Purple Unicorn
Let's Talk

Purple Unicorn

Aku menyebutnya Purple Unicorn. Seorang teman yang aku temui lebih dari sepuluh tahun lalu. Bagiku dia sahabat yang baik. Bahkan mungkin lebih dari baik. 3Karena itu, aku tak peduli dia menganggapku sebagai apa.

Banyak yang berpikir kalau aku berteman dengannya karena tendensi. Mereka pikir tujuan aku dekat dengannya supaya bisa ditraktir, diajak jalan-jalan, atau segala sesuatu yang berurusan dengan materi. Yah, dia memang tajir, dan aku remahan rengginang di kaleng Khong Guan. Tapi, jujur, bukan karena itu aku nyaman berteman dengannya, dan menganggapnya sahabat.

Adalah suatu Minggu pagi, di masjid Muhammadiyah. Dia datang duluan karena harus membawa surat. Aku datang ke dua, karena rumahku dekat. Saat itu, di situ, aku tak punya teman. Aku tak berteman akrab dengan siapapun. Hanya datang untuk belajar, setelah itu pulang. Aku membangun tembok tak kasat mata, yang membatasi aku dengan orang lain. Hari Minggu pagi itu, dia menarikku, berbicara denganku.

Bukan perang dunia, reaktor nuklir, perjalanan ke bulan, atau masalah pribadi. Dia cuma cerita tentang satpam masjid Muhammadiyah yang mempersulit untuk masuk dan pakai tempat di masjid, meskipun sudah bawa surat. Itu saja.

Iya, itu saja. Tapi, tembokku runtuh karena dia. Aku, yang semula sengaja menarik diri dari pertemanan, tiba-tiba merasa dihargai, merasa ada orang yang mempercayaiku untuk berbagi. Aku tak ingin berandai-andai, jika ada orang lain di situ, dan dia tidak berbagi denganku, apakah aku akan berteman dengannya. Tapi, itulah jalanku untuk lebih membuka diri dan mempercayai orang lain.

Purple Unicorn, begitu aku memberinya julukan. Dia memberiku pembatas buku yang dia buat, bertuliskan namaku. Sebuah hal sederhana, tapi mampu membuatku merasa aku punya teman. Karena dia juga aku mulai menumbuhkan percaya diri, yang sebelumnya nyaris aku tak punya. Aku yakin, dia tak tahu kalau apa yang dia lakukan berpengaruh besar untukku.

Lalu, kami punya kesukaan yang sama. Banyak hal seru yang bisa kami bagi, dan obrolan kami tak hanya berputar pada satu orbit. Kami beda fandom. Tapi, kami tak terpancing peperangan ONCE dan SONE. Sebagai SONE, aku tahu ONCE menyebalkan. Tapi, bukan ke dia aku akan fanwar.

Aku tahu, banyak yang tak suka, yang mencemooh kedekatanku dengannya. Aku tak peduli. Kalau mereka ingin masuk dalam lingkungan pertemanan aku dan dia, masuk saja, daripada membicarakan di kejauhan tanpa berani mendekat.

Sekarang, aku memang memiliki banyak teman. Tapi, dia mempunyai ruang khusus. Karena, lewat dia, hari-hariku berubah. Aku bukan lagi orang berwajah datar, yang jarang mengeluarkan suara. Aku mulai aktif mengerjakan tugas-tugas, dan mulai betah berada di lingkungan yang sebelumnya terasa sangat asing untukku. Perubahan dan lompatan besar itu sejatinya dimulai dari hal sangat sederhana, dan mungkin tak sengaja.

Purple Unicorn, begitu aku menyebutnya.

Komen, Kuy!

%d blogger menyukai ini: