Let's Talk

Save Our Generation

Aku tinggal di Indonesia, di mana sebagian masyarakatnya demikian religius, baik dalam keseharian, dunia maya, dan tulisan-tulisan. Karena itu, begitu ada informasi girlband Korea mau tampil di Countdown Asian Games, penolakan keras terjadi, khususnya di sosmed, dengan alasan girlband tersebut merusak remaja dan generasi muda.

Aku mau cerita sedikit.

Suatu akhir pekan, kira-kira tahun kemarin. Dari beberapa hari sebelumnya, di lapangan deket rumah aku ada panggung. Beberapa hari itu aku gak tau panggungnya buat apa, karena gak ada yang hajatan. Pertanyaan aku baru terjawab di akhir pekan itu.

Dari selepas maghrib, musik udah kedengeran. Dangdut, udah pasti. Tukang-tukang dagang, termasuk makanan dan mainan anak-anak juga berjajar. Hari masih sore buat ukuran anak-anak pedalaman Depok, tempat aku tinggal. Masih banyak peluang buat pedagang-pedagang itu, karena umumnya, di mana ada panggung di situ ada anak-anak.

Konon, panggung dangdut itu digelar dalam rangka syukuran ultahnya yang punya kelompok dangdut itu. Entah, dia orang mana. Yang pasti, bukan tetangga, karena tetangga gak ada yang tajir dewa begitu.

Aku males merapat, karena udah pasti penuh. Grup dangdut itu terkenal se-pedalaman Depok, yang hardcore fans-nya bakalan dateng di manapun grup ini tampil. Beda sama bocah-bocah dan remaja sekitar. Dari siang, mereka udah rame kalau mau nonton dangdut. Mereka semangat, ada hiburan dekat rumah mereka. Gak apa-apa liatnya artis lokal banget, yang penting dekat. Kalau mau liat Aliando kan harus ke mal seberang terminal dulu.

Dan para bocah, remaja, ABG, bapak-bapak, kakek-kakek gaul, emak-emak, tumplek blek di lapangan yang lumayan juga luasnya, menikmati lagu-lagu yang dinyanyiin para biduan berbaju seksi dan ketat, yang goyangannya mengguncang lapangan. Seronok, menurut bahasa kita, bukan versi Upin Ipin. Yang pernah liat dangdut saweran, live atau di Youtube, pasti tau kebayang dangdutan itu kayak apa. Mereka gak peduli kalau ada di antara penonton mereka yang masih bocah dan ABG. Entah, acaranya sampai jam berapa, yang jelas pas aku tidur mereka masih rame.

Paginya, udah gak ada suara dangdutan. Depok pedalaman kembali seperti adanya. Yang beda pagi ini cuma ibu-ibu yang punya lapak cireng dekat lapangan. Dia ngomel-ngomel karena di lapaknya banyak ditemuin k**dom. Bukan cuma di lapaknya, tapi di saung dekat lapangan juga, dan beberapa tempat berumput lainnya. Ada miras juga. Entah gimana di lapangannya.

April 2016. Gak berapa bulan setelah dangdutan itu, aku dan teman-teman nonton GG Tour. Ini kedua kalinya aku dan seorang teman nonton GG Tour. Yang pertama, Girls and Peace waktu 2013 di MEIS, dan yang ke dua, Phantasia di ICE BSD. Karena berempat sama adik dan seorang teman lagi, dan jarak dari angkutan umum ke ICE jauh, ortu nganter pakai mobil

Konser GG, sejak di MEIS, masuknya emang gak gampang. Jangankan orang, botol minum aja susah. Harus beli tiket dulu, yang harganya lumayan banget. Beli tiketnya juga harus dari kapan-kapan dan rebutan. Iya, dapet tiket GG Tour itu untung-untungan banget, karena biasanya sold out di menit-menit awal. Jadi, berharap ada yang lupa transfer. GG Tour di ICE ada kebijakan baru: anak-anak diantar orang tua. Aku udah bener, kan? Aku sama adik diantar ortu hehehe.

Aku gak pengen cerita konsernya GG kayak apa. Cek di Youtube aja, udah ada full version perform-nya, yang udah dijadiin DVD.

Aku cuma mau bilang, di perform-nya girlband yang katanya ngerusak generasi masa depan, gak ada yang namanya saweran. Selesai konser, gak ada kon**m bertebaran di lokasi konser atau sekitarnya. Selesai konser, mereka pada jajan. Jajan jab**y? Bukan, lah. Mereka jajan merchandise, yang ori ataupun bikinan lokal.

Dah, gitu aja sih yang pengen aku ceritain. Tadinya, aku pengen juga cerita tentang anak kecil yang nemenin bapaknya nonton lomba nyanyi dangdut di tipi, yang kalau biduannya lagi nyanyi, suka ada yang teriak, “Mang (sebut siapalah namanya), mana goyangannya?”. Tapi, nanti-nanti aja, deh. Seenggaknya, aku tau, standarnya ngerusak generasi muda itu kayak apa.

 

Mirror-mirror on the wall keinjek gajah di pelupuk mata

 
Nyinyiers place
A: Masih, Cha?
C: Mereka juga masih, kok
A: Maksudnya mirror-mirror keinjek gajah itu apa sih?
C: Coba tanya gajah, ngapain dia nginjek mirror
A: Lu cerita boongan doang kan?
C: Main-main kemari, dah
A:  Lu liat Youtube orang saweran?
C: Liat live juga pernah
Sok atulah yang mau nyinyir, di sini aja.

8 Comments

  • Maria Soraya

    duh ngeri juga ya di acara dangdutan gitu berserakan k**dom 🙁 yeah segimanapun sebuah hiburan berdampak merusak anak2, tugas orang tua buat nge-filter atau kasih penjelasan yg baik buat anak

    baidewei, depok mana mbak ? salam kenal ya, saya di tanahbaru

  • Cha Hakim

    Salam kenal, Mba. Saya di Depok Coret :D. Depok Selatan, perbatasan sama Kabupaten Bogor. Itulah, Mba. Kadang, orang mah ngeliatnya yang jauh. Lupa kalo yang deket itu lebih gampang diakses dan menyeramkan heuheu

  • Cha Hakim

    Salam Kenal, Duduk. Di sini, dangdutan hampir selalu ada tiap hajatan. Kadang-kadang, dari tengah malem sampe ketemu tengah malem lagi. Efeknya, ya begitu deh. Sayang, luput

  • Sebut saja Kembang

    Setuju mbak. Kalo masalah itu sih pesta dangdutan juga gak kalah dalam hal mengumbar aurat, ketat2an busana, dan joget2 yg bikin lawan jenis menggila. dan kalau konser grup ternama, apalagi dari luar negeri, udah pasti perlu bayar tiket yg gak murah dan gak bisa sembarang bawa barang. dan nggak memungkinkan juga buat jajan yg 'aneh2' karena selain capek selesai nonton konser, duit di dompet juga udah cekak buat makan minum sama merch.
    Pengalaman ini hehehe

  • Aisyah As-Salafiyah

    Aku ga paham sama 'Mirror-mirror on the wall keinjek gajah di pelupuk mata' nya ka, he..
    Rumahku kebetulan dekat pesantren, Alhamdulillah tidak ada dangdutan dan semacamnya kalau ada hajatan.. 🙂

  • Cha Hakim

    bersyukurlah dirimu. Sayangnya, banyak banget orang yang gak seberuntung kamu, dan kita gak bisa nutup mata dari fenomena itu dengan dalih tempat kita udah steril

Komen, Kuy!

%d blogger menyukai ini: