Upacara 17 Agustus Malam Hari - Superduper Spesial
Let's Talk

Upacara 17 Agustus Tengah Malam

Galz, kemarin ada yang ikut Upacara 17 Agustus? Alhamdulillah, kemarin mentari bersinar ceria, kayaknya dia juga semangat ikut upacara. Tapi, tetap dong, kita pantang mengeluh. Secara, para pahlawan dulu gak ada ceritanya ngeluh dalam berjuang. Coba kalau ada pejuang yang bilang, “Duh, panas banget! Ntar aja deh perangnya, nunggu adem,” mungkin lain lagi cerita Indonesia saat ini.

Aku punya cerita tentang upacara. Ini mungkin upacara paling berkesan buat ane, selain upacara di Istana Negara zaman masih sekolah. Kisah ini terjadi pas aku masih jadi warga Jakarta, belum hijrah ke Depok (baca: kegusur)

Di mana-mana, yang namanya upacara Hari Merdeka itu pagi-pagi atau agak siang. Di satu RT yang aku datangin, upacaranya malam, tengah malam di detik awal 17 Agustus.

*****

Malam, 16 Agustus, selesai acara Renungan Kemerdekaan, aku ikut Babe dan staf RT keliling ke RT-RT lain di wilayah RW 06. Beberapa RT ada yang masih sunyi senyap karena lagi renungan, beberapa sudah mulai makan-makan. Malah, ada RT yang sibuk finalisasi persiapan lomba besok hari. Lalu, sampailah ane dan rombongan di RT 013, RT paling ujung di RW 06.

Belum ada keriuhan yang berarti. Gak ada renungan, apalgi makan-makan. Baru ada beberapa ba[ak-bapak yang lagi sibuk atur sesuatu. Ada juga ibu-ibu yang menata meja prasmanan. FYI, tempat kumpul warga RT 013 ini adanya di pertigaan jalan, karena mereka gak punya lapangan. Aku perhatiin bapak-bapaknya. Mereka lagi baris-berbaris, kayak upacara.

Then, ada kakek-kakek mendekat. Beliau kakeknya teman SD aku. Awalnya anek kira akan dimarahin karena nonton baris-berbaris dari jarak dekat. Ternyata, beliau ngajak ane ikut upacara. Asli, aku excited. Secara, sejak lulus sekolah, aku gak pernah ikut upacara. Apalagi, ini upacara tengah malam, saat tanggal berganti. Pasti ada sensasi berbeda dibanding upacara di bawah sinar mentari.

17 Agustus baru berjalan beberapa detik waktu upacara dimulai. Warga RT 013 dan pengurusnya rapi-rapi. Petugasnya juga rapi, pakai seragam putih-hitam. Aku jadi gak enak hati. Secara, aku cuma pakai kaus, mesi bawahnya rok batik. Tapi, ya sudah, ikut saja.

Apa yang ada di upacara siang, ada juga di upacara malam. Ada menyanyikan lagu Indonesia Raya, ada mengheningkan cipta, ada hormat komandan. Yang gak ada cuma mengibarkan bendera, karena benderanya sudah berkibar duluan di tiang bambu tanpa kerekan. Yang jadi Komandan Upacara sekuriti SMA setempat. Kakek temanku jadi Pembina Upacara.

Upacara tanpa amanat Pembina Upacara itu mimpi. Untung juga upacaranya tengah malam, jadi gak perlu kepanasan selama dengar amanat Pembina. Di amanatnya, beliau berpesan supaya warga gak gampang diprovokasi dan selalu menjaga persatuan dan kesatuan. Maklum, wilayah situ sering jadi medan tawuran, meski yang tawuran bukan penduduk setempat.

Selesai upacara, aku kepo, dong. Penasaran banget, kenapa ada upacara segala. Secara, di RT lain adanya renungan dan makan-makan.

Menurut staf RT 013 yang ane temui, ternyata upacara Hari Kemerdekaan malam-malam itu sudah dilaksanakan bertahun-tahun. Banyak atau sedikit yang ikut, upacara tetap berlangsung. Instruksi upacara ini semacam request khusus dari kakek temanku.

Ternyata beliau mantan pejuang kemerdekaan dan satu-satunya yang tersisa. Selain itu, beliau juga pernah jadi Ketua RT 013. Setelah lengser, beliau jadi Dewan Penasehat RT, sekaligus orang yang dituakan. Perintah yang tak terbantahkan. Gak ada yang berani menolak request itu.

Kakek temanku, orang yang paling dituakan, dihormati, dan disegani benar-benar kelihatan senang setelah upacara. Ah, mungkin beliau ingat teman-temannya yang dulu berjuang bareng demi memerdekakan Indonesia dari penjajah. Entah kenapa, aku ikut senang lihat ekspresi kakek temanku.

Sayang, itu sekali-kalinya ane ikut upacara tengah malam. Tahun berikutnya, aku sudah jadi warga Depok.

*****

Agustus, tahun pertama ane di Depok. Aku dan Babe berencana datang lagi ke RT 013 buat ikut upacara malam. Rencana itu dibuat sejak masuk bulan Agustus. Kesyahduan dan sensasi upacara tengah malam tahun lalu susah lenyap dari benak aku dan Babe. Apalagi ekspresi kakek temanku itu, rasanya benar-benar susah dilupakan.

Tanggal 12. Staf RT Babe di Jakarta telepon. Bukan mengajak upacara, bukan juga menawarkan tempat menginap selesai upacara. Dia bawa kabar, kakek temanku sudah berangkat menyusul teman-temannya yang dulu sama-sama berjuang. Beliau wafat di bulan yang sakral buat beliau, saat peringatan Hari Kemerdekaan tinggal menghitung hari.

Meskipun aku gak terlalu dekat sama beliau -aku baru kenal waktu upacara tahun lalu-, tetap sana ada rasa sedih. Entah apa upacara tengah malam di RT 013 masih akan ada atau diganti renungan, karena kakek teman aku yang request upacara sudah tidak ada.

Yang pasti, kenangan tentang upacara tengah malam di RT 013 akan selalu ada di benak warga RT 013, juga aku dan Babe. Itu akan jadi cerita yang diwariskan ke anak cucu.

Kakek teman aku, orang yang jadi inspirasi di beberapa tulisan aku, semoga beliau bahagia di sana bersama teman-teman seperjuangannya.

Komen, Kuy!

%d blogger menyukai ini: