Uncategorized

Tentang Cerpen

Aslinya ini materi tentang cerpen yang disampaikan sama Mas Palris J. Ippal di FLP Jakarta, Ahad, 7 Juni 2015. Ditulis lagi sama Iecha, berdasarkan poin-poin catetannya, bukan transkripsi materi kemaren. 
foto by Mba Elen

Hal penting yang harus kita tahu kalau kita mau kirim cerpen ke majalah adalah jumlah halaman standar cerpen di majalah itu sekitar 6—8 halaman A4. Kalau kita kirimnya lebih atau kurang, dijamin deh, bakalan ditolak, sebagus dan serapi apapun cerpen yang kita kirim, kalau redaksi udah lihat halamannya lebih atau kurang dari standar, gak bakalan dibaca. Oke? Sekali lagi: GAK BAKALAN DIBACA (caps jebol). Secara logika, mereka kan punya jatah halaman untuk cerpen di majalahnya. Kalau kurang dari jumlah halaman, siapa yang mau nambahin? Kalau lebih, siapa yang mau editin berhalaman-halaman? Mending ambil yang udah sesuai syarat aja, kan?
Kadang tuh ya, kalau udah di depan laptop, mood maksimal, bikin cerpen itu bisa bablas sampe belasan halaman. Nanggung, kan. Kalau jadi novelet atau novel sekalian mah enak, bisa dikirim langsung. Tapi, kalau tanggung gitu gimana? Nah, itu perlunya baca ulang dan edit. Biasanya, kita akan ketemu sama kalimat-kalimat dobel yang maksudnya sama, adegan-adegan yang kayaknya kurang tepat buat di cerpen itu, atau hal-hal yang gak nyambung. Semua itu bisa dipotong-potong dan disesuaikan supaya jumlah halaman cerpen yang kita tulis sesuai sama standar penerbit.
Nah, sebelum nulis cerpen nih, kita harus tahu juga kita mau nulis genre apa. Apa kita mau bikin cerpen dewasa, remaja, atau anak-anak. Nanti ada pilihan genre­-nya lagi tuh. Ada romance, fantasi, atau dongeng. Kalau buat cerpen anak, dongeng dibagi lagi jadi beberapa genre: kerajaan, peri, atau daerah.
Selanjutnya, mari kita mulai menulis. Hal penting yang harus ada di cerpen kita adalah anatomi cerpen. Anatomi ini juga berlaku di karya fiksi lainnya.  Apa aja? Cekidot! (Dear FF authors, monggo dibaca dan dipahami)
1.    Ide
Dalam sebuah karya fiksi, tentu harus ada idenya. Ide itu semacam landasan karya fiksi. Tanpa ide, apa coba yang ditulis? Ide yang menarik itu unik. Gak harus selalu baru, karena semua hal yang ada di dunia ini pernah ada fiksinya.
2.    Konflik
Konflik dalam cerpen yang akan kita buat menyesuaikan dengan media atau majalah yang pengen kita kirimin naskah. Misalnya, kita pengen kirim ke majalah Ummi. Konfliknya pasti tentang ibu-ibu. Atau, kirim ke majalah Gadis. Konfliknya tentang remaja high end. Konflik terbagi tiga macam:
a.                   Inner conflict, yaitu konflik batin,
b.                  Personal conflict, yaitu konflik antartokoh
c.                   External conflict, yaitu konflik tokoh dengan lingkungannya.
3.    Penokohan
Namanya juga karya fiksi, harus ada tokohnya, dong. Sebagai penulis, kita perlu menjelaskan ke pembaca tentang tokoh yang kita gunakan. Tokoh itu harus logis, natural, dan meyakinkan. Untuk itu, kita perlu nama tokoh, rupa atau tampilannya, karakter (protagonis, antagonis, atau pendukung), dan asal-usulnya.
Misalnya, kita pake tokoh baby sitter di Indonesia. Karakternya harus logis. Mungkin ada, tapi jarang banget ada baby sitter yang bahasanya ilmiah. Nah, kita pake yang umum-umum aja. Baby sitter pake bahasa sehari-hari kalau lagi ngomongin bayi, bukan bahasa ilmiah. Bisa sih, kita bilang baby sitternya dulu pernah kuliah kedokteran ambil spesialisasi dokter anak. Tapi, pasti kita butuh space tambahan buat jelasin kenapa dia bisa jadi baby sitter. Di halaman cerpen yang terbatas, penjelasan itu jadi mubazir banget, bikin cerita tambah panjang, padahal tanpa penjelasan itu belum tentu juga 8 halaman cukup buat nampung cerpen kita.
4.    Narasi
Tahu dong, bagian paragraf yang gak ada dialognya di cerpen? Nah, itu namanya narasi. Narasi itu pemaparan, cara kita menggambarkan tentang tokoh, pergerakan tokoh, latar, atau adegan. Porsinya penulis buat menjelaskan itu di narasi, sedangkan di dialog porsinya tokoh.
5.    Dialog
Dalam dialog, yang harus diperhatikan adalah penulisannya. Masalah paling umum di penulisan dialog ini adalah salah peletakan tanda baca. Contohnya gini:
“ karmen kamu menangis ? ”
Padahal, yang bener itu kayak gini:
“Karmen, kamu menangis?”
Dialog selalu dimulai dengan tanda kutip (“) dan huruf kapital, diakhiri dengan tanda kutip lagi. Setiap ganti tokoh yang ngomong, harus ganti paragraf. Ada yang nulisnya gini:
“Karmen, kamu menangis?” tanya Joshia. “Nggak, kok,” jawab Karmen.
Padahal, yang bener itu begini:
“Karmen, kamu menangis?” tanya Joshia.
“Nggak, kok,” jawab Karmen. Ia berjalan ke luar kelas.
EYD dan tata bahasa ini emang perlu dipelajarin karena teknis banget. Editor suka ilfil kalo lihat naskah yang EYD-nya berantakan. Baru paragraf awal tapi EYD udah berantakan, editornya suka gak mau baca. Istilahnya, kalau itu naskah bagus dan lolos, editor kudu susah payah benahin lagi satu-satu EYD-nya. Mending cari yang udah tertib sekalian, kan. Cara belajar EYD bisa pake buku panduan yang banyak beredar di toko buku dan harganya ramah kantong, atau bisa juga dengan lihat di buku dan majalah yang EYD-nya bagus dan terstandarisasi.
6.    Point of View
Bahasa simpelnya: sudut pandang. Dari awal, harus jelas kita pake PoV siapa, dan konsisten dari awal sampe selesai. Kalau gak konsisten, dijamin, yang baca bingung. Misalnya nih, kita bikin cerpen pake PoV 1. Kita bercerita dari sudut pandang kita, apa yang terjangkau sama panca indera kita. Tapi, tahu-tahu di tengah cerpen ada adegan teman kita ngomong dalam hati. Gak konsisten, kan. Kalau kita jadi tokoh “Aku”, kita gak akan bisa tahu apa yang diomongin teman dalam hatinya. Kecuali, tokoh “Aku” itu cenayang.
PoV ada tiga jenis:
a.                   PoV 1: Aku, saya,
b.                  PoV 2: Kamu, kalian (Tokohnya ini diganti pake kata “kamu”),
c.                   PoV 3: Sebut nama tokoh. Penulis jadi pencerita.
7.    Plot
Plot adalah badan cerita. Dalam plot ada awal (kalimat pengantar, pengenalan tokoh), tengah (konflik), akhir (ending). Pembagian halaman yang proporsional adalah: halaman 1—2 buat awal, halaman 3—6 buat konflik, halaman 7—8 buat  ending.
Tugas penulis di awal adalah bikin kalimat pertama yang editor mau baca. Bocoran aja, editor itu orang yang perfeksionis, sombong, gak mau berbaik hati, gak tolerir kesalahan. Karena itu, kalimat pembuka harus sempurna.
8.    Alur
Alur adalah bagaimana cara kita mengemas “gelombang” cerpen, apakah akan datar-datar aja, atau bergelombang kayak air laut. Alur yang ideal adalah yang bergelombang, yang begitu satu masalah kelihatannya udah selesai, terus ada masalah baru lagi. Kalau buat novel, alur bergelombang ini bisa seru banget karena memungkinkan untuk banyak konflik.
9.    Latar
Latar terbagi dua; latar tempat dan latar waktu. Kita harus bisa meyakinkan pembaca tentang latar yang kita pake. Kalau misalkan kita bikin latar di suatu kota atau suatu negara, kita harus bisa gambarinnya, kalau bisa sampe detil. Mungkin, kita emang belum pernah ke tempat yang kita jadiin latar. Tapi, kita punya Mbah Google. Kita bisa juga cari informasi tentang tempat itu di perpustakaan.
Hal lain yang juga menunjang cerrpen kita adalah gaya bahasa. Gaya bahasa adalah identitas penulis. Gak bisa dipelajarin di manapun, dan gak ada teorinya. Tiap-tiap penulis punya gaya yang beda-beda. Coba nih, bandingin antara karyanya Dee Lestari sama Habiburrahman el-Shirazy. Pasti beda banget, kan? Sebagai penulis pemula dan pemalu, seringnya gaya bahasa kita ter-influence dari karya yang kita baca. Tapi, lama-lama, kalau kita udah terbiasa nulis dan bikin cerpen, gaya bahasa kita ketemu sendiri.
Mau tips nulis supaya cerpen kita jadi makin keren? Cekidot!
1.       Hormati editor, ikutin peraturan dari mereka. Misalnya aja, jumlah halaman, jenis font, ukuran font, jenis kertas, dan spasi. Mereka nulis peraturan mereka di majalahnya, kita tinggal baca aja dan sesuaikan dengan cerpen yang mau kita kirim.
2.      Bikin cerpen dengan maksimal, karena di era digital sekarang saingan makin banyak, tapi media makin sedikit.
3.       Kita boleh bikin sesuatu yang beda di cerpen kita, tapi di idenya. Jangan malah tampilannya yang dibikin beda, pake pita warna-warni, dikasih gambar ini-itu, fontnya digaya-gayain, atau diwarnain. Editor malah ribet bacanya.
4.     Prinsip kalimat pembuka adalah menggerakkan tokoh. Boleh bikin kalimat pembuka dengan kalimat langsung, tapi yang menghentak, jangan yang basa-basi doing.
5.       Bikin ending sesuai kebutuhan. Kita bisa bikin ending yang menggantung atau yang gak disangka-sangka pembaca.
6.       Bikin kalimat yang efektif. Pendek tapi mengena.
7.      Sekalipun yang kita tulis itu fiksi, tapi data harus valid. Ada cara-cara menyampaikan data, misalnya aja disebar di beberapa bagian cerpen. Yang penting, penyampaiannya gak kayak jurnal ilmiah.
8.      Rentang waktu tunggu cerpen yang udah dikirim ke majalah itu tiga bulan. Setelah tiga bulan, etikanya, kita kirim e-mail penarikan cerpen kita dari majalah itu. Baru kirim lagi ke majalah yang lain. Jadi, kalo someday cerpen kita dimuat di majalah yang kita kirim pertama, berbarengan sama majalah yang kita kirimin berikutnya, kita gak salah. Toh, kita udah kirim e-mail penarikan cerpen itu.
9.     Satu cerpen gak boleh dikirim ke beberapa media sekaligus. Kalau misalnya terjadi dimuat di dua media bersamaan, penulisnya bakalan di-blacklist sama media itu.
10.   Sebenernya, editor itu males baca e-mail atau cerpen yang dikirim pake e-mail. Puyeng juga sih emang, kalo ngeliatin komputer terus, kan. Jadi, selain cerpen yang kita kirim pake e-mail, kirim juga printout-nya. Kirim e-mail sebaiknya tiga kali. Ya siapa tahu aja kan masuk ke spam, atau gak kebaca karena ketumpuk-tumpuk e-mail lain. Kirimnya ke majalah yang sama, ya. Jangan e-mail-nya dikirim ke majalah A, printout-nya dikirim ke majalah B.
11.    Perhatiin hubungan kerja dan integritas antara penulis dan media. NGEJIPLAK itu MASALAH AKUT BUWANGET  di kepenulisan.
12.   Jangan lupa kasih nomer halaman. Kalau redakturnya baca di komputer, mungkin gak masalah. Tapi, gimana kalau dia bacanya setelah di-print? Tanpa nomer halaman, bisa aja ada halaman yang ketuker dan adegannya jadi gak nyambung. Hal ini makin parah kalau yang kita kirim itu novel.
13.  Perhatiin “feel” tiap majalah. Contoh nih, meskipun sama-sama majalah remaja, tapi Gadis sama Kawanku beda “feel”. Gitu juga majalah Femina, Nova, Ummi, Abi.
14.     Menulis harus banyak membaca, karena membaca memperbanyak wawasan dan kosakata.
15.    Kalau cerpen udah jadi, jangan dikasih ke temen dan suruh dia baca. Langsung aja kirim ke majalah. Sudut pandang kelilmuan temen kita dan redaktur pasti beda. Kata temen kita keren, kata redaktur belum tentu. Begitu juga sebaliknya.
16.    Naskah yang ditulis dengan feel maksimal penulisnya akan diingat pembaca dan editor, lekat di benak, dan ditunggu-tunggu lagi karya berikutnya.
Nah, berhubung Mas Ippal sering ikut lomba dan menang, ada tips juga buat temen-temen yang mau ikut lomba, selain urusan teknis naskah yang tadi udah kita bahas.
1.     Idenya unik. Ide yang unik itu yang gak kepikiran sama orang lain atau gak pernah dimuat di majalah yang lagi ngadain lomba itu.
2.     Penyampaiannya unik. Kalau idenya biasa, penyampaiannya harus unik biar cerpen lomba kita gak Cuma masuk kategori standar banget
3.     Endingnya unik. Ending unik itu kayak yang tadi udah dijelasin, gak bisa ditebak pembaca.
Teorinya udah banyak, nih. Kapan kita mau mulai nulis? Yuk, mulai dari sekarang!
“Menulis itu gak gampang.  Jadi gampang kalau konsisten.
Gampang, tapi kalau gak niat-niat banget, ya udah.”
-Palris J. Ippal-

2 Comments

Komen, Kuy!

%d blogger menyukai ini: