Blogging,  Lifestyle

Saat Ngeblog Jadi Rempong

“Blog bisa buat cari duit lho, Cha,” kata temenku, suatu hari.
“Gimana caranya?” tanyaku, meski gak terlalu antusias. Paling juga urusannya sama adsense atau semacamnya. Pisang aja, yang viewers-nya segambreng, gak pernah tertarik jadiin blognya buat cari uang. Katanya, dia gak mau “ngeduitin” temen.
“Bikin blog khusus. Satu blog satu tema.”
Eh? “Berarti kalau aku suka musik, suka makan, suka nulis, bikin tiga blog?”

“Iya. Harus spesifik.”
“Blog ini aja gak bisa? Dipakein kategori?”
“Gak bisa. Harus bikin blog baru. Nanti dibikin yang berbayar.”
Aku langsung ngitung pengeluaran buat tiga blog berbayar.
“Kan nanti dapet duit dari event-event atau review.”
Kayaknya aku mulai sakit kepala.
“Kalau udah ada blognya, harus posting minimal dua postingan sehari.”
Fix, kepala senut-senut. Ini kenapa ngeblog jadi penuh tuntutan, ya? Aku kan ngeblog buat refreshing, berbagi pemikiran, berbagi cerita, ngelancarin nulis, terapi, berbagi kunci jawaban ulangan. Sejak awal ngeblog di zaman Blogdrive, gak pernah ada tuntutan harus ini harus itu. Ngeblog ya ngeblog aja. Update blog kalau lagi main ke warnet doang.
Dan yah, aku menemukan fenomena kalau ngeblog di zaman sekarang makin ribet. Konon, blogger makin banyak, dan persaingan makin ketat. Persaingan apa? Yang jelas bukan persaingan curhat di blog.
“Blognya gak boleh sering-sering kasih backlink. Sekali kasih backlink gak boleh banyak-banyak, tiga aja udah maksimal. Kalau lebih dari tiga, yang lainnya disetting nofoll.”
Apalah lagi itu?
Keasyikan aku ngeblog terusik dengan banyaknya aturan. Belum lagi urusan DA/PA yang sampai saat ini aku gak tertarik buat cari tahu lebih dalam. Biar aja. I just don’t care.
 “Harus bikin konten yang bagus, supaya viewersnya banyak. Kalau banyak viewers, ntar dilirik perusahaan buat review produk.”
Wajar sih, perusahaan nyari yang viewers-nya banyak. Kan, dia mau ngiklan. Tapi, ini mungkin yang dibilang Pisang “ngeduitin temen”. Saling berkunjung jadi kerasa gak asyik lagi. Kunjungan balasan jadi perlu buat naikin viewers.
Temen-temen aku banyak yang jadiin blognya ladang rezeki. Malah ada juga yang hidupnya dari blog. Terserah mereka aja, toh itu bagian dari pilihan hidup. Selama mereka enjoy, ya gak masalah. Dan selama aku juga enjoy, kudunya saya di-terserah-in juga hehehe. Saya memilih ngeblog is writing, training, curhating. Kalau ada yang mau nitip review, ya monggo, tapi aku gak ngudak buat dapetinnya.
Beberapa temen membatasi postingan mereka. Ada hal-hal yang gak boleh ditulis, kayak curhat tentang kekecewaan atau politik karena bisa mempengaruhi penilaian klien. Itu pilihan mereka, dan mungkin aja mereka nyaman dengan hal kayak gitu.
Tapi, aku nggak. Buat aku, menulis adalah bergembira, dan ngeblog adalah bagian dari merayakan kegembiraan itu, meski diudak-udak buat setor link ke ODOP. Pemikiran aku tentang ngeblog masih sama kayak di awal-awal punya blog. Bukannya gak mau ngikutin perkembangan blogger sekarang, tapi aku lebih menikmati menulis dengan cara kayak gini. Yang penting gak bikin pemerintah pengen ngudak, gak ngelanggar UU ITE.
Kalau temen-temen bergembira dan menikmati menulis dengan cara temen-temen, just do it! Karena nulis tanpa dinikmatin berasa beban doang.
Masing-masing kita punya pilihan dalam ngeblog. Mari tetep ngeblog meski berbeda tujuan.
FYI, saya suka main ke blog Pisang dan kawanannya. Mereka gak peduli viewers, yang penting jangan jadi silent readers. RCL, istilah mereka: Read, Comment, Like. Itu doang. Keliatannya mungkin mereka dodol karena gak manfaatin viewers. Tapi, itulah cara mereka berbagi dan menikmati.
 
Antepin aja, jangan diaru-aruin
*curhat wiken
*liat Usagi sama Luna berasa liat Panul sama Jahe

2 Comments

Komen, Kuy!

%d blogger menyukai ini: