Event

Ummi: Tegar Menerjang Badai

pict by Uni Novia Syahidah
Judul di atas seketika terlintas dalam pikiran, sewaktu Mbak Meutia Geumala menceritakan tentang “nasib” Ummi sebagai media cetak, pada peserta Program Edukasi Muslimah, yang diadakan oleh Blogger Muslimah.
Zaman yang serba digital sekarang ini telah mengubah perilaku membaca orang-orang. Kalau sepuluh tahun lalu kita masih melihat orang-orang menenteng majalah, koran, atau buku, sekarang yang kita lihat orang khusyuk dengan smartphone-nya. Apa yang tidak ada dalam kotak berukuran 5 inchi ini? Artikel-artikel menarik, berita terbaru, bahkan buku-buku pun juga ada di situ. Imbasnya, pengusaha-pengusaha media cetak terpaksa menyudahi bisnisnya. Pilihannya cuma dua: mengalihkan medianya dalam bentuk daring, atau mengubah core bisnisnya sekaligus, alias memasukkan medianya dalam kotak sejarah.

Awal tahun 2000-an adalah masa keemasan bagi media bernuansa Islami. Pangsa pasar muslim begitu menggiurkan, seiring ghirah keislaman yang makin meningkat. Di lapak-lapak koran, dapat kita jumpai dengan mudah majalah-majalah dengan nama Islami dan gambar sampul yang menyejukkan. Beberapa di antara majalah itu mengkhususkan diri membahas tentang kemuslimahan. 
Ummi adalah salah satu di antara majalah-majalah tersebut. Terbit pertama kali pada tahun 1989, digawangi oleh para bapak yang peduli akan pentingnya bahan bacaan yang bermanfaat untuk muslimah, khususnya kaum ibu. Semakin tahun berbilang, Ummi semakin gemilang dengan oplah 150.000 eksemplar untuk setiap edisinya. Distribusinya telah menjangkau seluruh Indonesia. Banyaknya media-media sejenis tak menggoyahkan kedudukan Ummi di hati pembacanya. 
Hingga era digital itu datang. Media-media cetak bertumbangan. Menurunnya oplah akibat banyaknya orang yang beralih ke media daring, tak diiringi juga dengan penurunan biaya produksi. Sebagian berubah format menjadi digital, sebagian lagi terpaksa tinggal kenangan. Majalah-majalah Islami, juga majalah khusus muslimah perlahan-lahan lenyap dari garis edarnya. 
Tapi, tidak dengan Ummi! Meski mengalami penurunan oplah, namun majalah ini tetap menunjukkan eksistensinya. Dengan tim redaksi yang hanya lima orang, Ummi tetap hadir dan mendapat tempat di tengah-tengah para pembaca. Survey AC Nielsen mengatakan, 1 eksemplar majalah Ummi dibaca oleh 5 orang. Artinya, jika oplah majalah Ummi 30.000 eksemplar, maka pembaca majalah Ummi sebenarnya adalah 150.000 orang.
“Ummi adalah media dakwah, semua yang ada di sini berlandaskan niat awal. Ummi juga mempunyai pembaca yang loyal,” begitu kata Mbak Meutia Geumala, saat ditanya tentang apa yang membuat Ummi kuat bertahan di saat media lain sudah menyerah.
Keinginan yang kuat untuk selalu menebarkan manfaat, berimbas pada keseriusan tim redaksi untuk menghadirkan bacaan-bacaan bergizi tinggi di tiap edisinya. Seluruh tema yang akan dihadirkan dalam setahun, disepakati dalam rapat tahunan, dan dituangkan dalam TOR. Tiap-tiap redaksi memiliki tanggung jawab rubrik, yang mengharuskan mereka berjibaku menulis, mencari dari narasumber, juga menyeleksi tulisan-tulisan yang dikirim pembaca. 
Tim yang bertanggungjawab pada sampul majalah pun tak kalah keras perjuangannya, terlebih, jika edisi tersebut menjadikan artis sebagai model sampulnya. Membuat janji bertemu dengan artis bukan perkara yang mudah. Selain harus melalui manajer, jadwal artis dan deadline yang tak sejalan juga menjadi kendalanya. 
Untuk memudahkan proses wawancara dan pemotretan, tim model sampul ini mendatangi rumah orang yang akan menjadi model sampul. Wawancara dilakukan selama dua jam, dengan seorang tim mewawancarai ibu, dan seorang lagi mewawancarai bapak. Angkat-angkat bangku dan menyapu lantai demi mendapatkan spot foto yang bagus, merapikan pakaian dan make up model, bahkan menggoda anak kecil agar mau tersenyum saat difoto, juga menjadi bagian tugas mereka. Model sampul dipilih dari tokoh publik yang muslim, yang perempuan memakai jilbab, tidak ada gosip miring, menginspirasi banyak orang, dan sesuai dengan tema yang dibahas.
Pict dari alamat-redaksi.blogspot.com
Proses untuk sampai ke tangan pembaca masih berlanjut. Setelah semua materi terkumpul, tugas layouter untuk menyusunnya menjadi dummy. Setelah jadi, tim redaksi meneliti kembali dummy, supaya saat dikirim ke percetakan sudah tidak ada kesalahan sekecil apapun. Pihak percetakan pun membuatkan dummy untuk dikoreksi, sebelum dicetak dalam jumlah banyak. Selesai? Belum! Masih ada bagian distribusi yang bertugas mengirimkan majalah Ummi, agar tiba dengan selamat dan tepat waktu di tangan pembacanya.
Dampak merajanya digitalisasi apapun tak selamanya positif. Pembaca setia merasakan kesulitan untuk mendapatkan majalah Ummi, karena agen majalah terdekat telah beralih usaha ke bidang lain. Semakin menyusutnya jumlah nama media yang dapat dijual di lapak agen, tentu berpengaruh pada sirkulasi keuangan mereka. Tak sedikit dari mereka yang memutuskan berhenti jadi agen. Namun, pembaca loyal selalu punya cara agar tetap dapat membaca majalah kesayangannya. Mereka tak lagi mencari agen, tapi memesan langsung ke bagian sirkulasi.
Tetap eksis dalam bentuk cetak bukan berarti Ummi mengabaikan tuntutan zaman. Saat semuanya serba digital, serba daring, Ummi pun hadir dengan edisi daring untuk menjangkau pembaca yang menginginkan informasi yang lebih singkat dan cepat. Saat ini, pengunjung website Ummi telah mencapai angka jutaan, begitu juga dengan jumlah penyukanya di Facebook. Artikelnya ramai dibicarakan dan dibagikan. Setiap 30 menit, muncul artikel baru di fanspage. Yang menjadi pertanyaan berikutnya adalah dari mana Ummi Online mendapatkan artikel yang begitu banyak?
“Kami punya komunitas Ummi Menulis untuk mencari tulisan,” ungkap Mbak Shinta Dewi, yang dulu dikenal sebagai Syamsa Hawa, penanggungjawab Ummi Online.
Artikel di Ummi Online yang banyak membahas tema sehari-hari, tentu menarik minat siapapun untuk ambil bagian sebagai penulisnya. Berbeda dengan majalah, yang pembahasannya mendalam, artikel untuk web dibahas dengan ringan dan lebih banyak berupa tips atau poin-poin. Waktu tunggu untuk diterbitkan pun tidak terlalu panjang. Penulis yang mengirimkan tulisan untuk Ummi edisi cetak pun mendapat kesempatan tulisannya dimuat di versi daring, jika belum mendapatkan tempat di versi cetak. 
Baik Ummi edisi cetak atau edisi daring, memiliki tujuan yang sama, yaitu menebar manfaat. Semangat itu terasa di setiap ruang kantor redaksinya yang sangat homy, dengan aneka warna cat dinding yang berbeda untuk tiap divisinya. Aura keislaman pun sangat terasa dari nasyid-nasyid yang diputar.  
Dan, bukan hanya melalui media, aksi menebar manfaat juga dilakukan secara langsung melalui program wakaf Al-Qur’an. Hanya dengan berdonasi Rp. 150.000, pembaca sudah dapat berwakaf sebuah Al-Qur’an dan mukena tatuis, untuk mereka yang berada di daerah minim. Manfaat majalah Ummi pun terasa, bukan hanya bagi mereka yang membaca majalahnya, tapi juga orang-orang yang terbantu dengan adanya program tersebut.
Ummi telah berhasil membuktikan ketegarannya menghadapi badai yang membuat banyak media guncang. Niat berdakwah dan menebar manfaat yang tulus, sampai ke hati para pembaca hingga mereka menjadi pembaca yang loyal, tetap membaca majalah meski ada kemudahan untuk membaca versi daringnya. Eksistensi Ummi sebagai majalah muslimah tak diragukan lagi. 28 tahun bukan waktu yang singkat untuk perjalanan sebuah media. Kedepannya, akan ada tahun-tahun menakjubkan, dan perjuangan untuk bertahan akan terasa indah untuk dikenang. 
Allahu musta’an!
Pict by Mbak Helena

2 Comments

Komen, Kuy!

%d blogger menyukai ini: