Uncategorized

Polemik Maulidan

Allahumma shalli ‘ala sayyidina Muhammad, wa ‘ala alihi wa ashhabihi wa dzurriyyatihi, wa ummatihi ila yaumil qiyamah.

Sengaja tulisan ini dibuka dengan shalawat, bukan dengan keyword. Apalah arti keyword jika kita masih saling menyesatkan satu sama lain? Hari ini, sejak adzan ashar berkumandang, kita sudah masuk di 12 Rabiul Awwal, hari kelahiran manusia paling terhormat di muka bumi, manusia paling mulia yang dimuliakan oleh Yang Mahamulia, yang malaikat pun bershalawat kepadanya: Rasulullah Muhammad saw. Perayaan Maulid Nabi mulai digelar di mana-mana. Sayangnya, itu adalah perbuatan bid’ah, yang mana setiap bid’ah adalah sesat, dan setiap kesesatan akan masuk neraka.

Ya, itu argumen sebagian orang. Alasan mereka, Rasulullah tak pernah sekalipun merayakan hari kelahirannya, dan tak ada dalil sahih tentang perayaan maulid. Jadi, semua-semua yang bukan berasal dari Rasulullah adalah kesesatan, perbuatan mengada-ada. Jika yang tidak merayakan mempertanyakan dalil sahih yang menyarankan peringatan Maulid, bukankah yang merayakan juga berhak bertanya dalil sahih pelarangan peringatan Maulid?

Sebagai umat Islam, kita dilelahkan oleh hal-hal furu’iyah semacam ini. Padahal, jika kita mau berpikir, masih banyak masalah umat yang harus diselesaikan, dibanding memperpanjang berantem tahunan begini. Masalah umat itu tak akan selesai jika mereka, para alim (atau yang merasa dirinya alim, soleh, dan selalu benar) hanya berkutat di majelis mereka sendiri, dan baru akan keluar setahun sekali, saat perayaan Maulid, untuk bilang perayaan itu sesat karena tak ada dalilnya. Lalu kembali menghilang.

Yang terjadi berikutnya adalah perang bintang. Sebagian orang geram dengan pernyataan itu. Sebab, mereka berkumpul untuk mendengarkan taushiyah, berzikir, dan bershalawat. Lalu, semua itu dikatakan sesat, sedangkan semua yang mereka lakukan ada perintahnya dalam al-Quran. Kerangka peringatan Maulid Nabi-lah yang membuat semua itu dihukumi sesat, tidak bermanfaat, dan akan diganjar neraka. Hm… sejak kapan, menjalankan perintah Allah yang ada di al-Quran akan masuk neraka cuma karena kerangkanya?

Golongan lainnya adalah pendukung orang-orang yang menyatakan perayaan peringatan Maulid Nabi adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah sesat. Dalil mereka, Rasulullah tidak pernah mencontohkan. Jadi, perayaan peringatan Maulid Nabi adalah hal yang mengada-ada (bid’ah), kesesatan yang nyata.

Kelompok sisanya adalah yang bingung. Bukan bingung tentang hukum Maulid Nabi, tapi bingung karena setiap tahun selalu ada perdebatan untuk masalah yang sama, dan berputar di topik yang itu-itu juga. Warga negara lain sudah bisa menginjakkan kaki di Bulan dan sedang merencanakan piknik ke Mars. Tapi, orang Indonesia masih ribut soal Maulid?

Siapa yang diuntungkan? Tentunya orang-orang yang punya maksud buruk terhadap Islam. Perdebatan di publik bisa membuat mereka memetakan mana golongan yang bisa diajak bekerja sama, dan mana golongan yang akan jadi penghalang. Mereka, akan dengan senang hati, menggelontorkan bantuan dalam bentuk apapun kepada pihak yang bisa diajak bekerja sama, tanpa disadari penerima bantuan. Sedikit-sedikit, mereka mulai mengarahkan agar perdebatan semakin runcing dan abadi. Hasilnya? Umat benar-benar akan terpecah.

Yang merayakan Maulid Nabi ataupun tidak, sama-sama punya argumen. Benar atau salah, kita tak akan tahu hingga kelak datangnya Hari Perhitungan. Saling menghormati tanpa memaksakan kehendak adalah jauh lebih baik ketimbang berkeras menunjuk orang lain sesat. Biar Allah yang saja yang menghukumi. Kita, manusia, tak punya hak.

Lihatlah sekeliling. Masih banyak muslim yang salatnya cuma tiga waktu, banyak yang meninggalkan puasa Ramadhan, banyak yang menolak berzakat, pun banyak yang masih percaya pada kekuatan benda dan meminta bantuan pada “orang pintar”. Bukankah semua itu melanggar asas Islam? Tapi, kita terlalu lelah dengan urusan sesat atau tidaknya Maulid Nabi, sehingga tak punya energi lagi untuk bilang mereka sesat. Apalagi untuk melakukan pendekatan dan meluruskan mereka.

Hormati saja setiap pendapat tentang perayaan Maulid Nabi. Biarkan semua orang menjalani apa yang mereka yakini tanpa diusik dengan penghukuman ala manusia yang kodratnya memang selalu merasa benar sendiri. Berhenti berbuat gaduh di media sosial, dan beralihlah ke forum keilmuan. Dudukkan pendapat di tempatnya. Kita pasti bisa mewujudkan umat Islam yang damai dan rahmatan lil ‘alamin, bukan hanya rahmatan lil golongannya. Aaamiiin.

Komen, Kuy!

%d blogger menyukai ini: