Rabu kita mulai puasa. Tapi, kalau hilal belum keliatan, berarti puasa Ramadhan dimulai hari Kamis dan Sya’ban disempurnakan jadi tiga puluh hari.
Ramadhan adalah bulan yang paling ditunggu semua muslim yang beriman. Gegap gempita penyambutan Ramadhan kerasa di mana-mana. Di media sosial, aneka tips ibadah Ramadhan, tips sehat Ramadhan, resep masakan praktis buat sahur, sampe target pribadi, banyak beredar. Teve-teve nyiarin tradisi-tradisi penyambutan Ramadhan di pelbagai daerah. Di perkampungan, anak-anak TPA pawai. Majelis-majelis ilmu juga bikin acara khusus Tarhib Ramadhan. 
Lalu, apa kabar stasiun paling fenomenal di Jakarta, Stasiun Tanah Abang?

http://www.clipartbest.com/cliparts/9Tz/GeR/9TzGeRXTE.jpeg

Mari kita awali dari Stasiun Depok Baru, Ahad, 24 Mei 2015, kira-kira jam 08.00. Gak biasanya, hari itu banyak ibu-ibu bergerombol. Satu gerombol minimal empat orang. Ada demo panci? Bukan. Mereka nunggu seorang teman mereka yang lagi antre tiket. Butuh kesabaran ekstra banget buat antre tiket pagi itu. Antrean emang pendek, tapi satu orang beli banyak tiket dan bikin dia lama di depan loket. Kalau semua ibu-ibu yang nunggu temannya itu disuruh baris juga, mungkin panjangnya udah sampai ujung stasiun.
Setelah tiket di tangan, mari kita masuk stasiun. Peron arah Jakarta penuh ibu-ibu. Sementara di luar masih banyak, di dalam juga udah rame. Mereka bergerombol juga. Komuter yang datang duluan adalah tujuan Tanah Abang sampai Duri. Dari kaca, keliatan kalau gerbong khusus wanita yang paling depan di komuter itu gak terlalu padat. Pintu terbuka, mari kita masuk setelah dipastikan gak ada yang turun.
Gerbong itu langsung padat. Ibu-ibu yang tadi bergerombol semua naik ke komuter. Pasti tahu dong, hebohnya ibu-ibu kayak apa. Gerbong yang tadinya hening mendadak semarak sama riuhnya mereka. Penuh keceriaan.
“Ada tuh yang sekodinya dua ratus rebu.”
“Ada?”
“Ada. Ntar ikut gue aja.”
“Lo jualnya kes?”
“Utangin. Tiga kali bayar.”
Itu omongan bisnis ala ibu-ibu yang berhasil terdengar di antara dengung dan cekakak yang memenuhi komuter. Terduga, mereka mau belanja pakaian lebaran di Pasar Tanah Abang, dan dijual lagi sepanjang Ramadhan. Bisnis mereka bukan lagi sepotong-dua pakaian, tapi sekodi atau lebih. Setelah komuter berhenti di Stasiun Karet, entah apa perbincangan selanjutnya.
Sekarang, mari kita ke Stasiun Tanah Abang, kira-kira jam 14.30. Seperti biasa, pintu masuk ditutup, dan semua calon penumpang baris di tangga stasiun. Pintu akan dibuka tiap 15 menit, buat mencegah penumpukan penumpang di peron. Di lantai atas, setelah gate masuk, calon penumpang ramai duduk di lantai dengan bungkusan plastik segede gajah di dekat mereka. Entah ke mana tujuannya. Bagaimana di peron 3 arah Bogor?
Eng ing eeeeng… 
dipoto pake kamera Iecha

Begitulah suasananya. Peron superpadat baik untuk jalur 3 arah Bogor atau jalur 2 arah Duri. Meski berhasil sampai di bawah, tapi sulit mencari celah untuk bisa baris paling depan. Ibu-ibu bergerombol lagi, lengkap dengan bungkusan plastik besar. Dijamin, pasti ada pertarungan seru pas masuk kereta. Mau nyerah, udah terlanjur beli tiket.

Tapi, di tengah kepadatan gak manusiawi begitu, ada raut kepuasan di muka ibu-ibu. Ekspresi itu seolah menafikan tentengan yang berat, antrean di pintu stasiun dan peron, juga penuhnya komuter. Pembicaraan mereka kembali seputar bisnis utangan baju lebaran. Konon, mereka adalah kaum yang paling jago buat nangkep peluang bisnis. Daripada ibu-ibu lain harus ke Tanah Abang buat beli baju lebaran, mending juga beli di mereka.

Itulah keriuhan Stasiun Tanah Abang dalam menyambut Ramadhan. Penuh ibu-ibu yang nyiapin stok barang buat mereka jual di bulan Ramadhan. Jadi, gak ada ceritanya mereka ke Pasar Tanah Abang di tengah Ramadhan. Tahu dong, ramenya kayak apa. Udah jauh dari logika banget, deh. Nah, Ramadhan nanti, yang mereka lakukan cuma tinggal jualin barang dagangan itu, di sela-sela ibadah.

Dari sisi bisnis, tentu aja menguntungkan. Barang yang dibeli sebelum masuk Ramadhan, harganya bisa lebih murah dibanding saat Ramadhan nanti. Dari sisi waktu, keputusan mereka belanja sebelum Ramadhan adalah tepat. Di bulan Ramadhan, apalagi menjelang lebaran, Pasar Tanah Abang superpenuh berdesakan. Dari sisi relijius, yah, marilah kita berpikir positif, bahwa mereka belanja sebelum Ramadhan supaya bisa lebih fokus ibadah dibanding berdesakan di Pasar Tanah Abang.

Itu persiapan Ramadhan mereka. Apa persiapan Ramadhan kita?

Komen, Kuy!

%d blogger menyukai ini: